Sabtu, 23 November 2019

Kabut Asap di Sydney Tetap Akan Bertahan, Polusi Lebih Buruk dari Beijing

Bagi anda yang ingin mengunjungi kota Sydney dalam beberapa hari ke depan mungkin mesti berpikir ulang kalau khawatir dengan masalah kesehatan berkenaan dengan kabut asap.

Kabut asap di Sydney
Kualitas udara di Sydney dalam kategori 'berbahaya' selama tiga hari minggu ini
Kebanyakan asap berasal dari kebakaran semak di NSW Utara
Kebakaran semak dan hutan in tidak akan bisa dipadamkan dalam beberapa pekan ke depan
Walau di beberapa bagian, suasana tampak lebih cerah namun kabut asap tersebut diramalkan akan kembali lagi dan akan bertahan selama beberapa minggu ke depan.

Polusi udara di kota Sydney sepanjang minggu ini memburuk karena kombinasi asap dari belasan kebakaran semak, dan juga debu yang diterbangkan angin dari kawasan NSW yang dilanda kekeringan parah.

Hari Selasa (19/11/2019) dan Kamis (21/11/2019), Indeks Kualitas Udara (AQI) di hampir semua kawasan di kota Sidney dilaporkan sebagai berbahaya.

Hari Jumat pagi, hampir di semua lokasi di negara bagian New South Wales indeks di atas 200, yang berarti kondisinya berbahaya.

Polusi udara ini bahkan lebih buruk dari kota Beijing di China, yang sering dijadikan patokan untuk menunjukkan tingkat polusi udara di dunia.

LOCATIONAQI SydneyCBD 229 Richmond 651 Liverpool 300 Wollongong 207 Newcastle 245 Wagga Wagga 308
Peramal cuaca dari Biro Meteorologi (BOM) Abrar Shabren mengatakan kabut dan asap dari kebakaran semak yang masih bertahan akan membuat situasi penuh kabut akan tetap bertahan di Sydney sampai akhir pekan. https://bit.ly/2QF8qyV

Thick smoke blankets the railway station at Granville, in western Sydney.
Kualitas udara di kawasan Granville di Sydney Barat sudah melewati ambang batas berbahaya karena kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut. (Twitter: @LaPetitTrader)


Juru bicara RFS Anthony Bradstreet mengatakan bahwa 1,6 juta hektar lahan di NSW sudah terbakar tahun ini saja.

"Masih ada 6 ribu kilometer persegi lahan yang terbakar. Diperlukan hujan yang deras dan lama untuk mematikan api." katanya.

"Para petugas sedang berusaha keras untuk mengatasi api supaya tidak menjalar."

"Tanpa adanya hujan, semak dan hutan ini bisa terus terbakar selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan.' 

'Kami Ingin Melarang', Sampah Australia Cemari Bahan Makanan di Jatim

Pemerintah Australia berjanji untuk melarang sampah plastik, kertas bekas, ban serta kaca bekas dan menjadikan proses daur ulang yang bertanggungjawab sebagai prioritas.

Telur Tercemar Limbah:
Laporan LSM setempat menyebut telur ayam di Jatim tercemar limbah sampah impor
Indonesia merupakan negara terbesar kedua penerima sampah Australia
Sampah plastik yang tak bisa didautulang dijadikan bahan bakar pada 40 pabrik tahu
Demikian pernyataan pihak Departemen Lingkungan Hidup dan Energi terkait dengan ekspor sampah dari Australia yang tercemari bahan limbah berbahaya.

Sampah impor dari berbagai negara termasuk Australia kembali jadi sorotan menyusul temuan telur ayam yang tercemari limbah berbahaya di dua desa di Sidoarjo, Jawa Timur.

Sebuah LSM bernama International Pollutants Elimination Network (IPEN) merilis laporan mengenai telur ayam kampung di dekat pembuangan sampah yang terbukti tercemar dioksin dalam kadar sangat tinggi dari limbah sampah impor.

Dioksin merupakan polutan organik persisten yang secara ilmiah diidentifikasi sebagai "bahan kimiawi paling berbahaya dan beracun di muka bumi".

Bahan kimiawi ini telah dikaitkan dengan kelahiran cacat pada bayi serta penyakit Parkinson.

Menurut laporan IPEN, ekspor limbah plastik tidak hanya menghasilkan polusi di sekitar lokasi pembuangan di Jatim, tapi juga mencemari rantai makanan dalam "konsentrasi berbahaya". https://bit.ly/2D5rgHt

Kritik dari Profesor di Australia: Masyarakat Indonesia Susah Terima Perbedaan

Dua ideologi besar dianggap sedang bertarung di Indonesia saat ini, mereka adalah ideologi nasionalisme dan Islam, kata seorang Profesor Kajian Indonesia di Monash University. Dari keduanya, masing-masing memiliki elemen ekstrimis. Karenanya tak heran, masyarakat Indonesia terkesan khawatir terhadap perbedaan.

