Kamis, 21 November 2019

Kenapa RI Mau Bangun Bandara Antariksa di Biak?

Pulau Biak, Papua, resmi ditetapkan sebagai tempat bandara antariksa Indonesia beroperasi nantinya. Mengapa Biak? Apa keistimewaannya?

Dalam wawancara Blak-blakan detikcom, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menyebutkan, Biak sudah sejak tahun 1980-an ingin dijadikan sebagai tempat bandara antariksa.

"Jadi para pendahulu di LAPAN sudah melihat prospek Biak sangat strategis untuk peluncuran roket karena posisinya di dekat ekuator," kata Djamal.

Sebelum terpilih Biak, pulau-pulau lain yang pernah menjadi kandidat sebagai tempat bandara antariksa adalah Morotai, Enggano dan Nias. Namun dibandingkan tiga pulai lainnya, Biak yang dinilai paling strategis dan menguntungkan.

Secara detail geografis, Biak terletak pada titik koordinat 0º55′-1º27′ Lintang Selatan (LS) dan 134º47′-136º48 Bujur Timur (BT). Posisi tersebut, sangat baik sebagai tempat peluncuran Roket Peluncur Satelit (RPS) ke Geostationary Earth Orbit (GEO) dan berdampak positif pada penghematan penggunaan bahan bakar roket ketika peluncuran.

"Kalau dekat ekuator, peluncuran untuk membawa satelit bisa ke berbagai arah, jadi bisa arah polar, dan yang jarang bisa dilakukan itu arah ekuatorial. Dan kalau diluncurkan dari ekuator akan lebih murah biayanya karena tidak perlu ada manuver untuk mengubah orbitnya," jelasnya.

Disebutkan Djamal, saat ini bandara peluncuran roket yang lokasinya dekat ekuator atau khatulistiwa baru ada di Kourou, Guyana, Prancis dan di Alkantara, milik Brasil. Itu pun untuk bandara Alkantara belum beroperasi.

"Di Afrika tidak ada. Di Asia Pasifik itu ditargetkan akan ada di Biak lokasinya," jelasnya.

Pembangunan bandara antariksa sendiri merupakan amanat UU No 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan. Tujuannya, mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa antara lain pengembangan teknologi Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang dapat membawa wahana ke orbit.

"Amanat dalam UU itu juga sudah ditetapkan Perpres terkait rencana induk keantariksaan, salah satunya mimpi besar kita 2040, setidaknya menjelang 100 tahun Indonesia di 2045, Indonesia harus sudah mampu membuat satelit sendiri, membuat roket peluncurannya sendiri, dan meluncurkan dari Bumi Indonesia sendiri," ujarnya.

LAPAN Segera Bangun Bandar Antariksa Kecil di Pulau Biak

 Sudah lama Pulau Biak digadang-gadang jadi pangkalan antariksa Indonesia. Hal ini akan jadi kenyataan.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Skala Kecil di Pulau Biak pada Rabu (6/11/2019) di Hotel Atria Gading Serpoing Boulevard, Tangerang, Banten. Rakornas ini bertujuan untuk menyatukan ide antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. https://bit.ly/2D1is5t

Dalam rilis LAPAN kepada detikcom, rakornas ini dipimpin Kepala LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin dan menghadirkan Deputi Bidang Teknologi dan Penerbangan, Dr Rika Andiarti yang akan membahas mengenai fasilitas uji terbang roket sonda di Biak. Sekretaris Utama LAPAN, Prof Erna Sri Adingsih menyampaikan materi mengenai perencanaan anggaran dan SDM untuk bandar antariksa skala kecil.

Untuk mematangkan rencana pembangunan bandar antariksa LAPAN mengajak bicara Pemprov Papua, Pemda Biak, Bappenas, Kemenristekdikti dan Universitas Cendrawasih. Pembangunan bandar antariksa di Pulau Biak tidak dapat dilakukan oleh LAPAN sendiri, mengingat harus dilengkapi fasilitas penunjang.

Dalam mencari lokasi bandar antariksa terbaik, LAPAN telah melakukan kajian terhadap alternatif lokasi di Indonesia seperti Pulau Engganao, Pulau Nias, Pulau Morotai, dan Pulau Biak. Yang memenuhi persyaratan sebagai lokasi bandar antariksa salah satunya adalah Pulau Biak, Desa Soukobye, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua di tanah LAPAN.

Mengapa Pulau Biak? Pulau Biak memiliki keunggulan kompetitif yaitu sangat dekat dengan ekuator atau garis Khatulistiwa, dimana terletak pada titik koordinat 0º55′-1º27′ Lintang Selatan (LS) dan 134º47′-136º48 Bujur Timur (BT). Dengan posisi tersebut sangat baik sebagai tempat peluncuran Roket Peluncur Satelit (RPS) ke Geostationary Earth Orbit (GEO) dan berdampak positif pada penghematan penggunaan bahan bakar roket ketika peluncuran.

Pembangunan bandar antariksa di wilayah Indonesia merupakan amanat UU No 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Ini untuk mewujudkan kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan dan antariksa antara lain pengembangan teknologi Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang dapat membawa wahana ke orbit. https://bit.ly/37r0DL2

UFO dan Alien dari Kacamata Sains

Misteri unidentified flying object alias UFO, hingga sekarang memiliki daya tarik tersendiri. Selama puluhan tahun manusia membicarakan UFO dan alien dalam berbagai versi, termasuk dari kacamata sains.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin sendiri mengaku dirinya pernah sangat tertarik pada UFO dan mencari tahu banyak informasi tentangnya.

