Minggu, 22 Desember 2019

Negeri di Atas Awan yang Viral, Konon Tak Pernah Dijajah Belanda

Gunung Luhur menjadi viral, karena punya fenomena Negeri di Atas Awan yang ciamik. Bicara soal sejarah, ada hal yang menarik di sana.

detikcom mendatangi Kampung Ciusul, Desa Citorek Kidul, Lebak, Banten pada Rabu (25/9/2019) dinihari. Panorama lautan awan di atas Kampung Cisaul di Gunung Luhur, memang pantas disebut sebagai Negeri di Atas Awan.

detikcom menemui Narta yang biasa disapa Jaro Atok sebagai Kepala Desa Citorek Kidul. Ada satu cerita menarik yang dia sampaikan.

"Kata orang-orang yang fenomena Negeri di Atas Awan, itu bukanlah hal baru di sini. Pemandangan seperti itu sudah ada sejak zaman orang-orang tua kami, sejak zaman dulu," kata Jaro Atok.

Jaro Atok menambahkan, fenomena Negeri di Atas Awan disebut orang-orang tua mereka sebagai pelindung dari penjajah Belanda dan Jepang.

Maksudnya?

"Karena ketika Belanda datang ke sini, mereka tidak melihat apa-apa hanya lautan awan dan pegunungan. Sehingga mereka pikir tidak ada penduduknya, padahal di balik awan itu ada desa kami," terang Jaro Atok.

Jaro Atok menjelaskan, tidak ada peninggalan kolonial Belanda atau cerita-cerita melawan penjajah di desanya. Lautan awan itu melindunginya.

"Ya sekarang, kini lautan awan itu yang orang sini sebut sebagai 'asap', menjadi tempat wisata dan sumber perekonomian warga Desa Citorek Kidul. Alhamdulillah, harus kita jaga juga keberishannya dan keramahtamahannya," tutup Jaro Atok. 

Meriahnya Pesta Rakyat Festival Pamalayu di Dharmasraya

 Pesta rakyat dan kuliner ditampilkan dalam Festival Pamalayu yang digelar di Dharmasraya, Sumatera Barat. Festival ini dihelat hingga 7 Januari 2020 mendatang.

Salah satu agenda menarik, berlangsung pada Senin (23/9/2019), di mana ratusan kapal hias mengarungi Sungai Batanghari. Selain melewati Propinsi Jambi, Sungai Batanghari juga membelah Dharmasraya.

Rombongan kapal bergerak dari jembatan kabel dan melewati sekitar 7 kilometer dengan garis finish di kawasan Candi Pulau Sawah. Ribuan orang memadati lokasi untuk menyaksikan pawai kapal yang diberi nama "Arung Pamalayu" tersebut.

"Ini rangkaian Festival Pamalayu yang kita launching di Museum Nasional 22 Agustus lalu. Nah, dari festival ini kita mengambil semangat peradaban dan persatuan dengan sungai. Kita ingin mengingat sejarah Dharmasraya masa lalu," kata Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan kepada Detikcom, Senin (23/09/2019).

"Kita Mengingat peradaban masa lalu. Tidak ada jalan, tidak ada tol, tidak ada keretapi. Semua melewati sungai. Sungai itu sumber kehidupan. Karena itu dengan hari ini kita menjaga sungai dan lingkungan,"

Sampai di Kawasan Candi Pulau Sawah, rombongan disambut dengan prosesi adat. Berbagai macam tarian ditampilkan. Juga ada penyembelihan kerbau putih, lalu dilanjutkan dengan makan bajamba, yakni makan bersama secara adat Minang.

Festival sendiri untuk memperkenalkan, mengkaji dan mengenang kembali Ekpedisi Pamalayu.

Ekspedisi Pamalayu dikenal sebagai sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1286 terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya di Pulau Sumatra.

Singosari merupakan kekuatan besar di Jawa, sebelum Majapahit lahir. Kekuasaanya bahkan sampai Kamboja.

Kata Sutan Riska, karnaval juga bertujuan mengajak masyarakat untuk menjaga sungai Batang Hari. Menurutnya, dari hasil penelitian, sungai itu tercemar oleh merkuri atau zat yang sangat berbahaya bagi masyarakat.

