Senin, 18 November 2019

Seks Anal Picu Kanker Anus, Mitos atau Fakta?

 Salah satu alasan untuk menghindari perilaku seks anal adalah anggapan bahwa variasi ini bisa menularkan virus penyebab kanker. Benarkah demikian?

Anggapan bahwa seks anal menularkan kanker dikaitkan dengan infeksi HPV (Human Papiloma Virus). Virus yang diketahui bisa menyebabkan kanker serviks atau leher rahim ini, disebut-sebut bisa juga menular ke organ lain lewat penis yang terinfeksi.

Namun anggapan itu disanggah oleh Dr dr Toar J.M Lalisang, SpB(K)BD, ahli kanker kolorektal dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Menurutnya, kaitan HPV dengan kanker usus, tepatnya kanker anus, masih dalam penelitian.

"Terlalu dini kalau saya bilang berhubungan," kata dr Toar, ditemui di RSCM baru-baru ini.

Menurut dr Toar, kaitan HPV dengan kanker anus berbeda dengan pada kanker serviks. Pada kanker serviks, HPV sebagai penyebab sudah terbukti dalam berbagai penelitian dan jurnal ilmiah.

Pada kanker anus, faktor infeksi HPV sebagai penyebab masih dalam penelitian. Lalu apa sebenarnya penyebab utama kanker anus?

"Tidak bisa cuma satu faktor. Multifaktorial," tegas dr Toar.  https://bit.ly/2NXwg73

Alasan Mengapa Seks Oral Berbahaya Sehingga Perlu Diatur Undang-undang

Di dalam RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) diatur juga soal hubungan seks yang tidak lazim. Salah satunya adalah seks oral, yang dianggap berbahaya karena bisa menularkan virus dan bakteri ke tubuh.

"Itu berbahaya karena menjadi pintu masuknya virus dan bakteri. Itu yang harus kita informasikan kepada masyarakat kalau jalur mulut itu bukan jalur yang aman," ucap Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Hanny Nilasari sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (6/8/2019).

Oleh karena itu, tindakan memaksa pasangan melakukan seks oral dinilai sebagai suatu tindakan yang menyimpang yang perlu diatur lebih lanjut dalam RUU PKS. Diharapkan oleh Hanny, saat UU tersebut disahkan, wanita bisa menolak apabila ada ajakan melakukan seks oral secara paksa.

Seks oral dianggap berbahaya bukanlah hal yang patut dipertanyakan. Hingga kini, sejumlah penyakit dari infeksi hingga kanker dikaitkan dengan seks oral, sehingga praktik seks satu ini juga berisiko tinggi.

Banyak orang yang mengira seks lewat mulut adalah praktik yang aman dan tidak menularkan penyakit apapun. Risiko sebenarnya bisa ditekan apabila menggunakan proteksi seperti kondom. Akan tetapi banyak sekali pasangan yang merasa lebih suka tanpa menggunakan proteksi apapun.

Dirangkum oleh detikHealth dari berbagai sumber, berikut adalah risiko yang bisa terjadi dari seks oral:

1. Kanker tenggorokan
Melakukan seks oral bisa membuatmu berisiko menularkan human papillomavirus (HPV) yang bisa menyebabkan kanker tenggorokan atau orofaringeal (bagian tengah tenggorokan). Salah satu studi tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan risiko akan kanker jenis tersebut pada orang yang melakukan seks oral setidaknya enam pasangan berbeda.

Baik pria maupun wanita bisa terkena infeksi ini. Berita baiknya adalah kanker tenggorokan yang disebabkan oleh HPV cenderung lebih mudah ditangani ketimbang yang disebabkan oleh merokok dan minum alkohol.

2. HIV
Meski relatif rendah risiko ketimbang seks melalui vagina atau anal, namun kita bisa tertular HIV (Human Imunodeficiency Virus) melalui seks oral. Terutama apabila saat mempraktikkannya tidak menggunakan proteksi sama sekali.

Risiko tertular HIV semakin meningkat juga apabila jika yang melakukan seks oral sedang sariawan atau ada luka, jika ejakulasi terjadi di dalam mulut, atau yang menerima seks oral mengidap penyakit menular seksual. Pada umumnya, risiko penularan seks oral ini lebih utama terjadi pada yang melakukan seks oral.

3. Herpes
Meski herpes genital dan oral disebabkan oleh strain virus herpes yang berbeda, namun tetap mungkin bagi virus manapun menginfeksi lokasi keeduanya. Sehingga sangat mungkin menularkan herpes melalui seks oral.

Berbeda dengan HIV, virus herpes bisa menyebar dari kedua pasangan saat melakukan oral seks. Penularan herpes saat seks oral sangat berbahaya, bahkan herpes adalah penyakit yang menular meski tanpa gejala.

4. Gonorrhea
Gonorrhea bisa ditularkan saat melakukan seks oral pada pria, dan baik keduanya bisa berisiko terkena penyakit tersebut. Masih sedikit penelitian yang menyebutkan bahwa penularan bisa terjadi saat melakukan seks oral pada wanita.

Risiko gonorrhea dalam seks oral pada wanita cukup kecil karena infeksi tidak mencapai serviks. Menggunakan kondom cukup efektif dalam mencegah penularan gonorrhea selama melakukan seks oral.

5. Chlamydia
Chlamydia merupakan salah satu penyakit menular seksual, dan jika tertular maka kedua belah pihak berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. Risiko penularan chlamydia hampir sama seperti gonorrhea.

6. Sifilis
Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang sangat mudah ditularkan melalui  https://bit.ly/32Q6N3O

Masturbasi Bakar Kalori Setara Olahraga, Benarkah?

