Sabtu, 08 Februari 2020

Konon Batu Besar di Ciamis Ini Tak Bisa Dihancurkan

Sebuah batu besar tergeletak di halaman situs Astana Gede Kawali, Ciamis. Konon, tak ada yang bisa menghancurkan batu besar bernama Sanghyang Bongkok itu.

Bukan prasasti ataupun peninggalan, baru ukuran besar di halaman situs Astana Gede Kawali, Ciamis ini punya keistimewaan tersendiri. Batu yang memiliki nama Sanghyang Bongkok atau ada juga yang menyebut Batu Jubleg ini konon tak bisa dihancurkan alias sangat kuat.

Batu yang terletak di pinggir lapang halaman situs Astana Gede Kawali, Ciamis, Jawa Barat ini ditemukan sekitar tahun 2008. Saat Pemerintah Desa setempat membuat sebuah lapang sepakbola.

Saat pembangunan lapang tersebut, menurut cerita yang berkembang, sempat ada warga yang mencoba menghancurkan batu, sampai menggunakan alat berat. Namun usahanya sia-sia, batu tersebut tak bisa dihancurkan.

Bahkan kabarnya, warga tersebut meninggal dunia beberapa hari usai mencoba menghancurkan batu. Alat berat yang digunakan menghancurkan batu tersebut juga malah mati mendadak.

"Selain menemukan batu, juga saat pengerjaan lapangan sampai selesai banyak masyarakat dan pekerja menemukan peningalan-peninggalan sejarah berupa keramik dan benda lainnya," ujar Fahmi Haqulyakin, warga Kawali yang juga budayawan muda.

Dijelaskan Fahmi, secara logika, semestinya alat berat mampu memecahkan Batu besar itu. Karena kekuatan alat berat dianggap melebihi berat batu, namun ternyata malah sebaliknya.

Usaha untuk memecahkan batu tersebut sampai mendatangkan orang pintar (paranormal). Namun setelah melakukan ritual tapi batu itu masih tak bisa dihancurkan.

"Sempat Pemerintah Desa mencoba untuk mendatangkan ahli benda purbakala, khawatir itu batu peninggalan, atau terdapat jejak sejarah. Tapi hasilnya tidak ditemukan adanya jejak sejarah. Jadi ini hanya batu biasa," jelas Fahmi.

Hal-hal gaib juga terjadi di sekitar batu itu. Setiap malam-malam tertentu beberapa warga sempat melihat seorang kakek berjubah putih, berjenggot panjang, badan bungkuk, tengah berkeliling bahkan duduk di atas batu tersebut. Sehingga beberapa warga menyebut baru itu Sanghyang Bongkok.

Dari berbagai kisah mistis ini, Pemerintah Desa berinisiatif membangun saung atau bangunan yang mengelilingi batu tersebut.

"Bahkan di wilayah batu itu, ketika ada yang melakukan hal negatif, berpacaran, mabuk dan lainnya akan celaka. terkadang ada yang kesurupan," pungkasnya.

Sementara itu, Budayawan Kawali Dadang Kimos membenarkan adanya cerita yang berkembang di masyarakat, batu yang tak bisa dihancurkan tersebut. Berikut menyimpan cerita mistis di dalamnya.

"Memang betul batu itu setelah ditemukan sampai sekarang tak bisa dihancurkan. Menurut saya, karena adanya cerita itu, orang menjadi takut dan merasa tidak yakin mampu memecahkan batu itu," jelas Dadang.

Ia tak sependapat dengan adanya pembangunan saung di atas batu tersebut oleh Pemdes setempat. Menurutnya batu tersebut hanya batu biasa, bukan prasasti atau peninggalan sejarah.

"Hanya saya ingatkan, batu ini jangan sampai dijadikan sebagai sarana yang akhirnya masuk kepada kemusyrikan. Itu hanya batu biasa," pungkasnya.

Tempat Terpencil Bumi yang Jadi Lokasi Pembantaian Mamalia Laut (3)

Mengenaskan, sejatinya inilah pulau terpencil di Bumi. Tapi justru, jadi tempat pembantaian mamalia laut seperti paus dan anjing laut.