"Saat ini, pucuk ubi pun sudah tercemar oleh merkuri," kata dia.

Selain Arung Pamalayu, rangkaian festival juga dimeriahkan berbagai agenda berbagai pesta rakyat dan penampilan beragam kuliner. Pesta akan berakhir pada 7 Januari 2020, atau bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Dharmasraya yang ke-16.

Datang ke Dharmasraya yuk!

Yang Baru dari Kebumen, Kampung Garam Instagramable

Liburan ke Kebumen, kamu bisa wisata ke Kampung Garam. Tak hanya edukasi dan melihat produksi garam, namun juga bisa berfoto di tunel garam yang instagramable.

Kemarin, Selasa (23/9), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) meresmikan Kampung Garam di Kebumen, Jawa Tengah. Selain menjadi sentra produksi garam, kampung tersebut juga sekaligus menjadi objek wisata baru.

Tak hanya jadi destinasi wisata, sepanjang pantai di pesisir selatan Kebumen juga merupakan sentra penghasil garam. Karena memiliki kualitas garam yang bagus, secara resmi Kementrian Kelautan dan Perikanan RI meresmikan daerah di tepi pantai selatan itu sebagai Kampung Garam.

Peluncuran Kampung Garam dilaksanakan di Desa Mirit Petikusan, Kecamatan Mirit pada Selasa (24/9/2019). Kampung Garam resmi diluncurkan dengan pelepasan balon udara oleh Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Ir. Syarif Wijaya, Ph. D Frina yang didampingi oleh Bupati Kebumen Yazid Mahfudz.

Selain menjadi sentra produksi garam, kampung tersebut juga sekaligus menjadi objek wisata baru. Diharapkan, kampung wisata itu dapat terus berkembang dan menarik wisatawan untuk berkunjung.

Tempat untuk memproduksi garam sengaja dibuat dengan bentuk tunel bukan kolam terbuka. Selain bisa menghasilkan garam yang lebih bagus, tunel-tunel yang disusun rapi juga akan menjadi spot foto yang instagramable.

"Kenapa harus tunel bukan kolam besar, karena kalau tunel tidak terpengaruh cuaca dan garam yang dihasilkan bersih. Ini juga jadi kampung wisata yang menarik dengan adanya tunel-tunel itu," kata Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Ir. Syarif Wijaya, Ph. D Frina di sela-sela peluncuran Kampung Garam.

Untuk memikat wisatawan, diharapkan warga setempat dan Pemkab bisa bekerjasama dalam mengembangkan potensi yang ada. Objek wisata baru ini, juga bisa menjadi salah satu destinasi andalan karena letaknya tidak terlalu jauh dari Yogyakarta International Airport (YIA).

"Nanti dibikin gapura yang bagus sebagai pintu masuk, ada Tourist Information Center, ada mobil odong-odong untuk keliling melihat sekitar kampung, lihat kebun pepaya, kemudian lihat pengolahan garam dan lain-lain. Apalagi dekat dengan bandara (YIA) bisa kita jual, nanti bisa dibikin paket wisata. Kita kembangkan semua ini," lanjutnya.

Tak hanya melihat pengelolaan garam, pengunjung juga bisa berfoto dengan latar belakang tunel-tunel garam yang instagramable serta spot foto lain yang ada. Untuk melepas lelah, pengunjung bisa memanjakan kaki dengan merendamnya di kolam air garam.

Jika ingin merasakan sensasi lain, terapi gigitan ikan Nilam Tulmen bisa menjadi pilihan lain untuk membuat tubuh lebih rileks dan melancarkan peredaran darah.

Salah satu pengunjung, Puji Lesatari (32) sengaja datang bersama teman-temannya untuk menikmati suasana di Kampung Garam itu. Meski baru pertama ke tempat itu, Puji merasa kagum dan tak henti-hentinya menjepretkan kamera ponselnya.

"Ini kan masih baru, jadi baru pertama ke sini. Tempatnya bagus, bisa lihat proses pembuatan garam sekaligus foto-foto," ucap Puji.