Selasa, 31 Desember 2019

Lagi Main di Sungai, Bocah 12 Tahun Temukan Gigi Mammoth

Bocah berusia 12 tahun ini girang dan kaget bukan kepalang. Lagi asyik main di sungai, dia menemukan gigi mammoth yang usianya diperkirakan ribuan tahun!

Dirangkum dari berbagai sumber, Kamis (15/8/2019) bocah tersebut bernama Jackson Hepner. Diketahui, Jackson bersama keluarga sedang liburan di Inn at Honey Run yang merupakan resort di Ohio, AS.

Ceritanya, Jackson sedang berfoto-foto bersama keluarganya yang kemudian bermain di sungai di sekitar resortnya. Dia pun penasaran dengan suatu benda yang terlihat aneh.

"Benda itu terlihat jelas di dasar sungai. Sebagiannya masih terkubur tanah," kata Jackson.

Jackson lalu mengambil benda tersebut dan panjangnya sekitar 7 cm. Langsung saja, dia membawanya ke pihak resort dan pihak resort bertanya kepada para peneliti.

"Melalui penjelasan para ahli, dipastikan benda yang ditemukan Jackson adalah gigi mammoth berusia 4000 tahun," tulis keterangan dari Inn at Honey Run.

Mammoth merupakan gajah purba yang sudah punah. Mamalia Zaman Es ini merupakan salah satu hewan prasejarah yang paling terkenal. Tingginya bisa mencapai 3 meter!

"Gigi mammoth berguna untuk menggiling biji-bijian dan rumput. Kami sangat bangga dengan penemuan Jackson ini," tulis Inn at Honey Run.

Tidak disebutkan, apakah gigi mammoth tersebut akan disumbangkan Jackson ke pihak terkait seperti museum atau badan penelitian, atau juga dibawa pulang. Yang pasti, Jackson sangat kegirangan.

Sebelumnya, beberapa kali hal serupa terjadi. Ada traveler yang lagi asyik di sungai menemukan berbagai fosil, sampai di Selandia Baru, ada traveler yang menemukan fosil kaki Burung Moa yang sudah punah.

Kunjungan Turis Amerika ke Indonesia Meningkat

Turis mancanegara yang datang ke Indonesia mengalami peningkatan. Begitu juga turis dari Amerika Serikat yang jumlah kunjungannya semakin bertambah.

Dalam rangka memperingati 70 Tahun Hubungan Diplomatik RI-AS, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Perkumpulan Alumni BIG Ten Indonesia dan Sekolah Bogor Raya dalam misi budaya 'Indonesia Culture Caravan (ICC) 2019'. Kegiatan ini akan membawa 27 delegasi yang nantinya akan menampilkan kesenian gamelan Sunda dan Jawa serta tarian tradisional.

Dalam rapat dan jumpa media, Kamis (15/8/2019) Penasehat Kehormatan Menteri Pariwisata Indroyono Soesilo mengapresiasi dan mendukung adanya misi kebudayaan ini. Hal ini mempermudah Kemenpar untuk mempromosikan wisata Indonesia.

"Kita sangat mendukung kegiatan dengan misi kebudayaan ini karena membantu Kemenpar mempromosikan pariwisata Indonesia. Nantinya dari Kemenpar kita akan persiapkan oleh-oleh, kaus, topi dan video pariwisata untuk dibagikan di sana," ungkap Indroyono.

Acara budaya merupakan salah satu cara memperkenalkan potensi yang ada di Indonesia. Tidak hanya mengenalkan sosial dan budaya saja, namun secara tidak langsung akan berdampak postif pada ketertarikan untuk datang berlibur ke Indonesia.

Ini terlihat dari jumlah kunjungan turis Amerika Serikat ke Indonesia tahun lalu. Berdasarkan data yang didapat KJRI Chicago, jumlah turis Amerika tahun lalu yang datang ke Indonesia meningkat 12 persen.

"Berdasarkan data yang kita dapat, jumlah kunjungan turis Amerika ke Indonesia meningkat. Tahun lalu jumlah turis Amerika ke Indonesia sebaganyak 380 ribu orang. Jumlah ini meningkat 12 persen dibandingkan sebelumnya," ungkap Rosmalawati Chalid, Konjen RI Chicago melalui Skype.

Rosmalawati mengungkapkan bahwa peran pengenalan budaya secara tidak langsung berpengaruh untuk pariwisata.

"Kebudayaan dan pariwisata tidak terpisahkan. Pertunjukan budaya secara tidak langsung mengenalkan wisata dan mendorong pariwisata juga. Hal ini terlihat dari jumlah kunjungan turis yang datang," tambahnya.

Amerika Serikat merupakan salah satu pasar wisata Indonesia. Tahun ini Kemenpar punya target mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 18,5 juta. Teruntuk turis Amerika Serikat, Kemenpar punya target 560.000 orang.

