Rabu, 27 November 2019

Kawal Investasi Mobil Listrik Rp 14 T, Jokowi Akan Sambangi Korea

Rencana produsen mobil asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai untuk berinvestasi di Indonesia hampir terwujud. Hyundai akan menanamkan modal sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun untuk mobil listrik.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, rencananya Jokowi akan mengunjungi Korsel pada 24 November 2019. Salah satu agenda Jokowi menghadiri penandatanganan rencana investasi Hyundai tersebut.

"Hyundai nanti Presiden ke Korea tanggal 24 November. Nanti akan ditandatangani US$ 1 miliar untuk masuk ke sini," ujarnya saat rapat dengan Baleg di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Jokowi sendiri rencananya akan terbang ke Korsel juga untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 30 Tahun Kemitraan ASEAN-Republik Korea yang akan diselenggarakan di Busan, Korea Selatan, pada 25-26 November 2019.

Sementara Hyundai rencananya investasi pabrik mobil listrik di Karawang, Jawa Barat. Luhut pun berencana akan mendorong Hyundai agar menggunakan bahan karbon steel dari kawasan industri di Morowali, bukan hanya menyerap baterai lithium saja.

"Kedua ban, untuk mobil dan pesawat supaya menggunakan karet kita. Sekarang dunlop sudah. Jadi semua mobil listrik pakai karet kita," tambahnya.

Selain itu pemerintah juga tengah menarik produsen mobil listrik lainnya untuk berinvestasi di Indonesia. Seperti Tesla, Volkswagen, Mercedes dan BMW. Mereka diharapkan bisa berinvestasi pabrik baterai lithium di Indonesia. https://bit.ly/34pJXld

Sampai Mana Rencana Kerja Sama Mobil Listrik Hyundai-Grab di RI?

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, angkat bicara mengenai kerja sama Grab dan Hyundai soal mobil listrik. Sampai mana rencana tersebut?

"Ya kemarin saya juga berdiskusi kepada mereka, ke depan ini mobil listrik adalah suatu keniscayaan," kata Budi Karya di Universitas 'Aisyiyah, Sleman, Minggu (3/11/2019)..

Karena kehadiran mobil listrik adalah suatu keniscayaan, kata Budi Karya, maka seluruh pihak harus mempersiapkannya. Menurutnya, upaya pengadaan motor listrik untuk kendaraan umum juga sudah mulai diusahakan oleh pemerintah Indonesia.

"Dan memang kita pertama kali mengupayakan (transportasi tenaga listrik untuk) kendaraan-kendaraan umum, apakah itu mereka yang berasal untuk motor, mobil dan bus, itu mereka yang (kendaraan) umum dulu kita utamakan," tuturnya.

Sementara kepada Grab dan Gojek, Budi Karya meminta agar kedua perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan lain untuk memproduksi kendaraan listrik di Indonesia. Namun ia mengajukan beberapa syarat kepada pabrikan yang akan digandeng Grab atau Gojek.

"Dengan Grab dan Gojek saya minta mereka kerja sama dengan pabrikan (kendaraan listrik) yang sifatnya massal, yang harganya relatif tidak mahal tapi diutamakan mereka yang minimal dirakit. Nanti kalau bisa dibangun di Indonesia," sebutnya.

"Sehingga itu akan dalam kuantitas yang banyak dan memberikan lapangan pekerjaan yang bagus," pungkas dia.

Sebelumnya, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Grab berminat masuk ke sektor produksi mobil listrik bersama Hyundai di Indonesia.

Hal tersebut dikatakannya usai bertemu dengan CEO Grab Anthony Tan di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2019).

"Grab, dia mau masuk ke sini (Indonesia) dengan Hyundai. Menyangkut mobil listrik," kata Luhut. https://bit.ly/2pSyjjC

Fakta di Balik Pabrik Hyundai Rp 21 T di Bekasi

Hyundai telah mengumumkan akan berinvestasi di Indonesia dengan membangun pabrik mobil. Nilai investasi yang dikucurkan sebesar US$ 1,5 miliar atau setara dengan Rp 21 triliun.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta menteri ekonomi menyaksikan secara langsung penandatanganan kerja sama di pabrik Hyundai di Ulsan, Korea Selatan.

Pembangunan pabrik manufaktur kendaraan di Kota Deltamas, Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat. Pabrik canggih dengan luas 8,35 juta kaki persegi (77,6 hektare) ini terletak di Kota Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Executive Vice Chairman of Hyundai Motor Group Euisun Chung mengungkapkan pembangunan pabrik Hyundai Motor di Indonesia terlaksana berkat kerja sama dan dukungan dari pemerintah Indonesia.

