Senin, 18 November 2019

Meski Sudah Sembuh, Ini Alasan Flu Bisa Cepat Balik Lagi

Penyakit flu dan batuk sering disepelekan oleh banyak orang. Bahkan banyak orang hanya mengandalkan istirahat yang cukup dan makan teratur agar sembuh. Padahal flu dan batuk harus ditangani dengan tepat agar tidak tambah parah dan mengganggu aktivitas.

Medical Manager Consumer Health Division PT Kalbe Farma, dr Helmin Agustina Silalahi, mengatakan flu bisa datang kembali walaupun orang tersebut telah sembuh dari flu. Ketika sudah sembuh, seseorang bisa terkena flu lagi dengan cepat karena adanya infeksi sekunder, misalnya sinusitis dan bronkitis.

"Virus flu bisa ditunggangi oleh bakteri sama dengan infeksi sekunder, misalnya sinus," ujar dr Helmin kepada detikHealth, Rabu (12/12/2018).

Bahayanya, banyak orang yang belum bisa membedakan flu dan sinus. Sebab, kedua penyakit ini memiliki gejala yang mirip. Jika pernapasan terganggu seperti hidung mampet hingga lebih dari 7 hari dan disertai demam hingga nyeri kepala, bisa jadi seseorang terkena infeksi sinus.

Hal tersebut bisa terjadi karena tidak dilakukannya penanganan segera terhadap flu. Selain itu, bertambah parahnya flu disebabkan oleh daya tahan tubuh yang rendah.

Jika tidak diobati dengan tepat, lanjut dr. Helmin, akan menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. Faktanya, bakteri dan kuman dapat dengan cepat menganggu sistem imun ketika daya tahan tubuh melemah usai terkena flu.

Maka flu harus ditangani secara tepat agar pengobatannya tidak memakan waktu lama. Bahkan jika dibiarkan secara terus menerus akan lebih sulit dalam menangani atau mengobatinya.

Ketika flu sudah menyerang, atasi dengan Mixagrip yang dosisnya pas, aman, dan efektif meringankan gejala-gejala flu seperti demam, bersin-bersin, hidung tersumbat, dan sakit kepala.   https://bit.ly/2CUhl7u

Kebiasaan Pelihara Hewan di Belakang Rumah Jadi Bom Waktu Wabah Penyakit

Para pakar penyakit menular di Australia mengatakan semakin meningkatnya kebiasaan warga memelihara ternak di belakang rumah berpotensi menjadi bom waktu penyebaran wabah penyakit.

Direktur penelitian lembaga penelitian utama di Australia CSIRO untuk Kesehatan dan Biosecurity Paul De Barro mengatakan ada risiko yang semakin besar bahwa ayam, babi atau kambing yang dipelihara bisa menjadi pembawa wabah penyakit yang mematikan manusia.

Hewan peliharaan, khususnya di pinggiran kota dan kota, terpapar hewan liar, seperti kelelawar, yang membawa penyakit seperti virus Hendra atau Nipah.

"Ketika populasi urban menyebar, mereka pindah ke area hutan, area alami dan karena itu kita semakin dekat dekat dengan hewan liar," katanya kepada ABC.

"Perubahan iklim juga dianggap sebagai sebuah faktor pemicu, di mana kita menyaksikan hewan-hewan telah mengubah perilaku mereka misalnya kelelawar terbang yang menjadi semakin sering dijumpai di perkotaan - 50 tahun yang lalu, hal itu tidak dijumpai."

"Ketika kita mendapatkan perubahan ini, risiko dari kemungkinan penyebaran dari hewan ke manusia semakin meningkat."

Wabah sulit diprediksi (dan dibendung)
Menurut Dr de Barro mengatakan resiko penyebaran penyakit dari hewan ke manusia juga bisa dialami mereka yang tinggal di perkotaan.

Dikatakannya misalnya ada wabah flu burung, pihak berwenang di Australia tidak akan tahu siapa yang memiliki ayam, atau di mana, karena tidaknya pendaftaran kepemilikan hewan di sini.

Sehingga katanya usaha membendung wabah penyakit itu tidak mungkin terjadi.

"Yang tidak kita ketahui adalah kapan mereka akan terjadi, kita tidak tahu frekuensinya dan kita bahkan tidak tahu skala atau konsekuensinya," katanya.

"Bisa jadi ada beberapa orang yang jadi korban namun mungkin ratusan orang mati."

Paul De Barro
Direktur penelitian CSIRO untuk Kesehatan dan Biosecurity Paul De Barro mengatakan sulit untuk memprediksi atau membendung wabah. (Supplied)

Menurut Dr de Barro, para ilmuwan juga sampai sekarang belum memahami bagaimana sebuah penyakit bisa berpindah dari hewan liar ke hewan peliharaan dan kemudian ke manusia.

"Pengawasan yang kita miliki untuk penyakit-penyakit yang disebarkan oleh hewan ke manusia ini belum memadai," kata Dr de Barro.

"Saya tidak bisa menjelaskan mengapa, atau dalam kondisi apa, virus seperti Hendra bergerak dari kelelawar menular ke kuda lalu menular ke manusia, jadi sulit untuk membuat prediksi seputar kemungkinannya."

Survei nasional terhadap satwa liar yang terus berlangsung dan penyakit yang mereka bawa sangat penting untuk mengurangi risiko, kata Dr De Barro.

