Sabtu, 23 November 2019

Bukan Cuma Sulli dan Taeyeon SNSD, Deretan Idol Kpop Ini Juga Alami Depresi

Kematian Sulli menambah deretan panjang Idol Kpop yang harus meregang nyawa akibat depresi yang diidapnya. Banyak dari Idol Kpop yang mengidap depresi lebih dari satu kali kesempatan.

Pekerjaan mereka yang padat dan dituntut untuk selalu tampil sempurna tanpa cela membuat depresi dan gangguan kesehatan mental rentan dialami. Bahkan beberapa dari mereka sudah mengalami depresi dan tekanan saat masih menjadi trainee atau sebelum debut.

Membicarakan mengenai kesehatan mental sayangnya masih agak tabu di Korea Selatan. Hal tersebut yang membuat banyaknya pasien yang tidak mendapat perawatan secara komperhensif.

Selain Sulli dan Taeyeon SNSD, berikut deretan Idol Kpop yang juga alami depresi https://bit.ly/2KJY0tU

G-Dragon atau GD diketahui punya karisma yang berani dan percaya diri. Namun di balik itu, ia pun mengalami depresi yang bisa dilihat dari lagu-lagu yang ia ciptakan.

Di tahun 2017, pria yang bernama asli Kwon Ji Yong ini menuturkan "Saya tidak yakin ada berapa banyak yang merasa, tetapi kadang saya merasa tertekan dengan nama GD yang melekat dan membebani saya," ujarnya dikutip dari Soompi.

Suzy mendapat julukan Nation's First Love dari para penggemarnya. Suzy mungkin tampak memiliki yang sempurna dengan kecantikan, ketenaran dan seluruh cinta dari tanah air. Namun yang mengejutkan, ia mengatakan pernah menderita depresi parah di tahun 2013.


"Saya depresi dan tidak bisa memberitahu siapapun untuk sementara waktu. Suatu hari, saya mengobrol dengan teman saya dan menertawakan lelucon dan tiba-tiba saya mulai menangis," kata Suzy.

Di tahun 2008, T.O.P dilaporkan mengalami gangguan cemas dan depresi. Pada 2017, ia secara resmi mengumumkan memiliki gangguan kecemasan sosial sehingga meminta cuti saat menjalankan wajib militer.

Setelah membintangi drama 'Reply 1994' di 2013, Baro mengalami depresi ketika dia menyadari tak punya waktu untuk menemui membernya karena sangat sibuk dengan jadwal pribadinya.

Setelah Hankyung meninggalkan Super Junior, Heechul, yang merupakan sahabat dekatnya, jatuh ke dalam depresi. Ia menutup diri dan tidak tampil selama lebih dari 3 bulan.

Sebelum meninggal, Jonghyun pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa sulit baginya untuk mendiskusikan perasaannya karena takut dihakimi secara tidak adil oleh publik dan bahwa dia pikir tidak ada orang yang benar-benar ingin tahu tentang dirinya yang sebenarnya.

Dibalik tabir mega-mega dan kepopularitasannya, Suga BTS juga mengalami depresi yang berawal sejak masa training atau pelatihan. Ia menumpahkan kisahnya di lagu-lagu yang ia tulis.

"Selama masa remajanya, saya menderita depresi, obsesif kompulsif, dan anthrophobia. Saat tumbuh besar dan berhasil menjadi bintang sukses sebagai penyanyi k-Pop, saya memiliki perasaan campur aduk tentang ketenaran dan perhatian," kata Suga dilansir dari Koreaboo. https://bit.ly/2OAG7ih

5 Hal yang Sebaiknya Tak Diucapkan Saat Orang Lain Sedang Depresi

Sebelum ditemukan meninggal karena bunuh diri, Sulli eks f(x) sejak lama menunjukkan tanda-tanda depresi. Salah satunya mengeluh kesepian seolah tidak ada yang mendengarkan.

Bisa saja, Sulli bukan tidak mau cerita. Namun respons orang lain di sekelilingnya, mungkin membuatnya tidak merasa nyaman untuk membuka diri mengungkapkan beban hidupnya.

Depresi merupakan kondisi kejiwaan yang membutuhkan penanganan profesional, baik terapi psikologis maupun dengan obat-obatan. Dukungan dari lingkungan sangat dibutuhkan untuk bangkit dari kegelapan.

Seringkali, yang didapat justru sikap dan perkataan yang memojokkan. Menyalahkan, seolah depresi muncul semata-mata karena kurang bersyukur, lemah iman, dan sebagainya. Bukan menenangkan, sikap seperti ini kadang membuat kondisi depresi makin memburuk.

Agar tidak salah ambil sikap, berikut beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika hendak menunjukkan dukungan pada seseorang yang mengalami depresi. https://bit.ly/2KNM2zD

1. Berusahalah, pasti ada jalan!
Menyuruh seseorang 'berusaha' ketika ia sebenarnya telah melakukan yang terbaik hanya akan meruntuhkan semangatnya, dan membuatnya makin tidak punya harapan. Ada banyak faktor yang memicu depresi dan tidak semua bisa dikontrol.

2. Ayo semangat, semua akan baik-baik saja!
Memaksa seseorang untuk senyum dan bersemangat saat hatinya tercabik-cabik bukanlah bentuk dukungan yang tepat. Sikap ini hanya terkesan meremehkan apa yang orang lain rasakan.

3. Masa sih depresi, kok tidak kelihatan sedih?
Banyak orang bisa tetap tersenyum dan tertawa meski kegelapan menyelimuti pikiran. Apa yang tampak dari luar tidak selalu menunjukkan situasi yang sebenarnya. Sangat umum orang-orang dengan depresi dan kegelisahan sengaja menutupi kondisinya dengan senyuman di wajah.

4. Ada yang lebih menderita dari kamu
Saat menghadapi seseorang yang sedang mengalami depresi, hindari membanding-bandingkan penderitaan. Luka batin itu subjektif, sakit bagi seseorang belum tentu sesakit itu bagi yang lain. Yang sedang mereka hadapi bukan lomba, bukan mencari siapa yang paling menderita.

5. Salurkan ke hal-hal yang positif
Memang banyak penelitian yang membuktikan, olahraga bisa meredakan depresi. Tapi saran itu tidak untuk disampaikan secara langsung saat seseorang sedang terpuruk batinnya. Andai semudah itu mengatasi depresi, pasien dari klinik psikologi mungkin akan berbondong-bondong pindah ke pusat kebugaran.

Lalu apa yang sebaiknya disampaikan? Tidak ada panduan baku memang, yang jelas harus menunjukkan empati. Contohnya seperti ini:

1. Kalau kamu mau cerita, aku di sini untuk mendengarkan dan membantumu
2. Kamu sangat berarti
3. Aku tidak tahu pasti perasaanmu seperti apa, tapi aku yakin pasti sulit sekali
4. Kamu tidak sendiri. https://bit.ly/34eUtvg