BBC Travel memberitakannya, Rabu (3/4/2019), yakni sebuah pulau dengan lanskap gletser, pegunungan dan jurang yang dalam. Namanya South Georgia dengan jarak terdekat dari kehidupan manusia sejauh 1.400 kilometer.

Di sini ada kamp perburuan paus juga ombak yang baik untuk berselancar di Stromness Bay. Lanskap pantainya berkerikil abu-abu dan traveler harus hati-hati dengan anjing laut berbulu dan anjing laut gajah.

Di ujung teluk South Georgia, terletak di lereng gunung dan dikelilingi oleh tanah rawa, ada sekelompok bangunan besi yang bobrok berkarat. Sebagian besar atap dan dindingnya tidak ada lagi.

Sepertinya bencana alam telah melanda dengan tanda 'Asbestos' atau 'Keep Out'. Itulah gambaran stasiun perburuan paus kini, namun seabad yang lalu Stromness adalah bagian dari industri yang sangat menguntungkan juga brutal yang mengubah South Georgia menjadi ibu kota perburuan paus Atlantik Selatan.

Seb Coulthard, pemandu ekspedisi dan sejarawan Polar Latitudes, memberi tahu bagaimana Ernest Shackleton tiba di Stromness pada tahun 1916. Pelariannya sejauh 1.300 km dari Pulau Gajah, salah satu Kepulauan Shetland Selatan yang terletak persis di utara Semenanjung Antartika berhenti di South Georgia karena terjebak es.

Untuk penjelajah kutub, stasiun perburuan paus mewakili sebuah peradaban, tetapi saat ini alam perlahan-lahan merebutnya kembali. Anjing laut berbulu yang dilindungi, penguin berjalan melewati gudang-gudang yang hancur dan burung-burung skuas menempati kembali sungai yang pernah dialiri darah puluhan ribu ikan paus.

South Georgia merupakan wilayah luar negeri Inggris sub-Antartika di Atlantik Selatan. Jarak terdekat dengan tetangganya terdekat yang dihuni manusia, yakni Kepulauan Falkland sekitar 1.400 km dan hanya dapat diakses melalui laut.

Mayoritas 18.000 orang yang mengunjungi South Georgia setiap tahun yang menggunakan kapal pesiar Antartika. Pulau ini membentang seluas 3.755 km persegi dan sekitar setengahnya tertutup secara es permanen (akibat perubahan iklim, gletsernya mencair secara drastis).

Diperkirakan ada 60.000 paus jenis humpback di belahan bumi selatan, tetapi ini juga jauh lebih rendah daripada era pra-perburuan paus. Pada bulan September 2018, IWC berencana untuk mendata perburuan paus Atlantik Selatan dan ditolak oleh negara-negara pemburuan paus.

Jepang kemudian mengumumkan akan memulai perburuan ikan paus komersial untuk pertama kalinya dalam tiga dekade dan memicu kemarahan global. Nasib paus suram, tetapi South Georgia telah menjadi model konservasi yang mustahil dilakukan.

Salah satu cagar laut terbesar di dunia, Kawasan Perlindungan Laut Kepulauan South Georgia dan South Sandwich, dibuat di sini pada 2012 untuk melindungi lebih dari satu juta km persegi perairan di sekitarnya. Sementara itu, jumlah anjing laut telah kembali di pulau itu dan kini memiliki 98% jumlahnya dari total ekosistemnya di dunia dengan jenis berbulu dan sekitar 50% dari jenis gajah laut.

South Georgia juga memiliki 30 juta pasang burung laut dan di Teluk St Andrews ada 400.000 penguin, salah satu dari empat spesies penguin yang ditemukan di pulau itu. Di Pulau Prion, adalah tempat berkembang biak bagi elang laut.

Tahun lalu, South Georgia dinyatakan bebas hewan pengerat setelah program pemberantasan. Pemerintah berharap akan adanya perkembangan baru bagi burung endemik seperti pipit dan pintail (itik kutub) di Georgia Selatan.

Traveler bisa ke sana dengan operator-operator seperti Polar Latitudes. Perjalanan ke South Georgia juga tersedia melalui Quark Expeditions, One Ocean Expeditions dan National Geographic Expeditions dan lainnya.