Selasa, 11 Februari 2020

Wow! Stasiun Tawang Makin Memesona Berkat Monumen Lokomotif

PT Kereta Api Indonesia (Persero) turut mendukung revitalisasi wilayah Kota Lama di Polder Stasiun Semarang Tawang. KAI bekerja sama dengan pemerintah Kota Semarang meresmikan monumen Lokomotif D 301 59.

Peresmian monumen Lokomotif D 301 59 yang dihiasi Dancing Fountain ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro bersama Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang juga sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L).

Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, mengatakan pembangunan monumen dilatarbelakangi sebagai wujud untuk mengenang beroperasinya lokomotif seri D 301 59 di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia mulai tahun 1962.

"Pada tahun 1962-1963, sebanyak 80 lokomotif didatangkan dari Pabrik Fried Krupp Jerman oleh DKA (Djawatan Kereta Api) untuk melayani kereta api penumpang maupun kereta api barang di wilayah pulau Jawa," ujar Edi dalam keterangan tertulis, Rabu (27/3/2019).

Ia menerangkan, lokomotif yang dapat melaju hingga kecepatan 50 km/jam dengan ditopang mesin diesel berdaya 340 HP ini, beberapa unit masih beroperasi untuk keperluan dinas langsir di stasiun-stasiun besar di pulau jawa dan kereta api wisata di Museum KA Ambarawa.

"Lokomotif yang kini digunakan sebagai monumen, telah beroperasi kurang lebih selama 52 tahun di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia," sebutnya.

Tercatat pada bulan April tahun 2014, lokomotif tersebut dinyatakan sudah tidak siap operasi dan mangkrak di emplasemen Depo Lokomotif Semarang Poncol. Melihat hal tersebut, KAI berinisiatif untuk menjadikannya monumen di area kota lama yang juga menjadi salah satu ikon di Kota Semarang lengkap dengan hiasan Dancing Fountain.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi langkah KAI dalam mempercantik kawasan Kota Lama Semarang. "Hadirnya Monumen Lokomotif D 301 59 dan Dancing Fountain di Polder Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu langkah yang baik dalam mempercantik Kota Lama Semarang yang saat ini masih terus direvitalisasi. Polder Stasiun Semarang Tawang masih menjadi satu lokasi dengan kawasan Kota Lama Semarang sehingga monumen tersebut dapat menjadi salah satu ikon di Kota Semarang," jelas Hevearita.

Perlu diketahui, Polder Stasiun Semarang Tawang merupakan tanah milik KAI yang diperuntukkan sebagai polder resapan air untuk mengurangi banjir di wilayah Kota Lama Semarang. Selain untuk resapan air, sekaligus mempercantik wilayah Polder Stasiun Semarang Tawang, KAI mempersembahkan sebuah monumen lokomotif untuk melengkapi tampilan kota lama yang lebih eksklusif, mengingat Pemerintah Kota Semarang saat ini masih fokus pada revitalisasi kota lama.

Penyediaan Air Minum Gratis

Selain meresmikan monumen lokomotif, KAI juga menyediakan air minum gratis melalui keran yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang di stasiun Tawang. Hal itu juga merupakan salah satu wujud pelayanan prima KAI kepada seluruh pelanggan pengguna jasa kereta api.

"Dengan adanya air minum gratis dengan kapasitas 1500 liter diharapkan mampu memudahkan penumpang yang ada di stasiun Tawang," kata Edi lagi.

Sebagai perwujudan peningkatan kualitas pelayanan dan kepedulian KAI pada kebutuhan penumpang di Stasiun Tawang, kini telah disediakan air minum gratis di peron Stasiun Tawang. Air minum gratis di Stasiun Tawang tersebut berasal dari sumber air tanah yang diolah menggunakan sistem Refresh Osmosis (RO) melalui 4 kali penyaringan.

"Sistem penyaringan yang dilengkapi dengan UV untuk mensterilkan dari bakteri yang tidak dibutuhkan untuk tubuh manusia dan telah lolos uji di laboratorium," terang Edi.

Liburan Bersama Keluarga di Pattaya, Kunjungi Taman Rekreasi Ini

Liburan keluarga, asyiknya ke taman rekreasii. Ada satu tempat yang menarik di Pattaya, Thailand buat kamu yang ingin liburan bareng keluarga.

