Minggu, 24 November 2019

Pria yang Tidak Disunat Berisiko Lebih Besar Tularkan HIV

Tidak semua pria menjalani tindakan sunat atau sirkumsisi. Padahal, sunat memiliki manfaat yang begitu besar bagi kesehatan, salah satunya mencegah penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Sunat merupakan tindakan membuang kulup atau kulit ujung penis. Dokter spesialis bedah saraf dari Rumah Sunat dr Mahdian Nur Nasution, SpBS mengatakan bahwa kulup sel-sel mukosa yang memproduksi smegma, yaitu kotoran penis. https://bit.ly/37zQdsA

"Kaitannya gini, kalau pria belum disunat itu panjang penutupnya (kulupnya) ada lipatan-lipatan. Pada proses hubungan seksual, kulit itu akan bergesek-gesek di bagian dalam vagina. Mukosanya akan gampang lepas, sehingga akan terjadi lecet. Kalau lecet keluar serum luka di situlah kuman HIV itu keluar," jelasnya saat ditemui di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Selasa (18/6/2019).

Pada penis pria yang sudah disunat, dr Mahdian mengatakan struktur penis akan lebih licin dan pas pada vagina karena hanya terdiri tidak ditutupi oleh kulit kulup. Pada kondisi ini, risiko adanya lecet pun akan berkurang.

Selain bisa mencegah penularan HIV, sunat juga memiliki manfaat lainnya, seperti mencegah risiko infeksi menular seksual, mencegah risiko infeksi saluran kemih, penis menjadi lebih bersih, dan bahkan bisa mencegah risiko terjadi kanker penis.

"Untuk jangka panjang sunat bisa mencegah kanker penis dan kanker serviks," tegas dr Mahdian.

Sunat Bisa Mencegah Kanker Penis, Mitos atau Fakta?

Kanker penis memang relatif jarang terdengar namanya. Tetapi sangat ditakuti para pria karena bisa berujung pada amputasi organ vital mereka.

Jenis kanker ini dipicu oleh infeksi HPV (Human Papiloma Virus), virus yang sama seperti penyebab kanker serviks pada perempuan. Ada anggapan, sunat pada pria bisa menurunkan risiko infeksi tersebut.

"Pernyataan sunat dapat menurunkan risiko kanker penis itu benar," kata dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada saat dihubungi detikHealth.

Menurut dr Akbari, kanker penis salah satunya disebabkan oleh infeksi dan higiene penis yang buruk. Sunat dapat menurunkan risiko infeksi karena kebersihan ujung penis akan lebih terjaga.

Tak hanya untuk mencegah infeksi HPV penyebab kanker penis, sunat juga bisa menurunkan risiko berbagi infeksi lain pada penis. Namun dr Akbari menyarankan, sebaiknya sunat dilakukan sebelum pubertas agar efek protektifnya maksimal.

"Hal ini sangat dianjurkan karena efek proteksi itu akan hilang atau tidak ada gunanya bila hal ini dikerjakan ketika sudah remaja atau masuk ke dalam masa pubertas," jelas dr Akbari. https://bit.ly/2s89xwB

Mr P Digerogoti Kanker karena Sering Masturbasi, Mungkinkah Terjadi?

Walaupun relatif jarang terdengar, kanker penis memang ada dan bisa menyerang pria manapun. Namun bila ada yang mengaitkannya dengan kebiasaan masturbasi, tunggu dulu. Dokter bisa menjelaskannya.

Dokter urologi dari RS Mayapada, dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU, menjelaskan bahwa kanker penis disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papiloma Virus). Jenis virus yang sama dengan penyebab kanker serviks pada wanita, dan tidak ada hubungannya dengan masturbasi.

"Masturbasi tidak ada kaitannya dengan luka di luar. Kanker penis itu terjadi berupa infeksi akibat Human Papiloma Virus (HPV) dan hygienennya yang buruk. Jadi nggak ada masturbasi yang dapat meningkatakan risiko kanker penis," jelas dr Akbari saat dihubungi detikHealth, Jumat (1/2/2019).

Jangankan masturbasi. Infeksi pada Mr P pun tidak serta merta bisa memicu kanker penis, hanya infeksi HPV yang bisa memicu penyakit tersebut. HPV ditularkan antara lain lewat kontak langsung, misalnya saat berhubungan badan. https://bit.ly/2OezseC

"Penyebab utama kanker penis adalah HPV, kalo wanita yang terkena HPV itu bisa terjadi pada wanita kanker serviks yang suka gonta-ganti pasangan, dan lain sebagainya. Intinya berhubungan badan," lanjut dr Akbari.

Sederet Fakta Kanker Penis, Penyebab hingga Risiko Amputasi

 Kanker penis adalah hal yang jarang terdengar, akan tetapi di Indonesia sendiri ditemukan pasien-pasien dengan kondisi tersebut. Penis merupakan organ pada bagian antara pangkal paha yang berfungsi sebagai saluran keluarnya urine dan air mani, karena itu peranannya sangat penting.

Apakah kamu sudah memahami dengan baik mengenai kanker penis? Dilansir Men's Health, ini dia beberapa fakta terkait kanker penis.

Kanker penis disebabkan oleh inveksi Human Papiloma Virus (HPV), virus yang sama dengan kanker serviks pada wanita. Virus HPV memiliki banyak tipe, beberapa di antaranya dapat menyebabkan perubahan pada sel tubuh yang berkembang menjadi kanker. Sekitar 40 tipe HPV hidup di membran mukosa seperti vagina, serviks, dan anus.

Pria berusia 60 dan lebih tua adalah populasi usia paling berisiko untuk kanker penis, sementara kasus di antara pria yang lebih muda sangat jarang terjadi. Ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa risiko mengembangkan phimosis (kulup penis melekat kencang pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik) sedikit meningkat seiring bertambahnya usia pria yang tidak disunat, yang mana bisa memperburuk pemaparan kepala penis terhadap kemungkinan karsinogen seperti HPV.

Karena banyak yang belum tahu lebih dalam soal kanker penis, banyak juga yang kebingungan dalam menyebutkan tanda-tanda dari penyakit ini.

"Penis sering terasa sakit, dan adanya benjolan di ujung penis pria. Setelah berminggu-minggu tidak kunjung mengempis. Adanya ruam atau bisul di sekitar benjolan tersebut. Dan adanya bau tidak sedap di bawah kulup penis pria," ujar dr Poh Beow Kiong, ahli Urologi dari Parkway Hospital beberapa waktu lalu.

Strategi pengobatan biasanya dimulai dengan mengambil biopsi jaringan dari penis untuk memastikan lebih lanjut. Dari sana, pasien umumnya menjalani salah satu dari dua operasi, pembedahan penis sebagian atau penectomy parsial apabila ditemukan lebih awal. Namun bisa juga dilakukan pengangkatan total kelenjar penis (penectomy) pada stadium yang lebih lanjut.

Tujuan pengobatan dengan penektomi parsial adalah mempertahankan panjang penis yang memungkinkan pria untuk buang air kecil sendiri. Kemoterapi topikal juga digunakan ketika mencoba untuk mempertahankan penis.

"Kanker penis itu ada 2 jenis, tahap dini dan tahap lanjut. Untuk tahap dini, masih ada pilihan menerapkan pengobatan yang lebih terlokalisasi, misalnya dengan obat atau leser. Kalau untuk ketahap lanjut, lebih besar kemungkinan untuk diamputasi seluruhnya atau amputasi sebagian," kata dr Richard Quek, senior konsultan Medical Oncology Parkway Cancer Center, dalam kesempatan lalu rekan-rekan media. https://bit.ly/2XFNCbO