Kamis, 06 Februari 2020

Satu Lagi Pantai Cantik di Pacitan Buat Kamu

Pacitan di Jawa Timur punya banyak pantai yang cantik. Satu lagi yang mungkin kamu belum tahu, Pantai Kasap namanya.

Cerita tentang panorama keindahan Pantai Kasap di Desa Watukarung Pacitan sudah beberapa kali saya dengar dari beberapa teman yang pernah mengunjungi tempat itu. Keindahanya konon hampir mirip dengan Raja Ampat.

Cerita tentang keindahan Pantai Kasap membuat kami meneguhkan langkah untuk menyambangi pantai Kasap secepatnya. Berangkat dari Solo agak pagi dengan harapan bisa lebih cepat menikmati keindahannya.

Perjalanan dari Solo ke Pantai Kasap memakan waktu sekitar 2,5 jam sampai 3 jam. Dari Solo menuju arah Pacitan, setelah memasuki wilayah Pacitan bisa mengikuti petunjuk arah yang ada ke Pantai Kasap atau mengikuti arahan Google Maps, tapi perlu diingatkan ketika mengikuti petunjuk Google map di beberapa titik signal hape menghilang.

Rasa penasaran Saya terbayar lunas begitu sampai di Pantai Kasap, memasuki parkiran pantai yang kebetulan hari itu tidak terlalu ramai, garis keindahan dan kemolekan Pantai Kasap mulai terlihat. Di dekat tempat parkir ada pangkalan perahu yang bisa mengantar pengunjung melihat gugusan pulau di sekitar Pantai Kasap. Oh ya retribusi masuk ke lokasi cuman 5 ribu per orang.

Dari parkiran, rombongan Saya sengaja untuk langsung ke bukit yang biasa untuk melihat view Pantai Kasap. Perjalanan dari parkiran naik ke bukit lumayan membuat nafas ngos ngosan, tapi begitu sampai atas bukit, semua lunas terbayar, keindahan pantai dengan gugusan pulaunya begitu dahsyat. Lukisan Tuhan yang luarbiasa. Sementara di bawah bukit, terhampar pantai pasir putih yang membuat mata tak berkedip. Di sisi kanan bukit ada pantai pasir putih yang maknyus.

Untuk menuju pantai lasir putih itu, dari bukit pandang kita bisa turun dengan hati-hati menuju pantai pasir putih itu. Yang perlu diingatkan di saat musim hujan seperti saat ini, arah naik dan turun dari bukit perlu berhati hati karena sedikit licin dan ada baiknya memakai alas kaki karena jalan setapaknya masih terbuat dari batu yang kalau diinjak kaki telanjang membuat perjalanan tidak nyaman.

Setelah puas menikmati panorama pantai dari atas bukit, rombongan berpindah ke pangkalan perahu yg letaknya berdekatan dengan tempat parkir. Menggunakan perahu yang disewakan penduduk setempat, kita bisa menikmati dan berkeliling melihat keindahan gugusan pulau-pulau di Pantai Kasap.

Letak pulau yang sedikit berada di luar garis pantai menjadi pengalaman tersendiri, goyangan perahu karena terjangan ombak membuat sensasi tak terlupakan, ada rasa deg-degan bercampur dengan kekaguman pada keindahan gugusan pulau itu. Untuk satu perahu bermesin ini bisa diisi 5 orang dan didampingi 1 'nahkoda'. Biaya sewa perorang 30 ribu rupiah.

Setelah puas menikmati keindahan pantai, kita bisa beristirahat sejenak di warung-warung makan yg ada sekitar lokasi. Warung-warung disekitar Pantai Kasap menyediakan berbagai menu khas laut dan makanan khas Pacitan yang rasanya memanjakan lidah Kita. Untuk harga? Jangan kuatir, harganya terjangkau, dan terpampang jelas didaftar menu danan dijamin tidak menguras kantong. Fasilitas MCK juga tersedia cukup banyak dan bersih.

Sungguh keindahan Pantai Kasap adalah keindahan berkelas yang keindahannya membuat mata tak berkedip ketika memandangnya.

Pulau Jeju Wisatanya Lengkap, Bikin Nggak Mau Pulang

Wisata alam, budaya sampai sejarah ada di Pulau Jeju. Inilah destinasi wisata di Korea Selatan yang bikin nggak mau pulang.

