Selasa, 26 November 2019

Bertemu Jokowi, Pengusaha Jepang Mau Ikut Bangun Ibu Kota Negara

Puluhan pengusaha kelas kakap asal Jepang kemarin bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Pertemuan tersebut banyak membahas mengenai investasi asal negeri Sakura tersebut.

Investasi yang dibahas pun beragam, mulai dari proyek Blok Masela, kereta api semi kencang Jakarta-Surabaya, pengembangan moda raya terpadu (MRT) fase III rute Cikarang-Balaraja, Pelabuhan Patimban, hingga ketertarikan Jepang terhadap proyek pemindahan ibu kota negara ke Provinsi Kalimantan Timur.

Dari pertemuan itu juga terdapat beberapa rencana pembangunan dan target penyelesaian proyek, seperti pembangunan MRT Cikarang-Balaraja, Pelabuhan Patimban, hingga proyek kereta api semi kencang Jakarta-Surabaya. Berikut ulasannya:

Pengusaha Jepang yang tergabung Asosiasi Jepang-Indonesia (Japinda) menyampaikan keinginannya untuk terlibat dalam proyek pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Provinsi Kalimantan Timur.

"Kalau berhubungan dengan saya satu mereka pingin membantu terlibat dalam pemindahan ibu kota negara karena mereka punya pengalaman," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Basuki mengatakan bahwa minat para pengusaha kakap Jepang itu disambut baik oleh Presiden Jokowi. https://bit.ly/34wZPlG

"Disambut oleh Presiden, welcome," jelasnya.

Tidak hanya itu, para delegasi Negeri Sakura yang bertemu dengan kepala negara juga membahas mengenai pembangunan jalan tol yang nantinya akan tersambung dengan pelabuhan Patimban.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengonfirmasi bahwa Jepang akan terlibat kembali untuk menggarap proyek Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Setelah fase I dan II, Jepang akan terlibat untuk pembangunan MRT rute Cikarang-Balaraja yang terbentang 78 kilometer (Km).

Hal itu diungkapkannya usai pertemuan Presiden Jokowi dengan delegasi Jepang dan beberapa pengusaha kakap Negeri Sakura di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Mantan direktur utama Angkasa Pura II (AP II) itu juga bilang, Presiden Jokowi dan para delegasi Jepang membahas pembangunan MRT rute Bundaran HI-Ancol yang dimulai pada akhir 2020 dan selesai 2024.

"MRT dari Cikarang sampai Balaraja 78 Km akan kita mulai 2022 diharapkan selesai 2026," kata Budi Karya di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Indonesia dan Jepang akan bersama-sama mengelola pelabuhan Patimban yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Kedua negara akan diwakili oleh masing-masing perusahaan swasta yang segera dibuka lelang operatornya.

Demikian disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Jokowi dan para delegasi Asosiasi Jepang-Indonesia (Japinda) di Istana Negara siang ini, Rabu (20/11/2019).

"Patimban mereka investasi memberikan loan, kita membangun bersama. Kita operasikan insyaallah bersama. Jadi perusahaan swasta Indonesia dengan swasta Jepang," katanya.

Pembangunan Pelabuhan Patimban sendiri saat ini baru masuk ke tahap I yang progresnya sudah mencapai 60%. Rencananya akan dilakukan soft launching pelabuhan tersebut pada Juni 2020 mendatang untuk pengoperasian car terminal dengan kapasitas 2 juta Teus. https://bit.ly/35xJe1j

Rombongan Pengusaha Jepang Temui Pimpinan DPR, Ini yang Dibahas

Pengusaha kelas kakap asal Jepang menemui sejumlah tokoh penting di Indonesia. Selain melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, Wapres Ma'ruf Amin dan jajaran menteri, rombongan yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Jepang Yosuo Fukuda ini menemui dewan perwakilan rakyat.

Yosua Fukuda bersama sejumlah petinggi perusahaan Jepang melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangungan Rachmat Gobel di acara Indonesia-Japan Friendship Night Rabu malam (20/11).

Rachmat berharap kerja sama antara Indonesia dengan Jepang terus meningkat, mengingat nilai perdagangan antara kedua negara dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang baik.

"Tren positif ini diharapkan terus berlangsung dengan pertumbuhan yang lebih baik," ujar Rachmat dalam keterangannya, Kamis (21/11/2019). https://bit.ly/2KUnNjg

Nilai perdagangan Indonesia-Jepang dari tahun ke tahun terus meningkat yaitu dari US$ 29,08 miliar pada 2016 menjadi US$ 33,04 miliar pada 2017 dan naik lagi menjadi 37,44 miliar pada 2018. Pertumbuhan itu antara lain didorong oleh peningkatan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke pasar Jepang yaitu dari US$ 13,21 miliar pada 2016 menjadi US$ 14,69 miliar pada 2017 dan naik ke posisi US$ 16,31 miliar pada 2018.

Selain sejumlah petinggi perusahaan Jepang, acara ini juga dihadiri sejumlah anggota kabinet Indonesia Maju antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo serta Ketua BKPM Bahlil Lahadia. Juga hadir Ketua Dewan Pembinaan PPIJ Ginanjar Kartasasmita.

Rachmat mengatakan, kedatangan Fukuda yang mengikutsertakan petinggi berbagai perusahaan industri dan lembaga keuangan Jepang ini patut mendapat apresiasi karena merupakan delegasi luar negeri pertama yang berkunjung ke Indonesia sejak Presiden Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2019 lalu.

"Kita tentu perlu memberi apresiasi kepada delegasi yang dipimpin Fukuda ini karena merupakan delegasi luar negeri pertama yang diterima Presiden Jokowi. Ini sekaligus memberi harapan untuk peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih baik lagi bagi kedua negara," kata Rachmat yang juga Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ

Kedatangan rombongan pengusaha Jepang ke Indonesia tersebut memang dinilai akan berdampak positif terhadap kerja sama perdagangan dan investasi. Jepang dalam hal ini disebut berminat ikut garap proyek pemindahan ibu kota baru, proyek MRT Cikarang-Balaraja, Pelabuhan Patimban dan proyek lainnya.

Menurut Rachmat, selain meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi, Indonesia juga perlu meningkatkan kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia yang kini menjadi salah satu program prioritas Presiden Jokowi.

Untuk itu, PPIJ telah menyampaikan kepada Fukuda yang juga Ketua Japan Indonesia Association (Japinda) untuk mendorong kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia ini.

Dari hasil survey yang dilakukan setiap tahun oleh Japan Student Services Organization/JASSO terlihat bahwa, meski jumlah siswa Indonesia yang belajar di Jepang meningkat dua kali lipat dalam lima tahun terakhir yaitu mencapai 6.277 orang pada tahun 2018, tapi dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa, persentase masih sangatlah kecil. Indonesia tertinggal dari Vietnam yang telah mengirimkan 72.345 orang siswanya pada tahun 2018, padahal total populasi Vietnam hanya 96 juta jiwa https://bit.ly/2OkYLMo