"Kita ingin tahun ini turis AS yang datang ke Indonesia semakin banyak. Kita akan tingkatkan target mendatangkan lebih 500 ribu orang untuk berlibur ke Indonesia," tutup Rosmalawati.

Tingkatkan Wisatawan, BOB Terus Kembangkan Nomadic Tourism

Nomadic tourism terus dikembangkan oleh Badan Otorita Borobudur (BOB). Yang terbaru, ada dua destinasi nomadic kekinian di sana.

Badan Otorita Borobudur (BOB) telah meluncurkan destinasi wisata baru yakni Glamping D'Loano dan Pasar Menoreh di Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo Februari lalu. Nomadic Tourism itu kini terus dikembangkan untuk terus menggaet para wisatawan dari segala penjuru dunia.

Nomadic Tourism sendiri merupakan konsep wisata temporer, baik dari segi akses atau amenitas. Konsep ini dirasa mampu menjangkau destinasi-destinasi wisata alam di Indonesia yang beberapa bagian merupakan kepulauan dengan akses yang susah dijangkau.

Untuk terus meningkatkan angka kunjungan wisatawan di daerah DIY-Jateng khususnya destinasi wisata Glamping De Loano, BOB rencananya akan membangun beberapa amenitas di area otorita yang memiliki luas 309 hektare itu.

"Kita kan punya target kunjungan 2 juta wisman untuk DIY-Jateng sampai tahun 2019 ini. Di sini nanti yang akan kita bangun pameran nomedic ya ada rumah pohon sama home pod jadi itu tipe-tipe nomadic tourism, terus kami juga akan bikin green house yang bisa memproduksi anggrek khas menoreh," kata Direktur Utama BOB, Indah Juanita saat ditemui detikcom di area Glamping, Kamis (15/8/2019).

Glamping atau Glamorous Camping yang dikembangkan oleh BOB membuat para wisatawan tidak perlu repot menyiapkan peralatan memasak sendiri atau bingung saat akan ke kamar mandi. Dalam glamping, segala kemewahan penginapan ditemukan tanpa kehilangan sensasi berkemah.

Karena tidak seperti tenda biasa, tarifnya pun tak jauh beda seperti sewa hotel yakni berkisar Rp 350.000 per orang dalam semalam. Harga tersebut sudah termasuk makan 2 kali, snack sembari menikmati minuman.

Untuk tenda sendiri memiliki kapasitas 6 orang dengan fasilitas tempat tidur, meja, listrik dan lain-lain. Selain tenda untuk beristirahat, di area ini juga tersedia fasilitas lain seperti musala, toilet, restoran, ruang meeting, arena hiburan anak, hingga panggung pertunjukan.

"Kita berusaha agar lingkungan bisa merasa terangkul. Masyarakat setempat pun ikut dilibatkan dan kita merangkul mereka, kita pakai source yang ada di sini. Terus menjaga kearifan lokal termasuk makanan khas atau permainan anak-anak itu juga kearifan lokal," lanjutnya.

Sementara itu, Yusuf Hartanto selaku Kepala Divisi Komunikasi BOB menuturkan tidak hanya amenitas wisata yang dikembangkan di kawasan otorita, tapi BOB juga menawarkan paket wisata lain yakni petualangan off road yang memacu adrenalin.

Dengan harga paket antara Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta pengunjung akan diajak membelah hutan pinus di atas perbukitan menoreh menggunakan jeep.

Untuk lebih mengenal medan dengan segala jalur ekstrimnya, BOB pun mengajak para awak media terjun langsung menghajar lintasan sejauh sekitar 10 km dengan waktu tempuh hampir 5 jam sekaligus menikmati alam sekitar.

Berangkat dari area camping, rombongan langsung melibas jalur tanjakan maupun turunan ekstrim, tikungan tajam, masuk ke sungai hingga menikmati sunset di puncak Gunung Kunir.

"Selama dua hari ini kita kenalkan pada media bahwa ini area yang kita punya zona otoritatif, temen-temen eksplor sehingga tahu seberapa jauh dan seberapa bagusnya dengan tour jeep atau off road. Harapannya nanti akan ada dampak positif untuk mengangkat kearifan lokal," kata Yusuf.

Salah satu peserta asal Yogyakarta yang ikut dalam off road, Amelia Safitri (23) merasa takjub dengan keindahan alam perbukitan menoreh yang ditawarkan. Rencananya, ia akan datang kembali ke tempat itu dengan mengajak teman-teman yang lain.

"Tempatnya keren, menenangkan, jauh dari polusi. Besok kapan-kapan mau nginep lagi di glamping ini sama temen-temen yang lain. Terus off roadnya asyik banget, serem pacu adrenalin tapi besok mau coba lagi," ucapnya.