Minggu, 24 November 2019

Ahli Terapi Ruqyah Sebut Pelaku Pamer Saldo ATM dan Lempar Sperma Perlu di-Ruqyah

Belakangan ini viral tren pamer saldo ATM artis yang ramai diperbincangkan karena terkesan pamer dan berlebihan. Selain itu, ada juga pelaku lempar sperma yang dikaitkan dengan gangguan jiwa.

Menurut praktisi ruqyah Muhammad Hafidz, perilaku itu bisa dihilangkan dengan terapi ruqyah. Jika biasanya ruqyah identik dengan pengusiran jin lewat doa-doa, kali ini juga dibarengi dengan terapi psikis.

Artinya kondisi seseorang didiagnosa dengan pendekatan mental. Menyelesaikan persoalan yang ada dengan konseling terlebih dahulu sebelum dibacakan doa-doa untuk mengeluarkan jin yang ada dalam tubuh pasien.

"Karena perilaku itu pertama mereka harus dijelaskan itu salah, nah susahnya psikis begitu. Nah kalau gangguan jin nggak usah make diagnosa jinnya keluar selesai, orangnya berubah. Tapi kalau psikis nggak, karena masalahnya ada di orangnya bukan jinnya. Jin ini masuk karena ada celah di orangnya," kata Hafidz saat dihubungi detikcom baru-baru ini.

Menurut Hafidz, ruqyah tidak hanya untuk mengeluarkan makhluk gaib akibat kesurupan. Setiap perilaku yang menyimpang dari syariat juga perlu ditangani dengan ruqyah. Karena setiap perilaku menyimpang biasanya terdapat gangguan dari makhluk gaib.

"Setiap penyimpangan yang terjadi di luar pada syariat islam itu biasanya ada syaitonnya. Dan nggak hanya itu aja, biasanya perokok dan segala macem itu kalau dia mau tobat itu kan ada syaitonnya," tambahnya.

"Jadi dianggap menyimpang dan rokok itu hukumnya harom, ketika dia pakai sesuatu yang haram itu dan dia suka, nah itu ada masalah dengan orang itu, perlu diruqyah," jelasnya. https://bit.ly/2OhA0AB

Pengidap Gangguan Jiwa yang Lakukan Ruqyah Juga Diberi Sesi Konseling

Ada berbagai metode yang dilakukan dalam proses meruqyah seseorang. Tidak hanya dibacakan doa-doa tertentu, tetapi juga punya sesi konseling yang biasanya dipakai untuk mengatasi rasa takut, depresi, halusinasi, atau gangguan jiwa lainnya.

Sesi konseling ini masuk dalam terapi psikis. Dalam sesi ini pasien akan lebih menceritakan tentang masalah yang ia hadapi baik di masa lalu atau sekarang, yang dianggap mengganggu mentalnya.

"Kebanyakan ruqyah nggak pakai diagnosa, langsung dibaca (didoakan). Kalau kita, diagnosa dulu penyebabnya ini psikis atau jin. Kalau psikis biasanya kita (arahkan untuk) selesaikan dulu masalahnya, kita konseling dulu orangnya, kita buka dulu hatinya," kata Muhammad Hafidz, praktisi ruqyah, kepada detikcom.

"Kita buat perumpamaan dia udah bisa menerima semuanya dia sadar dengan kesalahannya itu kita obatin (ruqyah) jinnya keluar selesai," jelasnya saat dihubungi detikcom baru-baru ini," sambungnya.

Hafidz meyakini sesi konseling akan memperlihatkan bahwa mereka yang kesurupan hampir sama dengan mengalami gangguan jiwa. Meski demikian, ada perbedaan yang mencolok saat pasien kesurupan jin atau mengalami masalah mental.

Ia mengambil contoh seseorang yang diganggu oleh makhluk gaib akan sembuh saat di ruqyah, dalam artian keluhan sakitnya misal depresi atau stres juga ikut mereda. Lain cerita jika pasien kala itu memang mengalami gangguan mental. Mereka tidak langsung sembuh hanya dengan ruqyah.

"Karena awalnya gangguan psikis jadi awalnya dalam proses meruqyahnya ini masalah psikisnya harus diselesaikan dulu baru nanti di ruqyah jinnya bisa keluar. Nah kebanyakn orang yang sakitnya nggak sembuh-sembuh ini awalnya yang gangguan psikis bukan gangguan jin," jelasnya.

Sebelumnya, psikiater dari RS Omni Hospital BSD, dr Andri SpKJ, FCLP, menyebut setiap orang punya cara mendapatkan pertolongan. Kalau misalnya pasien berobat ke pengobatan alternatif seperti ruqyah dan dapat hasil yang baik, misalnya dengan dia curhat lalu gejala gangguan jiwa yang ia alami berkurang, maka itu hal positif.

"Kalau sama-sama baik, sama-sama mendukung orang itu menjadi bagus, nggak papa. Hanya yang jadi masalah kalau misalnya fokus pada pengobatan alternatif saat ada gejala yang harus segera ditangani," sebut dr Andri.

