Kamis, 21 November 2019

Melihat Uniknya Upacara Pernikahan Lumpang dan Alu di Bantul

Acara pernikahan ternyata bukan hanya manusia saja, seperti yang ada di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Warga di pedukuhan tersebut menikahkan lumpang dan alu, dua alat tradisional untuk mengolah hasil pertanian.

Prosesi pernikahan kedua benda ini juga terbilang unik, mengingat setiap perwakilan tiap RT di Pedukuhan tersebut harus mengajukan lamaran kepada tokoh masyarakat yang menjadi wali dari lumpang bernama Nyi Tentrem.

Lamaran itu berupa alu yang dikirab menuju lokasi keberadaan lumpang. Setelah menjalani seleksi, nantinya akan terpilih sebuah alu yang menjadi pasangan Nyi Tentrem.

Pantauan detikcom, sejak siang hari ratusan warga telah berkumpul di pinggir persawahan yang ada di Daup Alu di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu (18/8/2019). Selanjutnya, dengan mengenakan pakaian adat Jawa berwarna-warni mereka mulai melakukan kirab dengan rute mengelilingi Pedukuhan tersebut.

Dalam kirab tersebut, warga turut membopong sebuah tandu berisi hasil bumi, makanan, hewan ternak dan benda berukuran panjang menyerupai alu. Setelah menempuh perjalanan sejauh 3,5 kilometer, warga kembali ke pinggir persawahan yang menjadi lokasi keberadaan lumpang Nyi Tentrem.

Sesampainya di lokasi tersebut, perwakilan dari masing-masing RT melamar lumpang Nyi Tentrem. Terdengar negoisasi disertai gelak tawa antara perwakilan RT dengan tokoh masyarakat yang menjadi wali nikah dari lumpang tersebut.

Setelah menjalan seleksi, ternyata tiga dari empat alu yang dibawa perwakilan RT berisi makanan seperti lemper dan ketan. Sedangkan salah satu alu ada yang benar-benar terbuat dari kayu, setelah memastikan pasangan lumpang tersebut, maka alu yang memiliki panjang sekitar 2 meter ini dipasangkan dengan lumpang Nyi tentrem.

Panitia Daup Alu, Joko Sulistyo menjelaskan, bahwa lumpang tersebut ditemukan di Sungai buntung pada tahun 1960-an. Setelah penemuan itu, warga berupaya memindahkan lumpang tapi tidak kunjung berhasil.

"Tahun 1960-an itu sempat dinaikkan tapi kembali terus (ke Sungai Buntung). Akhirnya setelah beberapa waktu lumpang itu berhasil dipindah," katanya saat ditemui di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu (18/8/2019).

Seiring berjalannya waktu, warga ingin memindahkan lumpang tersebut di sebuah tempat khusus. Akhirnya, 40 hari lalu warga melaksanakan acara boyong lumpang ke tempat barunya berupa pendopo kecil di pinggir sawah. https://bit.ly/2KHdRJG

"Dalam pemahaman Jawa, lumpang adalah simbol yoni atau perempuan, dan warga menilai lumpang itu sudah dewasa sehingga perlu dinikahkan. Karena itu kita adakan sayembara untuk melamar sebagai alunya," katanya.

Terkait makna pernikahan antara lumpang Nyi Tentrem dan Alu Ayem, sebenarnya ia ingin membuat pemahaman agar warga tergugah untuk merawat alat-alat pertanian. Mengingat sebagian besar warga Pedukuhan Onggopatran berprofesi sebagai petani.

"Lumpang dan alu itu kan benda fungsional dan digunakan untuk kelangsungan hidup, karena bisa merubah gabah menjadi beras. Selain itu, untuk memaknainya kita akan merawat lumpang itu tadi dengan mencarikan aku sebagai pasangannya," ujarnya.

Karena itu, Joko menyebut pernikahan Daup Alu ini bukanlah pernikahan layaknya manusia, namun lebih kepada mengingatkan manusia untuk merawat benda yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

"Jadi proses lamaran itu memang sengaja ada membentuk ketan dan menata lemper menyerupai alu, karena yang benar-benar alu dari kayu sudah kami siapkan," katanya.

