Kamis, 21 November 2019

Merajut Mimpi Lagi, India Bakal Coba Sambangi Bulan Kembali

Belum lama misi Chandrayaan 2 hilang kontak saat akan mendarat di Bulan, tapi India sudah memulai merajut mimpi lagi di bidang antariksa lewat Chandrayaan 3. Misi tersebut dilaporkan memiliki tenggat waktu sampai November 2020.

Itu artinya, Indian Space Research Organization (ISRO) akan berupaya keras meluncurkan Chandrayaan 3 dalam setahun ke depan. Begitu yang diwartakan oleh Times of India, seperti yang dikutip oleh detikINET, Kamis (14/11/2019).

Untuk memuluskan rencana besar tersebut, ISRO telah membentuk sejumlah komite dan mengadakan empat pertemuan tingkat tinggi sejak Oktober kemarin. Langkah ini juga untuk mengatasi kegagalan seperti yang terjadi pada Chandrayaan 2 pada September lalu.

Mereka juga menerima berbagai saran dari para ahli guna meningkatkan peluang keberhasilan pendaratannya nanti. Salah satu ilmuwan membocorkan bahwa mereka memprioritaskan untuk memperkuat kaki lander agar bisa bertahan saat mendarat di Bulan.

Dalam misi Chandrayaan 3, ISRO memutuskan untuk mencoba melakukan pendaratan robotik di Bulan, namun tidak disertakan wahana yang mengorbitnya. Adapun wahana Chandrayaan 2 masih berada jalur orbit di Bulan meskipun rovernya gagal mendarat.

Sejauh ini ISRO telah melihat 10 aspek dari misi ini, termasuk pemilihan lokasi pendaratan, navigasi absolut dan navigasi lokal. "Sangat penting untuk melakukan anslisis terperinci tentang perubahan untuk meningkatkan sistem pendaratan rekomendasi dari komite ahli," kata sumber. https://bit.ly/347aofi

Gagal Mendarat di Bulan, India Mau ke Venus

Gagal mendarat di Bulan tidak membuat India berhenti melakukan eksplorasi luar angkasa. Negeri Bollywood ini malah lebih berani dan menyasar destinasi baru, ke Venus.

Para ilmuwan dan engineer Indian Space Research Organisation (ISRO) telah mengajukan rencana untuk pengorbit Venus ke pemerintah India dan berharap mereka akan mendapatkan persetujuan untuk melanjutkan misi. Pesawat ruang angkasa mereka bisa diluncurkan hanya dalam beberapa tahun dan akan membawa lebih dari selusin instrumen.

"Tujuan utama adalah untuk memetakan permukaan Venus," kata salah satu ilmuwan ISRO, Nigar Shaji, seperti dikutip dari Space.com, Minggu (10/11/2019).

Menurut Shaji, pengorbit Venus saat ini sedang dirancang ISRO untuk bisa membuat dataset Venus dalam waktu sekitar satu tahun. Selain memetakan permukaan Venus, misi ini juga akan melihat lebih dalam ke planet itu untuk membantu para ilmuwan mengidentifikasi hotspot vulkanik yang tersebar di seluruh Venus.

"Instrumen di atas pesawat ruang angkasa juga akan mempelajari atmosfer planet dan ionosfer, serta bagaimana Venus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya," tambah Shaji.

ISRO telah mengidentifikasi 16 instrumen yang diajukan para ilmuwan India untuk diterbangkan. Instrumen ini antara lain termasuk yang berfokus pada pemantauan awan, mengidentifikasi sambaran petir, mempelajari aliran udara dan mengukur partikel plasma bermuatan tinggi yang melewati Venus dalam perjalanan keluar dari Matahari.

Beberapa instrumen lainnya berasal dari kemitraan internasional. Sebanyak tiga instrumen di antaranya, merupakan usulan dari para ilmuwan AS. Namun menurut Shaji, ISRO memahami bahwa pendanaan untuk instrumen tersebut tidak layak, sehingga tiga instrumen tersebut tidak akan ikut diterbangkan.

Jika pengajuan misi disetujui, pesawat ruang angkasa menuju ke Venus akan meluncur Juni 2023, tepatnya menggunakan salah satu kendaraan peluncuran satelit ISRO Geosynchronous. Ini adalah jenis kendaraan yang sama dengan digunakan dalam misi peluncuran Chandrayaan-2 India ke Bulan. https://bit.ly/2s3C8TW

Duh, Ponsel Murah Rawan Diserang Hacker

Perusahaan riset keamanan, Kryptowire, menyebutkan smartphone Android yang harganya murah dinilai rentan mudah diretas oleh hacker.

Di pasar ponsel saat ini dibagi ke dalam beberapa kategori, mulai dari ponsel yang murah hingga perangkat yang harganya bisa belasan juta rupiah.

