Kamis, 21 November 2019

Dinosaurus Berbulu Pernah Hidup di Kutub Selatan

Kutub Selatan adalah habitat buat pinguin, paus, dan 100 juta tahun lalu, ternyata juga dinosaurus berbulu halus. Demikian kesimpulan para ilmuwan yang menemukan fosilnya.

Dikutip detikINET dari CNN, ini adalah pertama kalinya ilmuwan menemukan bukti bahwa dinosaurus memanfaatkan bulu dalam iklim ekstrim seperti di Kutub Selatan.

Tim periset internasional awalnya memeriksa koleksi fosil usia 118 tahun yang dulu ditemukan di Koonwarra, Australia. Ada tulang dinosaurus dan tanda eksistensi bulu. Bulu itu tidak sekompleks bulu burung modern misalnya, namun bentuknya sederhana seperti rambut sebagai penyekat.

"Penemuan 'proto feathers' di Koonwarra mengindikasikan bahwa lapisan bulu halus mungkin membantu para dinosaurus kecil tetap hangat di habitat kutub kuno," kata Martin Kundrat dari Pavol Jozef University.

Seperti halnya bulu burung zaman sekarang yang berpola atau berwarna, kemungkinan bulu dinosaurus itu juga demikian. Pasalnya, periset menemukan jejak melanosom, sel yang mengandung pigmen warna, dalam fosil bulu.

Diyakini warnanya gelap untuk membantu kamuflase, berkomunikasi satu sama lain serta untuk menyerap lebih banyak panas di temperatur kutub.

"Kerangka dinosaurus pernah ditemukan di dataran tinggi kuno sebelumnya. Tapi belum pernah ditemukan sisa dinosaurus yang menunjukkan bahwa mereka menggunakan bulu untuk bertahan di habitat kutub," kata pemimpin riset, Benjamin Kear. https://bit.ly/2s3PsaV

Ilmuwan Klaim Temukan 'Taman Eden' Asal Nenek Moyang Manusia

Para ilmuwan ini mengklaim menemukan tempat yang menjadi asal usul manusia yang mereka juluki Taman Eden. Letaknya di Botswana, Afrika.

Dalam studi besar baru soal DNA, periset itu coba mencari asal usul manusia dari sisi sains. Danau kuno Makgadikgadi di Botswana selatan yang sekarang kering kerontang, mereka klaim sebagai tempat di mana manusia modern pertama berkembang pada sekitar 200 ribu tahun silam.

Pada saat itu, arena bersangkutan basah dan subur, ada ikan dan juga mamalia semacam jerapah, singa dan zebra. Nenek moyang manusia disebut tinggal di sana selama 70 ribu tahun, sampai iklim lokal berubah.

Mereka pun mulai berpindah ke tanah subur di sekitar lokasi itu sampai bermigrasi ke luar Afrika. "Jelas bahwa manusia modern tampaknya muncul di Afrika sekitar 200 tahun yang lalu," kata profesor Vannes Hayes yang memimpin riset ini.

"Apa yang menjadi debat panjang adalah lokasi persis dari kemunculan tersebut dan perpindahan selanjutnya dari nenek moyang awal kita," imbuhnya, dikutip detikINET dari IOL.

Dalam studi ini, ilmuwan mengambil sampel DNA mitochindrial dari 1.217 orang Afrika. Tidak seperti DNA nuclear yang separuh-separuh berasal dari gen ibu dan ayah, DNA mitochondrial hanya diturunkan dari ibu.

"DNA mitochondrial bertindak seperti kapsul waktu dari ibu nenek moyang kita, mengakumulasi perubahan lambat dari generasi ke generasi. Membandingkan kode DNA individu yang berbeda menyediakan informasi tentang seberapa dekat mereka berhubungan dan memungkinkan pemetaan pergerakan mereka," jelas Hayes dari Garvan Institute of Medical Research, Australia.

Periset lantas mengkombinasikan genetika dengan kondisi geologi dan iklim, untuk mendapat gambaran bagaimana situasi dunia pada 200 ribu tahun yang lalu. Simulasi komputer menunjukkan bahwa pada waktu itu hujan melimpah juga berdampak ke daerah sekeliling.

"Perubahan iklim membuka lingkungan yang hijau, tetumbuhan, memungkinkan nenek moyang kita bermigrasi jauh dari tanah air untuk pertama kalinya," kata profesor Alex Timmerman, ahli iklim di Pusan National University, Korea Selatan.

Migrasi terjadi lantaran perubahan iklim membuat danau perlahan menjadi kering dan akhirnya berubah menjadi gurun. Perpindahan itu pun memicu perkembangan genetika manusia, etnis sampai perbedaan budaya.

Lokasi tersebut disebut ideal untuk manusia bertahan hidup selama sekitar 70 ribu tahun. Tentunya, tidak semua sepakat dengan studi ini.

"Seperti banyak studi lainnya yang berkonsentrasi pada jumlah kecil genom atau satu wilayah atau satu fosil, hal itu tidak dapat menangkap kompleksitas penuh dari asal muasal kita," ujar profesor Chris Stringer dari Natural History Museum. https://bit.ly/2OvgMGz

Kera Purba Aneh, Kaki Mirip Manusia dan Berlengan Orangutan

Lebih dari 11 juta tahun lalu, pernah ada kera yang perawakannya tidak umum jika dibandingkan kera zaman sekarang. Kera tersebut punya kaki seperti manusia dan lengan panjang seperti orangutan. Dengan perawakannya tersebut, cara berjalannya pun tak seperti makhluk Bumi lainnya.