"Hyundai secara aktif akan terus mendengarkan dan menanggapi setiap harapan dan kebijakan pemerintah Indonesia berkaitan dengan kendaraan ramah lingkungan serta akan terus berupaya berkontribusi terhadap komunitas ASEAN," kata Euisun di Pabrik Hyundai, Ulsan, Korea Selatan, Selasa (26/11/2019).

Dia menjelaskan pabrik ini bernilai sekitar US$ 1,55 miliar hingga 2030. Angka ini termasuk untuk biaya operasional dan pengembangan produk.

Pabrik ini ditargetkan mulai dibangun pada Desember 2019 dan diharapkan memulai produksi untuk komersial pada paruh kedua tahun 2021.

Kapasitas produksi tahunan diproyeksi mencapai 150.000 unit. Namun ke depan diproyeksi bisa memproduksi 250.000 kendaraan setiap tahun.

Dia menyebut Hyundai berencana untuk memproduksi SUV kompak, MPV kompak, dan model sedan yang dirancang khusus untuk pelanggan di pasar Asia Tenggara di pabrik baru Indonesia ini, yang juga akan menggabungkan fasilitas untuk stamping, pengelasan, pengecatan dan perakitan.

Selain itu, Hyundai juga tengah menjajaki produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kelas dunia di Indonesia.

"Hyundai berkomitmen untuk membantu mengembangkan ekosistem EV Indonesia, berkontribusi pada kualitas hidup masyarakat melalui kepemimpinannya dalam teknologi mobilitas bersih. Bersama dengan perusahaan afiliasinya, Kia Motors Corporation, Hyundai bertujuan untuk menjadi produsen EV ketiga terbesar di dunia pada tahun 2025," jelas dia.

Selain kendaraan jadi, perusahaan juga berencana untuk mengekspor 59.000 unit kendaraan completely knocked down (CKD) per tahun.

Dia menjelaskan keputusan Hyundai Motor untuk melakukan investasi juga dimaksudkan untuk memastikan pertumbuhan di masa mendatang dengan menjajaki pasar-pasar baru di kawasan ASEAN di tengah perlambatan yang sedang berlangsung di pasar otomotif global. Selain memasok pasar lokal Indonesia, produksi yang dihasilkan fasilitas ini akan ditujukan untuk pasar-pasar utama di kawasan ASEAN lainnya, termasuk Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina. https://bit.ly/33qTy9Y

Perusahaan juga tengah mempertimbangkan untuk mengekspor produknya ke Australia dan Timur Tengah. Hyundai berharap mendapatkan manfaat dari pemberlakuan tarif preferensial di pasar-pasar tersebut, yang berlaku untuk barang-barang yang berasal dari kawasan ini. Berdasarkan Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin/ROO) dari perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA), barang dengan setidaknya 40% konten lokal ASEAN dapat dikenai pembebasan tarif.

Hyundai akan melakukan berbagai kegiatan sosial yang dapat menjawab kebutuhan pemerintah dan penduduk guna membantu mengurangi masalah sosial di masyarakat setempat. Perusahaan secara khusus berharap dapat berkontribusi dalam mengembangkan potensi kaum muda Indonesia dan menciptakan lapangan kerja melalui kegiatan-kegiatan tersebut.

Hyundai juga berencana membangun jaringan diler nasional sejak awal operasi, pada tahap awal akan memastikan terdapat sekitar 100 diler di tahun 2021 dan akan terus berkembang secara bertahap.

"Kami menargetkan pelanggan usia muda yang akrab dengan layanan online, perusahaan akan secara aktif mengeksplorasi dan mempertimbangkan berbagai pilihan spesifikasi berdasarkan layanan yang terhubung, seperti perintah suara, kontrol kendaraan, dan belanja dalam kendaraan," jelas dia.

Hyundai Motor saat ini mengoperasikan pabrik di delapan negara termasuk Amerika Serikat (AS), China dan India. Pada tahun 2018, Hyundai Motor bersama produsen mobil afiliasinya, Kia Motors berhasil mencatatkan penjualan global sebanyak 7,4 juta kendaraan secara keseluruhan, menjadikan Hyundai Motor Group kelompok otomotif terbesar kelima di dunia.

Penambahan pembangunan pabrik di Indonesia akan memperluas jaringan produksi global Hyundai, mengoptimalkan pasokan untuk dapat menjawab permintaan pelanggan dengan lebih baik di seluruh dunia.

Indonesia sendiri, sebagai pasar mobil terbesar di kawasan ASEAN, telah mencatatkan penjualan sebesar 1,15 juta unit dalam penjualan tahunan tahun lalu dan dianggap sebagai pasar yang sangat potensial dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5% per tahun. https://bit.ly/2DgL1Ma