Berbicara di Jakarta (20/11/2019), Profesor Ariel Heryanto menyebut masyarakat Indonesia begitu takut terhadap kemajemukan, bahkan termasuk kelompok yang membawa slogan-slogan kemajemukan itu sendiri.

Ia mengatakan perbedaan tidak boleh dilawan dengan hukuman.

"Kalau mau melawan pikiran orang, ya dengan pikiran, jangan dihukum. Tapi kalau orang itu melakukan tindakan kriminal, silahkan diproses, bukan pikirannya yang disalahkan," utaranya kepada awak media selepas memberi kuliah umum di acara peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Australia di Museum Nasional Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2019) lalu.

"Mengapa begitu takut pada perbedaan? Itu salah, harusnya justru bersyukur ada perbedaan," imbuh Ariel.

Namun Profesor asal Indonesia di Monash University, Australia, ini memaklumi jika rezim penguasa terkesan tidak siap menerima perbedaan.

"Mengapa? Karena jadi lama, repot, bikin keputusan ini enggak setuju, itu enggak setuju. Kan orang jadi enggak sabar," kemukanya.

Belajar dari pengalaman Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 April lalu, masyarakat Indonesia seharusnya bisa lebih bersabar dalam menghadapi realita sosial.

"Kenapa sih harus buru-buru? Lebih lama sedikit enggak apa-apa. Contoh kecil aja lah, kalau kita mau agak vulgar ya, lihat tuh Pilpres."

"Berapa korbannya? Ternyata dua calonnya juga dansa-dansi bersama tuh. Jadi sebenarnya kalau anda mau bersabar sedikit, sebenarnya enggak masalah perbedaan itu," tegas Ariel.

Argumen lainnya, Prof Ariel mengatakan perbedaan terlihat mengancam terhadap orang yang berpikiran lemah, selain terhadap mereka yang berkuasa.

"Orang yang pikirannya lemah, dia takut dengan pemikiran lain yang berbeda, yang kuat. 'Hilangkan itu, enggak bener itu'. Salah, seharusnya yang lemah itu diperkuat."

"Tapi jangan larang orang yang berpikiran beda."

Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre ini tak memungkiri jika kekhawatiran terhadap kemajemukan juga ditemukan dalam kelompok yang mengusung slogan 'NKRI harga mati'.

"Dia juga anti-kemajemukan kalau begitu. Dia anti-kemajemukan dalam pengertian nomor satu, seakan-akan dia sudah benar sendiri."

"Seakan-akan dia sudah mewakili kemajemukan Indonesia. Indonesia itu ya dia-dia saja, padahal Indonesia itu macam-macam dan semuanya berhak," kata Ariel.

Menurut penulis buku State Terrorism and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging ini, pencegahan paham ekstrimisme tidak bisa dilakukan dengan pelarangan. Pihak yang berwenang harus menelusuri penyebab dari tindakan itu sendiri. https://bit.ly/2QKEIbC

"Orang mengatakan karena pikiran, saya enggak setuju. Kalau menurut saya masalah ketimpangan."

"Ketimpangan bisa dalam arti ekonomi, bisa dalam arti jenis kelamin. Pelecehan terhadap perempuan itu sangat serius loh di Indonesia, pelecehan terhadap agama-agama minoritas, itu sangat serius sekali. Jadi enggak cuma ekonomi."

"Kemudian mereka jadi korban sehingga frustasi. Enggak ada yang mewakili dan membela mereka," jelas Ariel.

Pentingnya pendidikan sejak dini
Dalam kesempatan yang sama, Ariel Heryanto juga menyampaikan bahwa ekstrimisme dan pemahaman tak lazim tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di Australia.

Perbedaannya, sebut Guru Besar di Monash University ini, pemahaman-pemahaman seperti itu tak mendapat tempat di Australia.

"Di Australia itu banyak pikiran yang aneh-aneh tapi enggak pernah laku. Kalau di sini (Indonesia) laku, kenapa?"

"Bagaimana cara menghadapi pikiran yang aneh-aneh? Ya saya jawab, letakkan sampah pada tempatnya. Titik. Jangan dilayani."

"Tapi kalau banyak yang melayani ya itu harus ditanya kenapa? apa ketimpangan ekonomi, seksual dan semacam itu?," paparnya.

Menanggapi ekstrimisme yang terjadi di negaranya, termasuk Islamophobia, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, mengatakan agama tak pernah menjadi persoalan.

Gary menekankan, di negara manapun, persoalan ekstremisme saat ini menjadi sebuah tantangan.

"Karena individu di masing-masing negara kita bisa menjadi ekstrimis."

"Kuncinya adalah pendidikan dari usia dini, sehingga orang bisa belajar soal toleransi dan penerimaan terhadap orang lain," ujarnya selepas kuliah umum Prof Ariel di Museum Nasional.

Di dalam sebuah negara dengan identitas multibudaya seperti Australia, sebut Gary, Pemerintah harus fokus untuk memastikan warganya benar-benar memahami tentang budaya tiap harinya dari usia belia. https://bit.ly/37F4PHc