Kira-kira seperti itulah gambaran yang dikumpulkan para ilmuwan mengenai spesies baru kera purba, berdasarkan fosil terbaru yang mereka temukan di Bavaria, Jerman.

Para ahli paleontologi menamai spesies ini Danuvius guggenmosi. Danuvius berasal dari nama dewa sungai Celtic-Roma Danuvius, dan guggenmosi adalah penghargaan untuk Sigulf Guggenmos, yang menemukan situs tempat fosil itu ditemukan.

"Menariknya, Danuvius seperti kera dan hominin menjadi satu," kata pemimpin riset Madelaine Böhme, ahli paleontologi dari Eberhard Karls University of Tübingen, Jerman, dikutip dari Live Science, Kamis (7/11/2019).

Makhluk tersebut kemungkinan juga menggunakan penggerak aneh yang belum pernah kita lihat sampai sekarang. Para ilmuwan penemu fosil mengatakan, temuan ini menjelaskan bagaimana nenek moyang manusia berevolusi untuk berjalan dengan dua kaki.

"Temuan ini juga mengemukakan wawasan tentang bagaimana nenek moyang kera besar modern berevolusi mendukung alat mereka untuk bergerak," kata Madelaine.

Ciri utama yang membedakan manusia dari kerabat terdekatnya--kera besar modern termasuk simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan--adalah bagaimana manusia berdiri tegak dan berjalan di atas kaki. Postur bipedal ini yang akhirnya membantu membebaskan tangan kita untuk menggunakan alat, dan membantu umat manusia menyebar ke seluruh planet.

Sebaliknya, kera besar modern memiliki lengan memanjang yang mereka gunakan untuk bergerak. Misalnya, simpanse, bonobo, dan gorila, berlatih berjalan dengan jari. Sedangkan orangutan berjalan menggunakan kepalan tinju tangannya di tanah.

Semua kera besar modern juga memiliki sifat anatomi yang memungkinkan mereka berayun dari cabang pohon satu ke cabang pohon lainnya hanya dengan menggunakan tangan mereka. Metode penggerak ini disebut brachiation.

Masih banyak ketidakpastian tentang asal usul pergerakan hominin--kelompok spesies yang mencakup manusia dan kerabat mereka setelah berpisah dari garis keturunan simpanse--karena para ilmuwan tidak memiliki bukti fosil yang sesuai.

Penelitian sebelumnya menduga, manusia berevolusi dari binatang berkaki empat yang meletakkan telapak tangan dan telapak kaki mereka di tanah saat berjalan, mirip dengan monyet hidup, atau lebih suka menggantungkan tubuh mereka dari pohon saat mereka bergerak, serupa simpanse modern.

Sejak 1970-an, para ahli paleontologi telah menggali banyak fosil spesies kera dari Eropa dan Afrika, dari zaman pertengahan Miosen hingga akhir 13 juta hingga 5,3 juta tahun lalu, ketika mereka berpikir garis keturunan kera dan manusia berbeda.

Namun, tidak satu pun dari fosil-fosil ini yang melestarikan tulang tungkai yang benar-benar utuh, sehingga membatasi wawasan yang bisa diperoleh para peneliti tentang bagaimana spesies purba ini bergerak. https://bit.ly/348mlBj

Fosil 'Monster' Penguasa Lautan Ditemukan

Periset di Polandia baru-baru ini menemukan fosil tulang dari makhluk lautan yang mengerikan, yang hidup pada 150 juta tahun silam.

Saat sedang menggali di desa Krzyzanowice di Polandia, ahli paleontologi dari Museum of Erath di Warsawa menemukan tulang yang dimiliki oleh pliosaurus, sejenis dinosaurus.

Dikutip detikINET dari 9News, pliosaurus adalah reptil di lautan dengan wujud seperti buaya super besar. Ia hidup pada zaman awal Jurassic Dr Daniel Tyborowski, salah satu peneliti, menyatakan sulit menemukan bandingan ukuran pliosaurus dengan hewan modern.

"Ukuran mereka lebih dari 10 meter panjangnya dan berat bisa tembus beberapa ton. Mereka punya tengkorak besar dan kuat, serta rahang yang masif dengan gigi besar dan tajam," jelasnya.

Pliosarus diyakini memangsa beragam jenis hewan seperti ikan, hiu, dinosaurus lautan lain dan kura-kura pada zaman purba. Dr Daniel menyatakan inilah kali pertama tulangnya ditemukan di Polandia.

"Di Eropa, mereka ditemukan hanya di sedikit negara, belum pernah di Polandia," katanya. Beberapa hewan yang jadi mangsanya juga ditemukan fosilnya di lokasi tersebut.

"Kura-kura memakan bekicot besar dan mereka dimangsa oleh buaya besar. Di sisi lain, pliosaurus memburu semua fosil binatang yang kami temukan," tambahnya. Tim sampai saat ini masih meneliti lokasi itu dengan harapan menemukan lebih banyak fosil. https://bit.ly/35iZMdp