Meski demikian, ia berharap guru spiritual bisa memahami kalau gejala gangguan jiwa yang dialami oleh pasien sudah masuk kategori berat seperti muncul ide-ide bunuh diri, halusinasi, bahkan paranoid, untuk segera di rujuk ke psikiater. https://bit.ly/2s7FvJq

Mau Sampai Kapan Gangguan Jiwa Dianggap Kerasukan Setan?

 "Semua nganggep gue kesurupan," kenang Lintang (23). "Gimana mau berobat, pas lagi kambuh aja dibawanya ke orang pinter. Sembuh enggak, makin stres iya."

Lintang hanya satu dari sekian banyak pengidap depresi yang diberi label sama oleh masyarakat. Kesetanan, kesurupan, gila, disandang mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Terkadang, stigma yang melekat kuat menjadi penghalang mereka mencari bantuan profesional. Merasa malu dan takut jika cerita, padahal batin sudah meronta-ronta ingin cari bantuan.

"Gue sampai dijauhin sama temen-temen karena katanya kesurupan gue nggak sembuh-sembuh. Lucu sih kalau diingat sekarang, tapi dulu itu salah satu yang bikin gue ke trigger."

Perlakuan orang tua dan teman menjadi dua faktor utama remaja mengalami gangguan jiwa. Bayangkan jika di sekolah, waktu di mana mereka menghabiskan setengah harinya, diisi dengan sindiran, makian, umpatan, bahkan bully, yang disematkan pada remaja.

Hal yang sama dialami oleh Rai (25), yang memiliki niat bunuh diri karena depresi yang dialaminya sejak duduk di bangku SMA. Ia tak bisa mencari bantuan lewat manapun karena kala itu bimbingan konseling hanya menangani siswa yang bermasalah dengan akademik. Terlebih, ia juga mengaku tak bisa cerita ke siapapun karena takut mendapat stigma.

"Tau sendiri orang Indonesia kayak gimana. Walau cerita sama saudara, pasti ada kecenderungan buat memihak," kata Rai.

Saat kesehatan mental mulai membumi, sekitar tahun 2015 awal, Rai mencoba peruntungannya untuk menghubungi layanan konseling dan psikolog namun selalu kandas karena tak mendapat respon. Kadung kesal ditambah tekanan karena depresi, ia sempat mencari 'cara terbaik' untuk mengakhiri hidup.

"Sempat dulu browsing tentang rating seberapa sakit cara-cara suicide. Mulai dari gantung diri, minum racun, overdose," kenangnya. "Tapi untung guanya yang takut mati, gue ngurugin niat aneh-anehnya. Larinya ke alkohol," paparnya.

Sampai sekarang, Rai tak mengikuti konseling karena pikirnya, akan ada mediasi dengan orang tua dan ia sangat menghindari itu. Belum lagi jika sanak saudara dan teman yang jadi pemicu itu tahu kondisinya lalu memberinya stigma. Bukan tidak mungkin, pikiran akan mengakhiri hidup akan muncul kembali. https://bit.ly/2scEyQc

Memang benar, masyarakat Indonesia makin sadar akan kesehatan jiwa. Terbukti dengan banyaknya LSM yang bergerak khusus mengatasi permasalahan tersebut. Gaungnya sudah ada dan besar. Telah banyak yang mengisahkan pengalaman mereka saat berjuang sembuh dari penyakitnya.

Tapi mengapa stigma tetap eksis?

Tidak sekali dua kali Veronica Adesla, psikolog klinis, terhambat menangani pasien karena meski mereka telah didiagnosa mengidap stres bahkan depresi, orang tua masih saja beranggapan anaknya harus mendapat pertolongan dari orang pintar.

"Untuk klien yang orang tuanya tidak melanjutkan, pada saat pemeriksaan psikologis orang tua akan diberitahukan kondisi anaknya dan dampak bila tidak diberikan penanganan psikologis atau medis secara intens," sebut Vero.

Belum lagi yang berhenti konsultasi karena malu ketahuan rekannya saat mengunjungi psikolog atau psikiater. "Ketika melihat kondisi anaknya tidak kunjung membaik, orang tua juga akan kembali," sambungnya.

Kesehatan jiwa merupakan hal yang patut mendapatkan perhatian dengan serius. Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental akan mengalami kecenderungan depresi. Depresi dalam kondisi lanjut karena tidak tertangani merupakan penyebab utama bunuh diri yang mengambil ratusan ribu nyawa setiap tahunnya.

Gangguan jiwa sama sakitnya dengan gangguan fisik. Butuh obat, butuh penanganan profesional. Depresi itu nyata, bisa dialami siapa saja.

Kamu, kita, mereka, semua orang rentan depresi. Jadi, mau sampai kapan menganggap gangguan jiwa sama dengan 'kerasukan setan'?

Komunitas Yayasan Pulih bisa menjadi pilihan yang bisa kamu hubungi, jika ingin mencari bantuan dan konseling mengenai kesehatan jiwa, lewat instagram di @yayasanpulih atau email di pulihcounseling@gmail.com https://bit.ly/2qJCiQ3