"Kami tidak benar-benar tahu penyakit apa yang ada pada burung asli, marsupial, kelelawar," katanya.

"Dan kami tidak memantau frekuensi penyakit-penyakit ini, jadi saya tidak bisa menjelaskan apakah penumpukan virus pada hewan tertentu di pinggiran kota tertentu."

Dr de Barro mengakui wabah jarang terjadi di Australia, tetapi dia memperingatkan bahwa peluang hal itu terjadi ada di sekitar kita.  https://bit.ly/2QthUNC

5 Kebiasaan Buruk yang Sering Tidak Disadari Berbahaya Bagi Kesehatan

Dari bangun tidur hingga kita tidur lagi, banyak kegiatan yang pastinya kita lakukan. Kegiatan tersebut bisa dikatakan menjadi rutinitas yang pastinya tidak pernah terlewat untuk dilakukan.

Tanpa kita sadari, kebiasaan yang rutin dilakukan ini bisa membahayakan kesehatan diri sendiri. Misalnya, seperti terlalu banyak ngemil yang bisa membuat tubuh terlalu gemuk hingga terlalu banyak mengkonsumsi kafein dan dapat mengganggu pola tidur kita.

Dikutip dari Times of India, 5 kebiasaan buruk ini harus dipertimbangkan kembali agar tidak membahayakan diri kita.

1. Terlalu banyak menonton TV

Menonton TV lebih dari tiga jam dalam sehari dapat meningkatkan risiko kematian dini. Hal ini dikemukakan oleh ahli jantung American Heart Association, Nisa Goldberg. Ia mengatakan, menonton televisi merupakan kegiatan pasif dan tidak aktif.

Orang yang melakukannya selama berjam-jam pastinya tidak akan memperhatikan gaya hidup dan pola makan. Dampaknya, pembuluh darah akan menjadi kaku dan mengarah pada penumpukkan kolesterol.

2. Ngemil saat tidak lapar

Makanlah di saat lapar dan berhenti saat kenyang. Seseorang tidak boleh mengabaikan atau mengganggu sinyal tubuh yang dapat memberitahukan saat lapar. Jika sinyal ini terganggu, maka akan menyebabkan seseorang makan secara berlebihan dan merusak kesehatan tubuh.

3. Mengkonsumsi terlalu banyak obat penghilang rasa sakit

Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan penghilang rasa sakit dapat meningkatkan risiko efek samping. Beberapa contohnya seperti tumbuh bisul, pendarahan gastrointestinal, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung.

4. Melewatkan sarapan

Selalu terlambat atau bahkan tidak sarapan akan membuat seseorang mengkonsumsi lebih banyak kalori di malam hari dan pada akhirnya bisa memicu perasaan stres.

5. Terlalu banyak kopi

Terlalu sering dan dalam jumlah banyak mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein ini, dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan menimbulkan gangguan tidur seperti insomnia. 

Ini Lho Alasannya Kamu Bangun dengan Hidung Mampet

Sroott... Bangun tidur bukan terus mandi, namun mencari tisu karena hidung mampet padahal sedang tidak terkena flu. Siapa yang pernah mengalami hal serupa?

Jika pernah, pasti kamu kebingungan apa yang sebenarnya tengah dialami tubuhmu. Hidung mampet biasanya terjadi saat ada mukus atau ingus yang bersarang di rongga hidung dan menghalangi jalur napas.

Tenang, beberapa alasan ini mungkin menjadi jawaban mengapa kamu terbangun dengan hidung mampet, seperti dikutip dari Healthline.

1. Alergi

Alasan yang paling umum adalah alergi. Menurut data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) tahun 2005-2006, 74 persen manusia terpapar 3-6 alergen di kamar tidur setiap malamnya.

Setiap kali kamu berguling ditempat tidur, menyesuaikan selimut, atau menepuk-nepuk bantal, kamu mungkin saja mengirim alergen ke udara. Tidak heran hidung kita meradang pada malam hari.

2. Iritasi

Tersumbatnya hidung di pagi hari juga bisa karena adanya iritasi. Seperti pada pengidap GERD (Gastro-esophageal reflux disease). Penelitian mengungkapkan bahwa GERD berhubungan dengan rhinitis atau radang selaput lendir yang gejalanya bisa memburuk saat tidur.

3. Perubahan hormon

Hormon berubah saat wanita tengah hamil atau menstruasi. Sekitar 39 persen wanita hamil mengalami rhinitis atau radang selaput lendir yang bisa membuat hidung mampet setiap bangun tidur.

4. Perubahan cuaca

Saat musim tengah berganti biasanya mudah sekali menurunkan sistem kekebalan tubuh, salah satu gejalanya yaitu hidung mampet di pagi hari. Biasanya ini disebut alergi musiman. Saat musim berganti, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan dan jagalah kebersihan.

5. Bulu hewan

Asosiasi kedokteran hewan di Amerika memperkirakan sekitar 70 juta rumah di Amerika terpapar bulu hewan, seperti anjing, kucing, atau burung. Bulu-bulu hewan itu tidak dipungkiri memengaruhi peradangan pada saluran pernapasan, yang paling utama adalah rongga hidung. Maka dari itu, saat bangun tidur hidung mudah tersumbat. https://bit.ly/2prB778