Kutub Selatan adalah habitat buat pinguin, paus, dan 100 juta tahun lalu, ternyata juga dinosaurus berbulu halus. Demikian kesimpulan para ilmuwan yang menemukan fosilnya.
Dikutip detikINET dari CNN, ini adalah pertama kalinya ilmuwan menemukan bukti bahwa dinosaurus memanfaatkan bulu dalam iklim ekstrim seperti di Kutub Selatan.
Tim periset internasional awalnya memeriksa koleksi fosil usia 118 tahun yang dulu ditemukan di Koonwarra, Australia. Ada tulang dinosaurus dan tanda eksistensi bulu. Bulu itu tidak sekompleks bulu burung modern misalnya, namun bentuknya sederhana seperti rambut sebagai penyekat.
"Penemuan 'proto feathers' di Koonwarra mengindikasikan bahwa lapisan bulu halus mungkin membantu para dinosaurus kecil tetap hangat di habitat kutub kuno," kata Martin Kundrat dari Pavol Jozef University.
Seperti halnya bulu burung zaman sekarang yang berpola atau berwarna, kemungkinan bulu dinosaurus itu juga demikian. Pasalnya, periset menemukan jejak melanosom, sel yang mengandung pigmen warna, dalam fosil bulu.
Diyakini warnanya gelap untuk membantu kamuflase, berkomunikasi satu sama lain serta untuk menyerap lebih banyak panas di temperatur kutub.
"Kerangka dinosaurus pernah ditemukan di dataran tinggi kuno sebelumnya. Tapi belum pernah ditemukan sisa dinosaurus yang menunjukkan bahwa mereka menggunakan bulu untuk bertahan di habitat kutub," kata pemimpin riset, Benjamin Kear. https://bit.ly/2s3PsaV
Ilmuwan Klaim Temukan 'Taman Eden' Asal Nenek Moyang Manusia
Para ilmuwan ini mengklaim menemukan tempat yang menjadi asal usul manusia yang mereka juluki Taman Eden. Letaknya di Botswana, Afrika.
Dalam studi besar baru soal DNA, periset itu coba mencari asal usul manusia dari sisi sains. Danau kuno Makgadikgadi di Botswana selatan yang sekarang kering kerontang, mereka klaim sebagai tempat di mana manusia modern pertama berkembang pada sekitar 200 ribu tahun silam.
Pada saat itu, arena bersangkutan basah dan subur, ada ikan dan juga mamalia semacam jerapah, singa dan zebra. Nenek moyang manusia disebut tinggal di sana selama 70 ribu tahun, sampai iklim lokal berubah.
Mereka pun mulai berpindah ke tanah subur di sekitar lokasi itu sampai bermigrasi ke luar Afrika. "Jelas bahwa manusia modern tampaknya muncul di Afrika sekitar 200 tahun yang lalu," kata profesor Vannes Hayes yang memimpin riset ini.
"Apa yang menjadi debat panjang adalah lokasi persis dari kemunculan tersebut dan perpindahan selanjutnya dari nenek moyang awal kita," imbuhnya, dikutip detikINET dari IOL.
Dalam studi ini, ilmuwan mengambil sampel DNA mitochindrial dari 1.217 orang Afrika. Tidak seperti DNA nuclear yang separuh-separuh berasal dari gen ibu dan ayah, DNA mitochondrial hanya diturunkan dari ibu.
"DNA mitochondrial bertindak seperti kapsul waktu dari ibu nenek moyang kita, mengakumulasi perubahan lambat dari generasi ke generasi. Membandingkan kode DNA individu yang berbeda menyediakan informasi tentang seberapa dekat mereka berhubungan dan memungkinkan pemetaan pergerakan mereka," jelas Hayes dari Garvan Institute of Medical Research, Australia.
Periset lantas mengkombinasikan genetika dengan kondisi geologi dan iklim, untuk mendapat gambaran bagaimana situasi dunia pada 200 ribu tahun yang lalu. Simulasi komputer menunjukkan bahwa pada waktu itu hujan melimpah juga berdampak ke daerah sekeliling.
"Perubahan iklim membuka lingkungan yang hijau, tetumbuhan, memungkinkan nenek moyang kita bermigrasi jauh dari tanah air untuk pertama kalinya," kata profesor Alex Timmerman, ahli iklim di Pusan National University, Korea Selatan.
Migrasi terjadi lantaran perubahan iklim membuat danau perlahan menjadi kering dan akhirnya berubah menjadi gurun. Perpindahan itu pun memicu perkembangan genetika manusia, etnis sampai perbedaan budaya.
Lokasi tersebut disebut ideal untuk manusia bertahan hidup selama sekitar 70 ribu tahun. Tentunya, tidak semua sepakat dengan studi ini.
"Seperti banyak studi lainnya yang berkonsentrasi pada jumlah kecil genom atau satu wilayah atau satu fosil, hal itu tidak dapat menangkap kompleksitas penuh dari asal muasal kita," ujar profesor Chris Stringer dari Natural History Museum. https://bit.ly/2OvgMGz