Masturbasi pada pria merupakan hal yang lumrah. Seringkali kita mendengar bahwa masturbasi juga bisa membantu membakar kalori sama seperti saat berolahraga. Apakah hal ini benar, atau hanya mitos?

Dikutip dari Men's Healh, menurut dokter kandungan dan pakar kesehatan seksual Jessica Shepherd, MD, belum ada studi mengenai hal tersebut. Akan tetapi, jika melihat dari sisi bercinta yang bisa membakar sekitar 69 kalori pada wanita dan 101 kalori pada pria, tentu masturbasi tidak akan membakar lebih banyak dari itu.

"Jika kamu membahas soal masturbasi, kalori yang terbakar tentu akan lebih sedikit ketimbang (seks). Karena seks membutuhkan gerakan seluruh tubuh, sementara saat masturbasi, pada umumnya kita akan dalam posisi berbaring dan menggunakan tangan kita, tidak berpindah dari posisi satu ke posisi lainnya, melakukan penetrasi, atau berpindah dari kasur ke tempat lain dan sebagainya," terangnya.

Masturbasi juga tidak bisa disamakan dengan olahraga, karena jika ingin membakar kalori, kita harus menaikkan denyut jantung dalam jangka waktu yang lama. Menurut dr Shepherd, saat klimaks atau ejakulasi tidak akan membuat denyut jantungmu sama kadarnya seperti olahraga kardio.

Walaupun begitu, masturbasi disebut-sebut memang memiliki manfaat kesehatan tersendiri pada pria (dan juga wanita!). Karena masturbasi memicu pelepasan endorfin atau hormon rasa senang yang menjadikan tubuh kita rileks dan juga pereda nyeri alami, kemudian menimbulkan produksi oksitoksin yang akan membantumu tertidur lebih nyenyak, dan memperbaiki sirkulasi darah, pungkasnya.  https://bit.ly/33TnDA2

5 Mitos Seks yang Masih Populer, Ukuran Mr P hingga Coitus Interruptus

Berbagai informasi seputar seks sebetulnya mudah diperoleh, sayangnya masih saja ada yang percaya pada mitos. Beberapa mitos malah sudah lama beredar dan terus diyakini alias klasik.

Dikutip dari AskMen berikut 5 mitos klasik soal bercinta yang masih terus dipercaya, mulai dari ukuran Mr P hingga penetrasi.

1. Makin besar ukuran Mr P makin baik

Mitos makin besar ukuran Mr P makin baik telah mengacaukan rasa percaya diri dan self-esteem pria. Para pria tak segan melakukan berbagai upaya demi memperbesar Mr P dan memberi kepuasan pada pasangan.

"Setiap ukuran Mr P pasti ada pro dan kontra, karena vagina punya pilihan sendiri soal ukuran. Karena itu cintailah penismu beserta untung rugi yang terjadi. Harus diingat 70 persen ukuran penis di dunia adalah 11-16 sentimeter tanpa sunat dan 10-13 sentimeter dengan sunat," kata konsultan seputar seks Kenneth Play.

2. Foreplay tidak penting

Penetrasi dan orgasme memang menjadi puncak kepuasaan saat bercinta. Sayangnya, penetrasi menjadi fokus utama hingga melupakan foreplay. Padahal bagian permulaan ini menjadi saat yang tepat untuk membangun gairah dan mood.

"Pria tidak akan bisa penetrasi jika Mr P tidak ereksi, sama dengan wanita yang tubuhnya harus siap sebelum dipenetrasi. Para pria harus ingat, wanita benci premature penetration karena itu jangan pernah melupakan foreplay di setiap sesi bercinta," ujar Play.

3. Hanya penetrasi yang bisa memberi orgasme

Dalam setiap materi porno, wanita biasanya diceritakan hanya merasakan orgasme melalui penetrasi. Faktanya, orgasme bisa dirasakan wanita dengan merangsang bagian lain misal clitoris.

"Clitoris ini seperti sahabat terbaik wanita saat berhubungan seks. Sayangnya clitoris tidak mendapat cukup perhatian saat berhubungan seks. Padahal menyentuh clitoris sesuai pilihan wanita menjadi metode efektif meraih orgasme," kata sex expert Jess O'Reilly.

4. Coitus interrupus adalah metode kontrasepsi efektif

Teknologi kontrasepsi telah banyak berkembang dan memberi banyak pilihan. Namun metode coitus interruptus atau senggama terputus atau masih punya peminat, yang meyakini cara tersebut bisa membantu mengendalikan kehamilan. Sesaat menjelang ejakulasi, Mr P dijauhkan dari Ms V dengan maksud agar tidak terjadi pembuahan.

"Namun patut diingat, selalu ada risiko sperma sudah terlanjur keluar dan masuk vagina. Dengan risiko ini, kontrasepsi menjadi pilihan terbaik misal kondom, yang sekaligus mencegah infeksi penyakit menular seksual," kata konsultan seputar seks Mackenzie Riel.

5. Seks yang baik harus tahan lama

Selain ukuran, mitos ini mungkin menjadi yang paling klasik dan banyak dipercaya. Kepuasan seks bergantung kecenderungan tiap pasangan, yang kadang memilih seks dalam waktu singkat.

"Penetrasi biasanya berlangsung 2-7 menit sedangkan hubungan seks secara keseluruhan rata-rata kurang dari 25 menit. Dengan durasi ini lebih baik jika dibagi antara foreplay dan penetrasi, sehingga pasangan bisa sama-sama puas," kata O'Reilly.  https://bit.ly/2QrvVev