Sumba memiliki banyak objek wisata yang mencuri hati. Salah satunya Danau Weekuri yang cantik banget!
Sumba memang selalu mempesona. Dianugerahi bentang alam yang begitu indah, Sumba selalu berhasil membuat decak kagum para penikmatnya. Danau Weekuri salah satunya. Berkunjung ke Sumba belum sah kalau belum ke danau cantik ini.
Terletak di desa Kalenarogo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, danau yang memiliki warna gradiasi hijau disertai biru bahkan putih ini berhasil menyedot perhatian pengunjung. Bagaimana tidak, danau yang berada tepat di sebelah lautan lepas ini memiliki air yang sangat jernih yang seolah-olah mengajak bermain.
Tenang, Danau Weekuri tidak terlalu dalam dan airnya sangat tenang. Untuk menuju danau, sudah tersedia tangga yang dibangun oleh warga setempat. Berenang dan mengapung bersama anak-anak setempat bisa jadi salah satu cara menikmati danau Weekuri. Kalau mau uji adrenalin, tersedia papan luncur di sisi lain danau. Saya yang penasaran pun mencobanya, meski dengan drama maju mundur maju mundur akhirnya lompat. Hehehe
Puas berenang, bisa keringkan baju dengan mengelilingi danau dengan berfoto-foto. Ya panasnya matahari Sumba cukup bikin baju saya yang basah bisa lumayan kering. Saran saya pake sunblock yang banyak sebelum eksplor danau Weekuri.
Disisi yang bersebelahan dengan laut lepas, tersedia jembatan penghubung. Jembatan yang membantu pejalan kaki lebih mudah menyusuri sekitaran danau Weekuri, karena disekitar danau dipenuhi oleh bebatuan karang yang cukup tajam.
Danau yang hijau, pepohonan hijau di seklilingnya serta kumpulan bebatuan karang yang gagah ditambah awan di langit yang cerah membuat penampakan danau Weekuri sempurna. Bagi saya, danau ini menjadi salah satu danau terindah yang pernah saya kunjungi.
Tanpa terasa hari pun semakin siang pertanda saya dan teman-teman saya harus bergegas pergi untuk pergi ke destinasi selanjutnya. Ah sepertinya baru sebentar saya tiba tapi sudah harus beranjak. Memang suasana Danau Weekuri bikin betah untuk tinggal lama-lama.
Tempat Terpencil Bumi yang Jadi Lokasi Pembantaian Mamalia Laut
Mengenaskan, sejatinya inilah pulau terpencil di Bumi. Tapi justru, jadi tempat pembantaian mamalia laut seperti paus dan anjing laut.
BBC Travel memberitakannya, Rabu (3/4/2019), yakni sebuah pulau dengan lanskap gletser, pegunungan dan jurang yang dalam. Namanya South Georgia dengan jarak terdekat dari kehidupan manusia sejauh 1.400 kilometer.
Di sini ada kamp perburuan paus juga ombak yang baik untuk berselancar di Stromness Bay. Lanskap pantainya berkerikil abu-abu dan traveler harus hati-hati dengan anjing laut berbulu dan anjing laut gajah.
Di ujung teluk South Georgia, terletak di lereng gunung dan dikelilingi oleh tanah rawa, ada sekelompok bangunan besi yang bobrok berkarat. Sebagian besar atap dan dindingnya tidak ada lagi.
Sepertinya bencana alam telah melanda dengan tanda 'Asbestos' atau 'Keep Out'. Itulah gambaran stasiun perburuan paus kini, namun seabad yang lalu Stromness adalah bagian dari industri yang sangat menguntungkan juga brutal yang mengubah South Georgia menjadi ibu kota perburuan paus Atlantik Selatan.
Seb Coulthard, pemandu ekspedisi dan sejarawan Polar Latitudes, memberi tahu bagaimana Ernest Shackleton tiba di Stromness pada tahun 1916. Pelariannya sejauh 1.300 km dari Pulau Gajah, salah satu Kepulauan Shetland Selatan yang terletak persis di utara Semenanjung Antartika berhenti di South Georgia karena terjebak es.
Untuk penjelajah kutub, stasiun perburuan paus mewakili sebuah peradaban, tetapi saat ini alam perlahan-lahan merebutnya kembali. Anjing laut berbulu yang dilindungi, penguin berjalan melewati gudang-gudang yang hancur dan burung-burung skuas menempati kembali sungai yang pernah dialiri darah puluhan ribu ikan paus.
South Georgia merupakan wilayah luar negeri Inggris sub-Antartika di Atlantik Selatan. Jarak terdekat dengan tetangganya terdekat yang dihuni manusia, yakni Kepulauan Falkland sekitar 1.400 km dan hanya dapat diakses melalui laut.
Mayoritas 18.000 orang yang mengunjungi South Georgia setiap tahun yang menggunakan kapal pesiar Antartika. Pulau ini membentang seluas 3.755 km persegi dan sekitar setengahnya tertutup secara es permanen (akibat perubahan iklim, gletsernya mencair secara drastis).