Minggu, 02 Februari 2020

Wisata Halal Karimun Akan Dikenalkan di Festival Barongsai 2019

Tanjung Balai Karimun akan memanfaatkan Festival Barongsai 2019 untuk mengangkat potensi wisata, termasuk wisata halal. Apalagi, Tanjung Balai Karimun memiliki peninggalan sejarah berupa masjid. Festival Barongsai 2019 akan digelar 26-27 April.

Di Tanjung Balai Karimun, nuansa religi akan terasa sangat kuat. Oleh karena itu, salah satu destinasi yang direkomendasikan untuk dikunjungi adalah Masjid Haji Abdul Ghani. Masjid ini disebut sebagai tertua di Karimun. Karena, dibangun pertengahan abad 19, semasa Kerajaan Riau-Lingga. Pembangunannya atas perintah Sultan Abdul Rahman Muazzamsyah di tahun 1883-1911. Pembangunannya oleh Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisbillilah.

"Budaya Melayu sangat kental di Karimun. Wajar bila wilayah ini banyak memiliki cagar budaya Masjid. Meski usianya tua, namun fisik bangunan dan keasliannya terjaga. Posisi Masjid tersebut tentu jadi daya tarik utama wisata halal di Karimun. Sekaligus, sisi lain unik dari Festival Barongsai," ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Minggu (21/4/2019).

Bangunan Masjid Haji Abdul Ghani masih otentik. Meski berukuran sedang, ruang utamanya luas dan bisa menampung 100 jamaah. Lantaran berada di Pulau Buru, Masjid ini juga kerap disebut sebagai Masjid Buru. Bangunan itu dilengkapi 4 pilar utama setinggi 5 Meter sebagai penyangga bangunannya. Yang menarik, kabarnya arsitektur Masjid Haji Abdul Ghani berasal dari Tionghoa. Salah satu penandanya berupa menara masjid yang berbentuk kerucut.

Menaranya sepintas seperti ruang pembakaran hio. Uniknya, lubang ventilasinya terbuat dari batu giok biru lengkap dengan ukiran khas Tiongkok. Tinggi menara ini sekitar 21 Meter dengan diameter 4 Meter dan masih difungsikan untuk mengumandangkan adzan. Di depan masjid, terdapat perigi atau sumur sebagai tempat berwudhu. Perigi dilengkapi 4 nak tangga yang juga masih otentik.

"Keberadaan Masjid Haji Abdul Ghani ini mengagumkan. Bukan hanya bentuk arsitekturnya, ornamen dari bagunannya masih asli. Ahli waris Masjid Haji Abdul Ghani sengaja mempertahankan keasliannya. Jadi, wisatawan masih bisa menikmati suasana masa silam secara utuh di sana," terang Rizki.

Selain Masjid Haji Abdul Ghani, Karimun juga memiliki Masjid Al Mubarak. Arsitekturnya klasik gaya Melayu. Lokasinya berada di Meral, Karimun. Masjid ini dibangun pada masa Raja Usman Bin Raja Ishak. Amir Karimun ke-3 dengan gelar Engku Andak (1301 Hijriah). Masjid Al Mubarak bisa menampung 1.000 jamaah.

Pada sisi lain kompleks masjid, terlihat sisa bangunan rumah tinggal Amir Karimun. Pada masanya, Masjid Al Mubarak tergolong maju dan mewah. Dari arsitektur, konstruksi, hingga materialnya tergolong modern. Sebab, dijumpai serpihan keramik dengan pabrikan asal Prancis.

"Karimun banyak memiliki destinasi terbaik untuk wisata halal. Masjidnya memiliki nilai history kuat. Pesona ini merupakan magnet terbaik bagi pengunjung Festival Barongsai 2019. Mereka bisa menikmati sisi lain melalui wisata halal Karimun. Sebab, ada banyak experience luar biasa yang ditawarkan di sini," jelas Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

Masjid Al Mubarak kerap menjadi destinasi pilihan wisatawan Singapura dan Malaysia. Dan itu alasan tertentu mengapa wisatawan 2 negara itu memilih Masjid Al Mubarak. Wisatawan asal Singapura dan Malaysia banyak yang masih kerabat dengan Amir Karimun dan Amir Pulau Buru.

"Silahkan datang ke destinasi halal Karimun sembari menikmati Festival Barongsai 2019. Sebab, ada banyak inspirasi yang bisa dilgali langsung di sana," kata Dessy.

Destinasi lain di Karimun adalah Masjid Agung Karimun. Masjid tersebut menjadi landmark Kota Karimun. Pembangunannya dilakukan 2003. Salah satu keunikannya adalah deretan Pohon Kurma yang ada di halaman masjid. Memiliki 2 lantai, Masjid Agung Karimun dilengkapi Kubah besar. Dindingnya terpahat beberapa tulisan ayat Al Qur'an.

