Minggu, 02 Februari 2020

Kesalahan Umum yang Dilakukan Pendaki Saat Tersesat

Tersesat saat mendaki jadi hal yang biasa terjadi. Inilah kesalahan umum yang sering terjadi ketika traveler tersesat saat mendaki.

Mendaki gunung atau sekadar treking menjadi kegiatan alam terbuka yang kini diminati oleh banyak kalangan. Selain menyehatkan, kegiatan ini juga memiliki tantangan tersendiri.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Senin (22/4/2019) ada beberapa hal yang justru salah dilakukan pendaki saat tersesat. Menurut analisa dari SmokyMountains.com, ada lebih dari 100 laporan mengenai kesalahan terbesar saat tersesat.

Berikut 4 kesalahan umum yang dilakukan pendaki saat tersesat:

1. Tidak menjaga rute

Pendaki yang hendak melakukan pendakian diharapkan untuk memberitahukan rute kepada keluarga atau kerabat. Jangan sekali-kali melenceng dari rute seharusnya. Sehingga saat tersesat, rombongan bisa dengan mudah menemukannya.

2. Mencari bantuan, bisa bikin makin tersesat

Dalam sebuah studi ditemukan 65 persen laporan orang hilang yang sulit ditemukan karena melakukan pergerakan dari rute seharusnya. Karena panik, biasanya traveler akan berusaha mencari bantuan, sehingga keluar dari rute perjalanan.

Rupanya berkeliling mencari bantuan di area yang tidak familiar akan membuatmu semakin panik. Hasil analisa dari penelitian tersebut mengatakan tetap diam saat tersesat akan meningkatkan peluang penyelamatan diri dari tim pencari.

Kalau kamu berada di area terbuka, coba untuk mencari sinyal dengan tidak melangkah terlalu jauh.

3. Tidak memakai baju berwarna cerah

Ini yang sering dilupakan oleh para pendaki, tidak memakai pakaian berwarna cerah. Mengenakan pakaian berwarna cerah atau membuat bendera akan mempermudah tim evakuasi dalam melakukan pencarian orang hilang.

4. Harusnya membawa pluit

Selain baju berwarna merah, traveler juga diminta untuk membawa peralatan seperti pluit. Sehingga saat hilang, bisa mempermudah dalam pencarian. Hal terakhir yang bisa kamu lakukan adalah membuat asap. Namun, traveler juga harus memperhatikan apinya sehingga tidak membuat kebakaran hutan ya.

Tentu, ada baiknya traveler yang mau mendaki gunung harus mencari informasi lengkap mengenai medan perjalanan yang akan ditempuh dan menyiapkan perlengkapan dengan matang. Fisik yang prima juga menjadi modal utama. Naik gunung memang menyenangkan, akan tetapi selalu ada tantangan yang menanti di depan mata.

Bagaimana traveler, sudah seberapa siapkah kamu untuk naik gunung?

Iyuh! Penumpang Ini Cukur Rambut di Dalam Pesawat

Ada-ada saja kelakuan penumpang pesawat yang tak patut dicontoh. Seperti yang satu ini, cukur rambut di dalam pesawat.

Diberitakan media internasional seperti dirangkum detikcom, Senin (22/4/2019) diketahui hal tersebut terjadi di penerbangan United Airlines. Meski tak diketahui persisnya, penerbangan dengan rute ke mana.

Diposting oleh akun Instagram @passengershaming, terlihat seorang penumpang berkepala plontos mencukur rambutnya dengan alat cukur rambut. Padahal, rambutnya terlihat botak.

Selain itu, dia pun duduk di kelas bisnis dan 2 pramugari seperti melihatnya. Tapi tampaknya, pramugarinya juga tidak menegur dan dia tetap asyik mencukur rambutnya.

Di kolam komentar postingan videonya pun banyak netizen yang geram. Mereka menyebut, tak pantas mencukur rambut di pesawat karena tentu akan membuat kabin menjadi kotor dan bikin risih penumpang lain. Mengapa tidak dilakukannya di toilet pesawat atau ketika mendarat nanti.

Apa pendapat kamu?

Bukan di Jerman, Ini di China

 Mungkin tak banyak yang tahu soal Kota Qingdao di Shandong, China. Kota yang terkenal karena pabrik birnya ini sudut-sudut cantik layaknya Eropa.