Inilah Suanthai Pattaya, tempat rekreasi yang menonjolkan berbagai budaya Thailand dalam satu tempat. Lokasinya berada di Chon Buri, Pattaya, Thailand. Kalau dari kota Bangkok, dapat ditempuh kurang lebih 2 jam.

Suanthai menawarkan sejumlah atraksi yang beragam. Mulai dari naik gajah, berkuda, memetik buah hingga mencoba langsung bagaimana rasanya memakai pakaian tradisional Thailand.

Dari mulai pintu masuk, traveler sudah disuguhkan dengan 2 patung gajah putih. Sedikit maju, ada atraksi naik gajah yang seru banget. Ngeri-ngeri asyik!

Suanthai juga menyediakan bus wisata. Bus ini bisa digunakan gratis, sehingga traveler bisa turun di sejumlah wahana yang dipilih. Misalnya saja, naik perahu di sungai buatan.

Ada juga memetik buah segar. Namun, buah-buah di sini tidak selamanya ada. Tergantung musimnya. Jenis buah pun bervariasi, seperti jambu, melon, apel hingga durian pun ada lho.

Nah, salah satu keunikan Suanthai adalah kesan tradisional yang tidak lepas dari ranah modern. Misalnya saja, ada tempat khusus mencoba pakaian tradisional Thailand. Cocok banget buat traveler yang suka wisata budaya dan foto ala-ala di sini.

Ada juga sebuah kolam yang digunakan untuk berdoa dalam kepercayaan Buddha. Pengunjung bisa mengambil berkat atau sajian yang digunakan untuk berdoa gratis, serta melepaskan ke kolam yang disediakan.

Selain itu, di jam-jam tertentu, traveler juga bisa menonton pertunjukan budaya yang ditampilkan oleh waria. Pertunjukan ini menampilkan tarian berupa representasi dari berbagai wilayah di Thailand.

Untuk biayanya, traveler bisa membeli paket-paket yang ditawarkan. Paketnya dijual mulai THB 57, atau sekitar 26 ribu untuk anak-anak dan THB 103 (Rp 47 ribu) untuk dewasa.

Wow! Stasiun Tawang Makin Memesona Berkat Monumen Lokomotif

PT Kereta Api Indonesia (Persero) turut mendukung revitalisasi wilayah Kota Lama di Polder Stasiun Semarang Tawang. KAI bekerja sama dengan pemerintah Kota Semarang meresmikan monumen Lokomotif D 301 59.

Peresmian monumen Lokomotif D 301 59 yang dihiasi Dancing Fountain ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro bersama Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang juga sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L).

Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, mengatakan pembangunan monumen dilatarbelakangi sebagai wujud untuk mengenang beroperasinya lokomotif seri D 301 59 di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia mulai tahun 1962.

"Pada tahun 1962-1963, sebanyak 80 lokomotif didatangkan dari Pabrik Fried Krupp Jerman oleh DKA (Djawatan Kereta Api) untuk melayani kereta api penumpang maupun kereta api barang di wilayah pulau Jawa," ujar Edi dalam keterangan tertulis, Rabu (27/3/2019).

Ia menerangkan, lokomotif yang dapat melaju hingga kecepatan 50 km/jam dengan ditopang mesin diesel berdaya 340 HP ini, beberapa unit masih beroperasi untuk keperluan dinas langsir di stasiun-stasiun besar di pulau jawa dan kereta api wisata di Museum KA Ambarawa.

"Lokomotif yang kini digunakan sebagai monumen, telah beroperasi kurang lebih selama 52 tahun di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia," sebutnya.

Tercatat pada bulan April tahun 2014, lokomotif tersebut dinyatakan sudah tidak siap operasi dan mangkrak di emplasemen Depo Lokomotif Semarang Poncol. Melihat hal tersebut, KAI berinisiatif untuk menjadikannya monumen di area kota lama yang juga menjadi salah satu ikon di Kota Semarang lengkap dengan hiasan Dancing Fountain.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi langkah KAI dalam mempercantik kawasan Kota Lama Semarang. "Hadirnya Monumen Lokomotif D 301 59 dan Dancing Fountain di Polder Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu langkah yang baik dalam mempercantik Kota Lama Semarang yang saat ini masih terus direvitalisasi. Polder Stasiun Semarang Tawang masih menjadi satu lokasi dengan kawasan Kota Lama Semarang sehingga monumen tersebut dapat menjadi salah satu ikon di Kota Semarang," jelas Hevearita.