Sabtu, 23 November 2019

Pengidap Depresi Ingin di-Ruqyah, Psikiater: Nggak Ada Masalah

Tak jarang pengidap gangguan jiwa mengunjungi pengobatan alternatif seperti ruqyah yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap mampu mengurangi gejala stres atau depresi. Banyak pasien gangguan jiwa yang akhirnya selain melakukan pengobatan medis, juga tetap melakukan terapi ruqyah.

"Gimana kalau dia mau ruqyah dan mendatangi dokter juga? Kalau misalnya mau di ruqyah, silahkan aja. Toh dilarang juga nggak bisa," kata psikiater dari RS Omni Hospital BSD, dr Andri SpKJ, FCLP, kepada detikcom saat dijumpai di daerah Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019).

Setiap orang punya cara mendapatkan pertolongan, papar dr Andri. Kalau misalnya memang pasien berobat ke pengobatan alternatif dan dapat hasil yang baik, misalnya dengan dia curhat lalu gejala gangguan jiwa yang ia alami berkurang, maka itu suatu nilai plus.

"Kalau sama-sama baik, sama-sama mendukung orang itu menjadi bagus, nggak apa-apa. Hanya yang jadi masalah kalau misalnya fokus pada pengobatan alternatif saat ada gejala yang harus segera ditangani," sebutnya.

Ia berharap guru spiritual seperti romo, ustad, konselor, psikolog, hipnoterapi, bisa memahami kalau gejala gangguan jiwa yang dialami oleh pasien sudah masuk kategori berat seperti muncul ide-ide bunuh diri, halusinasi, bahkan paranoid, untuk segera di rujuk ke psikiater agar mendapat penanganan yang komperhensif. https://bit.ly/2QFSyMx

Viral Cucu Tendangi Kakeknya, Marah Tak Terkendali Tanda Gangguan Jiwa?

Nama Youtuber Iyus Sinting viral ketika beredar video dirinya marah-marah, menendang kakek sendiri. Pria bernama asli Yusminardi (22) itu mengaku menyesal dan telah meminta maaf kepada sang kakek, Wasidi (65).

"Langsung nyesel saya, bertahun-tahun ikut Mbah, kok saya main tangan, nyesel saya," ucapnya saat diperiksa di Mapolres Kendal, Kamis (21/11/2019).

Iyus mengaku emosi menendang dan memukuli sang kakek karena mengetahui ada ikan beserta pakannya di bak mandi. Namun selain itu dirinya juga mengaku sedang menghadapi masalah lain yang juga mungkin membuat dirinya mudah tersulut.

"Marahnya bukan (hanya) gara-gara itu. Memang lagi banyak masalah," akunya.

Terkait hal tersebut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pernah menjelaskan tentang gangguan kesulitan mengendalikan emosi meledak-ledak. Menurutnya bila hal ini terjadi berulang dan terus-menerus maka sebaiknya segera konsultasi pada profesional karena bisa jadi tanda gangguan jiwa.

"Beberapa gangguan kejiwaan seperti gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, juga memiliki tanda dan gejala marah yang tidak terkontrol," kata dr Lahargo beberapa waktu lalu.

"Marah yang terlalu hebat dan terus menerus berulang jelas akan sangat mengganggu. Lakukan anger management (manajemen marah) untuk dapat mengontrol marah agar tidak terjadi hal yang merugikan," lanjutnya.

Iyus sendiri menjalani pemeriksaan di Mapolres Kendal. Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Nanung Nugroho mengatakan peristiwa dalam video terjadi pada 17 November 2019 di rumah mereka di Dusun Delesari, Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. https://bit.ly/2rgZg0U

Sulit Konsentrasi dan Cepat Emosi, Apakah Indikasi Gangguan Mental?

Halo Dok. Saya seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PT di Depok, usia 21 tahun menjelang 22 tahun. Sebelumnya terimakasih atas kesediannya menjawab pertanyaan saya. Saya saat ini sedang berusaha mengenali problem yang terjadi ke pada diri saya.