Inilah Qingdao, ibukota Provinsi Shandong di China. Mungkin kota ini tak sepopuler Beijing dan Shanghai, namun bukan berarti Qingdao tak pantas masuk daftar liburan kamu.

detikcom berkunjung ke Qingdao, Shandong bersama Dwidaya Tour dan Kementerian Pariwisata China. Hal pertama yang harus diketahui adalah Qingdao begitu terkenal dengan pabrik birnya.

Hal itu tidak begitu saja terjadi. Berbeda dengan wilayah China lain yang dikuasai oleh raja-raja, Qingdao jadi wilayah China yang dijajah oleh Jerman.

Jerman menjajah Qingdao pada tahun 1894 selama 14 tahun. Selama masa penjajahan, Kota Qingdao dibangun dengan sangat baik. Jerman bahkan membangun pembuangan air sehingga kota ini terhindar dari banjir.

Hal ini begitu terasa kalau kamu menginjakkan kaki di kota ini. Tata kota yag rapih dan bangunan yang mirip Eropa berjajar di sepanjang kota ini. Rasanya jadi seperti ada di Jerman!

Sebut saja yang paling populer adalah Gereja Katedral di jalan Zhejiang Lu. Gereja ini dibangun pada tahun 1932-1934 dengan daya tampung 1.000 jemaat.

Untuk masuk ke gereja, wisatawan akan dikenakan biaya tambahan. Dua menara tinggi gereja ini juga fotogenik bagi kamu yang hanya mau berfoto. Kawasan Katedral terlihat benar-benar kental dengan suasana Eropa.

Satu yang menjadi landmark adalah Zhan Qiao Pier. Disebut sebagai kota pantai di China, Qingdao begitu mantap dengan pagoda cantik yang diletakkan di tengah laut.

Zhan Qiao Pier dibangun untuk sebagai pelabuhan kala itu. Semua barang-barang yang dikirim ke Qingdao akan dicek di Zhan Qiao Pier.

Untuk bisa mengunjungi pagoda, ada sebuah jembatan yang menjadi penghubung dari tepi pantai. Tak hanya wisawatawan, banyak punya tukang foto keliling di sini.

Banyak wisatawan yang datang untuk sekedar menikmati suasana pantai atau sekedar memotret burung camar. Anak-anak sangat senang bermain pasir di pinggir pantai. Jelas saja, pantai menjadi barang mahal di daratan China.

Tak jauh dari kawasan pantai, ada mini Qingdao yang terletak di area perumahan. Berjalan menanjak, tempat ini juga memiliki pagoda yang membuat kamu bisa melihat Qingdao dengan sudut yang lebih luas.

Berjalan sepuluh menit ke area The Eight Passes, traveler akan dibawa bernostalgia dengan kota lama Qingdao. Kawasan ini dibuka untuk umum dan menjadi salah satu peninggalan penting di kota ini.

The Eight Passes dulunya menjadi perumahan elite bagi pejabat Jerman. Sehingga suasananya dibuat layaknya Eropa. Kamu tidak akan menyangka kalau sedang liburan di China.

Rumah-rumah tersebut kemudian menjadi villa bagi pejabat Eropa atau Amerika Serikat yang berkunjung ke Qingdao. Sebagian dari rumah-rumah tersebut sekarang telah menjadi properti negara.

Dari The Eight Passes, kamu akan keluar tepat di tepi pantai. Menyusuri kawasan pantai, kamu akan sampai di The Qingdao Olympic Sailing Centre. Kota Qingdao pernah menjadi penyelenggara untuk cabang olahraga air tahun 2008.

Saat malam tiba, The Qingdao Olympic Sailing Centre akan tampil cantik dengan lampu warna-warni yang menghiasi. Selain The Qingdao Olympic Sailing Centre, ada May Fourth Square yang juga menyala saat malam tiba.

Ruang-ruang publik ini menjadi salah satu pemandang yang disuguhkan Kota Qingdao kepada wisawatan. Tapi itu belum semua, yang menjadi primadona adalah pabrik bir Tsingdao yang sudah ada sejak penjajahan Jerman.

Penasaran? Tunggu ulasannya di artikel selanjutnya ya!