Rabu, 12 Februari 2020

Cerita Semalam Bersama Baduy Dalam

Belajar kesedarhanaan bisa kamu dilihat dari kehidupan Suku Baduy Dalam. Kental akan tradisi dan jauh dari teknologi. Pengalaman yang baru!

Dalam Kesederhanaan, Ku Belajar dari Baduy. Terbawa kembali langkahku untuk terus mencari hal-hal baru dan pengalaman baru. Perjalanan ku mulai dari kota dimana saya merantau ya Kota Semarang. Tahun 2018 yang segera berakhir, aku tak mau hanya diam di kost yang selalu dibayangi oleh tugas kampus.

Banyak orang diluar sana lebih memilih untuk pergi ke tempat yang ramai dan pesta kembang api, banyak juga yang hanya dirumah bersama keluarga, tapi juga tak sedikit orang memilih untuk pergi ke tempat yang jauh dari kota. Tidak pikir panjang, Baduy menjadi salah satu tujuan untuk mengakhiri tahun 2018 dan memulai tahun 2019. Tidak begitu banyak tau tentang Baduy, bermodal nekat dan percaya diri aku berangkat ditemani satu teman seperantauan.

Dari stasiun Tawang sampai juga di stasiun tujuan Pasar Senen dan melanjutkan ke stasiun Tanah Abang dan dengan KRL ke arah Jurang Mangu, singkat cerita aku menginap semalam di rumah kawan. Tiba waktu yang ditunggu ku melanjutkan perjalanan menuju stasiun Rangkas Bitung. Stasiun ini memang menjadi transport apabila akan ke Baduy.

Di stasiun ini aku bertemu dengan peserta open trip yang lain dari berbagai kota. Pihak travel kemudian mengarahkan kita ke sebuah terminal kecil dan disitu sudah siap angkot yang akan mengantar kita ke Baduy. Perjalanan dari stasiun Rangkas Bitung menuju Ciboleger salah satu desa di Baduy sekitar 2 jam.

Desa Ciboleger menjadi pintu masuk apabila mau berkunjung ke Baduy Dalam. Setelah beristirahat sejenak untuk makan siang kami langsung memulai perjalanan yang amat panjang. Ternyata benar, disini jauh dari keramaian kota, tauh dari kata modern. Di setiap langkah rasanya ada saja yang selalu terkesan di hati tak jarang juga menjadi tamparan untuk intropeksi ke diri sendiri.

Setiap peristirahatan juga membawa banyak canda disana. Tak jarang juga ku menyapa warga-warga yang sedang bersantai menikmati hujan, ibu yang sedang menenun, anak kecil yang sedang berduduk disana, bapak yang memikul durian bahkan anak anak kecil yang juga memikul tak hanya satu dua buah durian. Hatiku rasanya teriris dan malu dengan diri sendiri.
Sewaktu istirahat, sempat bertanya ke anak kecil yang sebenarnya pertanyaan yang diluar akal tapi membuat penasaran. Waktu itu masih di Baduy Luar.

Ya, katanya perempuan di baduy diharuskan untuk bisa menenun, dan hasil tenunan dijual sebagai oleh oleh para wisatawan yang berkunjung ataupun untuk membuat pakaiannya sendiri. Masyarakat baduy dikenal dengan pakaian yang bewarna hitam dan putih dengan ikat kepala.

Tak terasa 20.000 lebih langkah kaki, sudah sekitar 6 jam lebih berjalan dengan medan yang berbatu dan licin karena hujan. Selama itu, ku menikamti suasana yang amat sangat damai, tenang dan dengan rasa gemira. Tak mudah untuk menuju ke Baduy Dalam, dengan tubuh yang sulit menyesuaikan suhu, pengalaman naik gunung tak terlalu banyak. Sampai juga disebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu (sama dengan baduy luar).
Kami disambut oleh tuan rumah dengan ramah. Lagi dan lagi aku lupa nama tetehnya. Sebelum gelap, aku langsung bersih diri di sungai yang tak jauh dari rumah, hanya di belakang rumah. Yaa di sini tidak ada yang namanya toilet bahkan gaada yang namanya sabun, shampo, pasta gigi dan sikat gigi, apalagi mengenal skincare.

Di sini bener bener memanfaatkan alam yang ada. Kalo mau buang hajat atau mandi ya di sungai. Disini aku ga merasa jijik atau geli, memang aku terlahir di desa.