Semenjak kecil hingga saat ini, saya sangat sulit untuk konsentrasi dan menangkap pesan lawan bicara saya. Baik ketika sesi kelas belajar atau berinteraksi dengan orang lain. Semisal, ketika seseorang sedang menjelaskan tentang komposisi sebuah makanan, saja justru mengkhayalkan hal lain semisal saya bisa berwisata ke suatu tempat atau memikirkan masalah-masalah saya yang lain.

Begitu pula ketika ditanya tempat alamat tinggal saya, saya justru merespon dengan jawaban lain semisal alamat kampus saya. Hal ini amat sering terjadi. Karena hal inilah saya sering diejek dan sejujurnya saya merasa tidak nyaman.

Saya juga sering menganggap diri saya rendah, tidak bisa, takut menghadapi persoalan dan seringkali lari dari persoalan. Saya takut diabaikan, dan seringkali tidak tahan dengan kritik dan masukan dari orang lain, karena itu saya seringkali menyakiti diri saya sendiri ketika dikritik, tidak memenuhi ekspektasi saya atau orang lain atau gagal melaksanakan suatu pekerjaan.

Hal yang sering terjadi berikutnya, saya terkadang bisa memberikan perhatian, terlihat sabar dan baik, suka membantu, dan sifat positif lainnya. Hal ini disampaikan beberapa kali oleh teman saya. Tetapi begitu terkena kritik atau masukan dari teman atau orang tua, saya melampiaskannya ketika di rumah dengan orang tua atau adik saya. Saya langsung bersifat agresif di rumah dan sering marah. Meski saya menyadari maksud dari kritik tersebut baik setelah saya bersifat agresif tadi.

Saya juga sering mengemudi secara ceroboh, boros, mengerjakan hal yang tidak prioritas, dan sering mengalami perubahan suasana hati yang tak menentu selama berbulan bulan. Beberapa kali saya menganggap "kayaknya kalau tidak ada saya di dunia ini, bakal aman aman saja deh" dan beberapa kali terpikir bunuh diri.

Dari rangkaian kejadian di atas, yang ingin saya tanyakan, apakah saya mengalami gangguan kesehatan mental? kalau iya, termasuk di gangguan kesehatan mental bagian aman? Apakah saya disarankan untuk menemui psikolog/psikiater? apakah akan ada obat terkait persoalan saya? Terimakasih banyak atas jawabannya. https://bit.ly/2qFnhP3

M (Laki-laki, 22 tahun)

Jawaban

Hallo Bro M,

Kemarin baru saja saya berbincang dengan teman wartawan Detik tentang masalah kejiwaan yang sering menghinggapi para generasi milenial, dan apa yang dikatakan oleh M adalah salah satu contohnya yang paling sering saya tangani di praktek sehari-hari. Konsentrasimu yang dikatakan terganggu dan sering salah menjawab pertanyaan mungkin disebabkan karena masalah dalam perhatian (karena dirimu mengatakan hal tersebut sejak kecil dirasakan) tapi bisa juga terkait dengan masalah depresi yang biasanya berakibat konsentrasi yang menurun. Namun yang menjadi inti masalah yang kamu sebutkan adalah latar belakang kepribadian ambang atau Borderline personality disorder yang mungkin kamu alami dan menyebabkan gejala-gejala seperti yang disebutkan di suratmu ini.

Fluktuasi dalam emosi dan perasaan adalah salah satu gejala orang dengan kepribadian ambang. Beberapa sangat sulit menerima penolakan dari orang lain dan ada kecenderungan rendah diri karena merasa tidak diterima orang lain. Tapi sebenarnya dalam keseharian orang ini juga bisa bergaul seperti biasanya namun sering kali menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Khawatirnya diri orang yang mengalami masalah kepribadian ambang adalah dirinya bisa ditolak di kemudian hari oleh kelompoknya tersebut. Beberapa di antaranya cenderunga akan lari dari kelompoknya lebih dulu daripada berharap bisa terus bersama-sama namun akhirnya ditinggalkan.

Kondisi ini lah yang sering memicu gejala depresi pada sebagian kasus pasien dengan gangguan kepribadian ambang, beberapa lagi juga ada yang mengalami gangguan bipolar. Saran saya berkonsultasilah ke psikiater agar mendapatkan pertolongan. Semoga bisa membantu. https://bit.ly/2XFGNHx