"Nantinya, untuk perwakilan yang tidak lolos seleksi, makanan yang dibawa akan dimakan ramai-ramai oleh warga," imbuh Joko.

Pernikahan lumpang dan alu di Bantul.Pernikahan lumpang dan alu di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Joko melanjutkan, setelah pernikahan lumpang dan alu tersebut selanjutnya akan menjadi monumen khusus untuk menarik wisatawan. Mengingat Pedukuhan Onggopatran merupakan Desa rintisan wisata.

"Setelah setahun menikah akan ada sayembara lagi. Jadi daup alu ini berkelanjutan," ucapnya. https://bit.ly/2qzBwox

Berharap Hujan Turun, Ratusan Warga Boyolali Mengarak Gunungan Dawet

Warga Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali menggelar tradisi Kenduren Udan Dawet hari ini. Ritual ini dilaksanakan untuk meminta hujan kepada Tuhan pada musim kemarau panjang ini.

Tradisi tersebut dilaksanakan di Punden Sendang Mande Rejo, di Dukuh Bunder, Desa Banyuanyar, Jumat (20/9/2019). Seiring kemarau panjang, air sendang tersebut juga semakin surut.

"Maksud dan tujuan dari tradisi ini agar segera dikaruniai hujan," kata Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, di sela-sela acara tradisi Kenduren Udan Dawet.

Musim kemarau berkepanjangan saat ini membuat sejumlah wilayah di Boyolali mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Hal yang sama dialami warga Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali.

Kenduren Udan Dawet untuk meminta hujan di Boyolali.Kenduren Udan Dawet untuk meminta hujan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Menurut Komarudin, di wilayah Desa Banyuanyar sumber air sudah mengering. Air yang tersisa hanya di Sendang Mande Rejo, itu pun tak banyak https://bit.ly/2XzexpH

"Kondisi kemarau ini masyarakat sangat mengeluh, program sumber air yang kita lakasanakan hasilnya tidak maksimal, air PDAM juga tidak begitu aktif mengalirnya. Sumber air rata-rata kering, yang kelihatan (airnya) hanya di Punden (Sendang Mande Rejo)," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa tradisi Kenduren Udan Dawet ini sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga Dukuh Bunder, Dukuh Dukuh dan Dukuh Ngemplak, Desa Banyuanyar. Dilaksanakan setahun sekali, tradisi ini digelar pada mangsa kapat (penanggalan Jawa kuno) pada hari Jumat Pon.

Tampak setiap kepala keluarga dari tiga dukuh itu membawa tumpeng dan perlengkapan lainnya, seperti ayam ingkung, nasi golong serta minuman dawet.

Kenduren Udan Dawet untuk meminta hujan di Boyolali.Kenduren Udan Dawet untuk meminta hujan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Acara diawali dengan kirab sejumlah gunungan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Selain itu juga terdapat gunungan dawet lengkap yang diarak oleh ratusan warga dari Masjid Anur menuju Punden Mande Rejo sejauh 200 meter. Sesampainya di sendang tersebut, acara berlanjut dengan doa bersama.

Puncak acara ritual tersebut yakni ketika warga menyiramkan dawet ke sumber air tersebut sembari mengucapkan, "Udan buyut". Yang artinya, meminta agar segera turun hujan deras. Selanjutnya seluruh warga makan bersama di lokasi tersebut.

"Dengan tradisi ini harapannya segera diberikan hujan yang deras, dalam arti bukan hujan deras yang membawa bencana, tapi hujan deras yang membawa berkah bagi masyarakat," harapnya.

Selain itu, lanjut Komarudin, melalui tradisi ini juga untuk menjaga Punden Sendang Mande Rejo, yang dipercaya warga merupakan petilasan Ki Ageng Yosodipura. Sendang itu diharapkan bisa menjadi salah satu sumber air yang membawa barokah bagi Desa Banyuanyar. https://bit.ly/2KFW5GF