Sebagaimana detikINET lansir dari Ubergizmo, Senin (18/11/2019) ponsel murah ini yang dinilai punya masalah serius. Seperti persoalan bug dan kerentanan yang mana bahwa gadget ini mudah diretas.

Hal itu karena kualitas perangkat tersebut tidak dirancang seperti pembuatan ponsel premium. Sehingga agar tidak jadi beban, sejumlah komponen dihemat perusahaan.

Sayangnya, Kryptowire tidak menyebutkan merek yang dimaksud dan rentan harga berapa ponsel murah yang bermasalah ini.

Kendati tidak mengungkapkan mereknya, Kryptowire mengatakan kerentanan tersebut ditemukan perusahaannya pada ponsel yang dikirimkan oleh 29 produsen.

Di saat yang bersamaan, seperti yang disampaikan CEO Kryptowire Angelos Stavrou, Google juga harus bertanggungjawab pada tingkat tertentu dengan menjadi lebih ketat dan teliti mengenai aplikasi yang digunakan pada ponsel Android.

"Google bisa meminta melalui kode analisis dan tanggungjawab vendor terhadap software yang mereka masukkan ke dalam ekosistem Android. Legislator dan pembuat kebijakan harus menuntut agar perusahaan bertanggung jawab karena membahayakan keamanan dan informasi pribadi penggunanya," kata Stavrou. https://bit.ly/2D5Yeao

Duh, 15 Antivirus Populer di Android Ini Ternyata Berbahaya

Tak hanya pada komputer dan laptop, smartphone pun juga memiliki aplikasi antivirus untuk melindungi ponsel dari serangan program jahat. Tapi bukan berarti aplikasi antivirus selalu aman, beberapa justru membahayakan.

Para peneliti keamanan VPN Pro telah menemukan adanya 15 aplikasi antivirus Android yang populer ternyata memiliki efek merusak bagi ponsel.

Dilansir detikINET dari Mirror, Jan Youngren salah satu peneliti keamanan tersebut melalui blognya telah memberikan peringatan kepada pengguna Android untuk segera menghapus aplikasi antivirus tersebut.

"Aplikasi ini sangat populer dan berpotensi berbahaya. Hal ini karena mereka meminta penggunanya untuk memberi mereka banyak akses izin berbahaya yang rasa-rasanya tidak mereka butuhkan," tambahnya.

Izin akses tersebut meliputi beragam hal, di antaranya meminta akses untuk mengetahui posisi pengguna kapan saja, diberi izin untuk menyalakan kamera, dan bahkan memakai ponsel tanpa sepengetahuan pengguna. Artinya, aplikasi itu bisa melakukan hal-hal yang tidak semestinya.

"Sebagai contoh, permission di Virus Cleaner untuk upload file di sistem Anda bisa berujung penambahan malware ke ponsel yang untuk menghilangkannya, Anda harus bayar," paparnya.

Fenomena tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi Youngren. Pasalnya ada dua aplikasi ini yang telah diundur lebih dari 2 miliar kali yakni Antivirus Free 2019 dan Clean Master serta Security Master.

Dijelaskan oleh Youngren, aplikasi ini sebenarnya sudah diketahui memiliki aktivitas yang mencurigakan dan merugikan banyak pengguna, namun sayangnya masih tersedia di Google Play Store.

"Meskipun aplikasi ini telah terbukti bersalah atas kegiatan berbahaya ini di masa lalu, mereka masih tersedia di Google Play dan mengumpulkan jutaan instalasi setiap bulan," ujarnya.

Ia pun menyarankan dan memperingati pengguna Android untuk lebih waspada tentang aplikasi yang diunduh. Selain itu, VPN Pro juga mengatakan agar pengguna mengunduh dari aplikasi dengan merek terpercaya dan mengecek lebih detail izin aplikasi yang diberikan.

Berikut deretan aplikasi antivirus yang berbahaya menurut data VPN Pro:

1. Security Master - Antivirus, VPN, AppLock, Booster
2. Clean Master - Antivirus, Applock & Cleaner
3. Antivirus Free 2019 - Scan & Remove Virus, Cleaner
4. 360 Security - Free Antivirus, Booster, Cleaner
5. Antivirus Android
6. Virus Cleaner 2019 - Antivirus, Cleaner & Booster
7. Super Cleaner - Antivirus, Booster, Phone Cleaner
8. Antivirus Free - Virus Cleaner
9. Virus Cleaner, Antivirus, Cleaner (MAX Security)
10. Super Phone Cleaner: Virus Cleaner, Phone Cleaner
11. Super Security - Antivirus, Booster & AppLock
12. Antivirus & Virus Cleaner (Applock, Clean, Boost)
13. 360 Security Lite - Booster, Cleaner, AppLock
14. Antivirus Free 2019 - Virus Cleaner
15. Antivirus Mobile - Cleaner, Phone Virus Scanner https://bit.ly/35vIb2b