Menghabiskan akhir minggu ke luar negeri selalu menjadi pengalaman seru karena jauhnya jarak serta mepetnya waktu membuat kita harus benar-benar merencanakan liburan dengan efisien dan efektif. Dengan waktu dan dana terbatas saya harus berputar otak agar mendapatkan tiket dan hotel yang murah selama di Jeju. Jeju menjadi pilihan buat saya yang sudah bosan traveling di dalam negeri, juga karena tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.

Selain itu di Jeju banyak variasi obyek wisata mulai dari wisata alam, budaya, sejarah hingga kulinernya. Setiba di Jeju, cuaca dingin langsung menyergap dengan suhu sekitar 4 derajat Celcius. Di sana hanya ada transportasi bus kota, namun enaknya semua bis sudah tersedia WiFi jadi kita tinggal buka aplikasi peta dan cari rute bis terdekat menuju tujuan. Selain bis, hampir di semua halte, tempat wisata, dan tempat umum tersedia WiFi gratis sehingga saya tak perlu lagi menyewa WiFi atau mengganti kartu SIM.

Karena waktu sudah agak sore, hari pertama saya hanya bisa mengunjungi pantai Yongduam Rock yang terkenal karena batuannya berwarna hitam seperti bekas tumpahan magma dari gunung Halla atau Hallasan yang merupakan gunung tertinggi di Korea. Malamnya saya sempatkan waktu untuk mengelilingi Dongmun Market yang terkenal dengan barang-barang murah serta makanan khas Koreanya.

Esoknya saya langsung ke tujuan utama yaitu mendaki Gunung Halla atau disebut Halla-san dalam bahasa Korea. Berhubung usia sudah tua, saya tidak mendaki ke puncak utamanya (Baerokdam) tapi ke puncak lain yang jaraknya tak jauh dari gerbang Eorimok yaitu puncak Seongpanak. Jaraknya lumayan juga jalan kaki dari halte di tepi jalan 1100 Highway ke pintu gerbang Eorimok sekitar 1 km, ditambah dari pintu gerbang ke puncak sekitar 1,3 km bolak-balik.

Setelah puas menikmati puncak Seongpanak, saya kembali turun menuju ke Seogwipo, kota terbesar kedua setelah Jeju City. Di sini terdapat kompleks wisata Jungmun Resort yang di dalamnya terdapat beberapa obyek wisata musium seperti Musium Teddy Bear, Musium Believe It or Not, dan Mueium K-Pop.

Selain itu juga ada wisata pantai dan air terjun, namun karena sudah sore saya hanya sempat ke Musium K-Pop saja. Selesai menikmati sajian musik di musium K-Pop, saya berangkat menuju ke sebuah desa tradisional dimana terdapat rumah-rumah kuno khas Korea. Namun di perjalanan saya harus berganti bis di Terminal Seogwipo.

Sambil menunggu bis ke tujuan akhir, saya jalan-jalan di belakang terminal, ternyata terdapat stadion Jeju yang menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea. Tak terasa setengah jam berkeliling stadion termasuk melihat Musium Erotis di bagian bawah stadion, perjalanan dilanjutkan menuju Seongeup Folk Village dengan transit di kota kecil Seongeup untuk berganti bis. Walau kota kecil namun tersedia juga wifi di halte bisnya sehingga saya bisa memperkirakan naik bis apa ke desa tradisional tersebut.

Sayangnya waktu sudah mendekati Maghrib ketika tiba di sana dan bagian dalamnya sudah tutup sehingga saya hanya bisa melihat-lihat dari luarnya saja. Namun rumah-rumahnya masih bisa difoto dengan jelas walau kurang cahaya. Rumah tradisionalnya sendiri terbuat dari tumpukan batu dengan atap rumbia dan berkumpul dalam satu kompleks tertentu.

Hari terakhir saya kembali ke Dongmun Market untuk berbelanja oleh-oleh sebelum pulang ke Jakarta. Di sini produk kosmetik harganya murah sehingga mata jadi gelap untuk memborong beberapa kantong masker wajah yang menjadi oleh-oleh favorit. Sayangnya hanya produk kosmetik yang murah, lainnya termasuk makan cukup mahal di sini.

Sekali makan bisa habis 150 ribu Rupiah sehingga untuk mengirit saya hanya makan roti di siang hari dan makan berat malam harinya. Sorenya saya kembali terbang ke Jakarta dengan membawa kenangan indah walau kunjungannya terlalu singkat, hanya efektif dua hari saja namun sudah mengitari setengah dari pulau Jeju. Suatu saat saya akan kembali lagi bersama keluarga untuk mengunjungi pulau tersebut.