Warna modern sarat filosofi juga ditampilkan Masjid Baiturrahman. Berada di Teluk Air, Karimun, lantai 1 masjid memiliki 5 pintu sesuai jumlah sholat 5 waktu. Pada lantai 2 terdapat 7 pintu dengan masing-masing tangga. Ada 17 anak tangga pada setiap tangganya yang jadi simbol jumlah rakaat sholat dalam 5 waktu. Diameter kubah 8 Meter dengan tinggi 4 Meter sebagai tanda arah dan mazhab besar Islam.

"Destinasi halal di Karimun menawarkan banyak alternatif. Spot ini tentu menjadi rujukan terbaik bagi para pengunjung Festival Barongsai 2019. Apalagi, Karimun bersama dengan Kepulauan Riau menjadi destinasi wisata halal papan atas bahkan level dunia," tegas Kabid Pengembangan Pemasaran Area II Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Trindiana M Tikupasang.

5 Jalanan yang Ngetren di Korea Selatan

Jalan kaki santai saat liburan rasanya cukup menyenangkan. Kalau di Korea Selatan, sempatkan berkunjung ke aneka kawasan jalanan yang cantik dan digemari turis ini.

Korea Selatan dengan pesona tradisional dan modern, memiliki jalanan dan sudut-sudut keren untuk dijadikan latar berfoto. Adanya deretan kafe dan restoran di kanan kiri jalan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin bersantai dan bersantap.

Dalam rilis Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta kepada detikcom, Minggu (21/4/2019), berikut ini rekomendasi jalanan yang sedang ngetren di Korea buat destinasi liburan:

1. Jalan Mangnidan-gil

Jalan Mangnidan-gil di Mangwon, Mapo-gu, Seoul, mulai dibuka pada tahun 2015. Jalan ini dipenuhi deretan kafe-kafe kecil, restoran, dan toko-toko. Salah satu daya tarik utama jalan trendi ini adalah lokasinya yang dekat dengan Pasar Mangwon.

Pasar tersebut tidak hanya menjual bahan makanan khas dan barang-barang rumah tangga untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki banyak makanan yang enak dan patut dicoba. Nah, Jalan Mangnidan-gil ini dapat diakses dari Stasiun Mangwon (jalur 6, pintu keluar 2).

2. Jalan Songnidan-gil

Di tengah-tengah kantor dan rumah-rumah pribadi yang memenuhinya, Jalan Songnidan-gil di Seoul terlihat mencolok dengan barisan kafe dan restoran kecilnya. Restoran-restoran populer di sepanjang Jalan Songnidan-gil ini termasuk Mija, Gabaedo, Peach Grey, dan masih banyak lagi.

Jalan ini sangat cocok untuk didatangi sebelum atau sesudah mengunjungi Taman Songpa Naru. Traveler yang ingin berjalan-jalan ke sini, silahkan ambil jalur 9 dan turun di Stasiun Songpanaru (pintu keluar 1).

3. Jalan Haengnidan-gil

Beranjak ke Suwon, ada Jalan Haengnidan-gil yang wajib dikunjungi. Jalan kecil di sebelah benteng Suwon itu mungkin awalnya terlihat agak membosankan, tetapi jika sudah menyusuri jalanan ini, setiap mata pasti akan terpukau.

Terdapat sekitar 90 toko dengan gaya berbeda dan unik, dari kafe modern dan pub eksotis, hingga studio tembikar dan galeri fotografi. Ada banyak cara asyik dan menyenangkan untuk berkeliling di Haengnidan-gil di antaranya adalah dengan jalan kaki, naik sepeda atau naik becak.

4. Jalan Hwangnidan-gil

Jalan Hwangnidan-gil di Gyeongju tengah naik daun. Jalan ini menggabungkan pesona tradisional Korea dengan gaya modern kafe-kafe yang menghadap ke desa tradisional Hanok, restoran yang menyajikan berbagai hidangan, dan toko-toko yang menjual hanbok bergaya modern.

Area ini belakangan terpilih sebagai salah satu dari 100 Objek Wisata yang Harus Dikunjungi versi KTO pada tahun 2019-2020. Jika memungkinkan, berkunjunglah pada akhir pekan agar bisa ke pasar akhir pekan, Gyeongju Bonghwang Jangte. Di sini, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik, mencicipi jajanan food truck dan membeli kerajinan tangan.

5. Jalan Haeridan-gil

Jika traveler mencari objek wisata terpopuler di Busan, Jalan Haeridan-gil dekat Pantai Haeundae adalah jawabannya. Jalan ini menjadi populer seiring banyaknya kafe, restoran dan toko yang dibuka.

Setiap toko di sini sangat unik karena awalnya adalah bangunan tempat tinggal. Bangunan-bangunan tersebut kemudian dicat warna-warni, sehingga tempat ini sangat cocok menjadi latar belakang foto-foto buat diunggah ke Instagram.