"Seiring saya mendalami sains, akhirnya saya pahami bahwa UFO digolongkan sebagai pseudoscience atau sains semu. Jadi orang-orang menjelaskan ada kesaksian-kesaksian yang dijelaskan seolah-olah ilmiah, tapi sebenarnya tidak punya dasar ilmiah," kata Djamal dalam wawancara Blak-blakan detikcom.

Cerita UFO mulai bermunculan di zaman perang dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (sekarang Rusia) sekitar tahun 1940-an. Saat itu, banyak sekali laporan kesaksian yang mengaku melihat UFO.

Disebutkan Djamal, jika benar ada benda terbang yang dilaporkan, kemungkinan itu adalah wahana eksperimen. Untuk diketahui, pada masa itu, AS dan Uni Soviet terlibat dalam persaingan teknologi antariksa dan penjelajahan angkasa.

"Sebagian besar itu adalah objek-objek yang masyarakat tidak mengenalnya, kemudian menganggap atau mengaitkannya dengan wahana antariksa atau piring terbang yang diasosiasikan sebagai wahananya alien atau makhluk luar angkasa," kisahnya.

Berdasarkan catatan, menurut profesor riset astronomi lulusan S3 Astronomi Kyoto University ini, pernah juga ada yang melaporkan UFO jatuh ke Bumi dan awaknya alias alien yang menumpanginya ditangkap.

"Kalau betul itu ada, tentu para peneliti tidak akan tahan untuk tidak mengungkapnya. Tentu sudah sekian banyak makalah penelitian muncul (tentang UFO dan alien yang ditangkap itu). Tapi nyatanya hingga saat ini tidak ada bukti," jelasnya.

Dari sisi ilmiah, kemungkinan bahwa ada kehidupan lain di luar Bumi yang kita tinggali saat ini, memang tak dipungkiri. Dikatakan Djamal, astronomi mempercayai hal itu dan ada cabang astronomi yang khusus mempelajarinya.

"Namanya bioastronomi, menggabungkan disiplin ilmu biologi dan astronomi, mencari bukti-bukti kehidupan di luar Bumi, mempelajari syarat-syarat kehidupan di luar Bumi, kemudian juga mencari planet-planet yang mempunyai atau menenuhi syarat untuk adanya kehidupan," urainya. https://bit.ly/2KHBtOx

Namun meski diyakini bahwa ada kehidupan di luar Bumi, hingga saat ini bukti itu pun belum ada. "Setidaknya di tata surya, termasuk di Mars dan beberapa planet dan satelitnya planet, belum ditemukan ada bukti kehidupan," sebutnya.

Yang saat ini juga sedang dicari para peneliti astronomi, adalah planet-planet atau bintang-bintang yang jauh di luar tata surya. Pencarian ini berupaya menemukan sinyal-sinyal pancaran radio yang bukan merupakan pancaran radio alami.

"Asumsinya kalau di luar Bumi di suatu planet jauh di sana ada suatu kehidupan yang cerdas, asumsinya seperti manusia di Bumi, mereka pasti menggunakan gelombang radio untuk komunikasinya. Mungkin juga mereka punya keingintahuan sama seperti manusia. Bisa jadi mereka mengirimkan sinyal," terangnya.

Sejauh ini, hasil penelitian mencatat bahwa dari sekian banyak bintang dan planet tersebut, tertangkap sinyal-sinyal yang mengindikasikan sinyal tersebut bukan sinyal alami.

"Jadi seperti gelombang radio dari radar atau dari suatu broadcasting. Tapi itu belum bisa dibuktikan bahwa betul sinyal-sinyal itu berasal dari suatu peradaban di luar sana," simpulnya.

Menanggapi sejumlah kejadian yang berhasil diabadikan masyarakat terkait penampakan mirip UFO, Thomas menganjurkan agar mengonfirmasinya kepada lembaga terpercaya guna mendapat kepastian tentang kejadian yang mereka alami.

"Biasanya LAPAN dapat laporan dari teman-teman media dari berbagai tempat. Ada masyarakat melihat penampakan aneh ditanyakan ke LAPAN. Biasanya data itu berupa foto, kemudian diklarifikasi. Pertama kita lihat foto itu asli atau tidak. Kalau itu foto asli, sebenarnya objek apa sih yang tampak di sana," dia menjelaskan.

Di Indonesia misalnya, dalam catatan, pernah ada orang memotret sebuah objek di langit seperti asap yang bentuknya dianggap aneh. Setelah diteliti, ternyata penampakan tersebut adalah condensation trails atau jejak kondensasi pesawat terbang.

Ada juga beberapa kejadian yang semula diduga sebagai penampakan piring terbang, kemudian diklarifikasi oleh badan meteorologi ternyata hanya sebuah fenomena dari pergerakan awan.

Tak hanya di Indonesia, di berbagai negara pun marak cerita penampakan UFO dari dulu hingga sekarang. Yang paling fenomenal mungkin pada sekitar 1970-an di AS, bertepatan dengan misi peluncuran Apollo ke luar angkasa sedang hangat-hangatnya.

Saat itu, ada sebuah foto dari misi peluncuran Apollo yang diduga terdapat piring terbang mengikuti Apollo. Belakangan, NASA kemudian menjelaskan itu bukan UFO. https://bit.ly/2D325oN