Sembari menikmati teh hangat yang disajikan di gelas dari bamboe. Di Cibeo, desa tempat aku tinggal semalam, masih menganut leluhur nenek moyang, banyak larangan juga untuk wisatawan yang menginap di baduy dalam. Ga menyalakan elektronik terutama handphone, dan di baduy dalam wisatawan tidak diperbolehkan mengambil gambar.

Di rumah itu benar benar kami menikmati kebersamaan, banyak ngobrol sesama peserta trip lain jadi makin deket. Padahal baru ketemu sehari. Banyak certia di ruang yang hanya di terangi dengan lentera. Sembari menanti makan malam siap. Ada yang unik disini, ya alat makan yang kami gunakan benar benar memanfaatkan dari alam, sendok bambu, gelas bambu, mangkuk bambu.

Pemilik rumah banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan karena banyak hal yang membuat kami penasaran. Ternyata kami menjadi tamu wisatawan yang beruntung, pasalnya dikabarkan bahwa terhitung dari Januari-Maret di Baduy Dalam tidak menerima tamu karena ada acara adat/ kawalu. Namun karena satu dan lain hal Kawalu di undur hingga bulan Febuari-April.

Nggak Selamanya Mahal, Ini 6 Tempat Wisata Gratis di Melbourne

Destinasi wisata di luar Asia favorit orang Indonesia salah satunya adalah Australia. Kota paling seru untuk dijelajahi adalah Melbourne.

Terletak di negara bagian Victoria, Melbourne punya banyak keunikan tersendiri. Dengan tata kota yang baik, banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi tanpa bikin anggaran traveling jebol.

Mulai dari sejarah, taman kota sampai wisata belanja ramah kantong pun tersedia di Melbourne. detikTravel Senin (25/3/2019) telah mengumpulkan sejumlah tempatnya:

1. State Library of Victoria

Perpustakaan umum di jantung kota Melbourne ini jadi bukan hanya sekedar ruang publik. Tetapi juga destinasi wisata yang sayang jika dilewatkan.

Letaknya di Swanston Street, Melbourne CBD, tepat di depan Melbourne Central. Bagi traveler yang gemar membaca, inilah surganya. Selain itu, State Library Victoria juga menyediakan berbagai tempat untuk membaca atau hanya sekedar bekerja di meja-meja panjang. Bagi turis, di jam-jam tertentu juga ada tur gratis yang dipandu oleh pihak pengelola.

2. Shrine of Remembrance

Penggemar wisata sejarah, tidak lengkap kalau melewati Shrine of Remembrance saat ke Melbourne. Inilah monumen tempat mengenang jasa pahlawan yang sudah berjuang demi Negeri Kanguru.

Monumen ini dibangun untuk mengingatkan warga Australia terhadap para pahlawannya yang gugur dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Museum ini dibangun di atas taman yang sangat indah dengan kombinasi lahan dengan perpohonan dan juga danau yang berisi angsa, bebek, dan burung air lainnya. Letaknya pun menjadi satu area dengan Botanical Gardens, jadi selain wisata sejarah traveler juga bisa menikmati taman kota yang sejuk dan nyaman.

3. Carlton Gardens

Salah satu taman kota yang rapi dan cantik di Melbourne adalah Carlton Gardens. Letaknya tidak jauh dari State Library of Victoria, hanya 10 menit berjalan kaki.

Di sini, traveler bisa duduk santai sembari menikmati udara sejuk. Ada sejumlah danau, tempat bermain basket sampai pepohonan yang cantik. Di kawasan yang sama, ada juga Royal Exhibition Building, gedung serbaguna yang bernuansa sejarah. Jika datang ke sini di momen pameran, biasanya Royal Exhibition Building dibuka untuk umum.

4. Hosier Lane

Tidak lengkap rasanya mengunjungi Melbourne tanpa ke gang artistik nan Instagenic. Melbourne memang menyediakan gang-gang untuk seniman jalanan berekspresi, dengan menggambar mural yang keren banget.

Yang paling terkenal adalah Hosier Lane. Letaknya tidak jauh dari Flinders Street dan Federation Square. Kalau ke sini, cocoknya siang menjelang sore hari, cocok untuk mengabadikan momen dengan foto-foto keren. Di dalam gang, juga ada beberapa toko yang menjual aneka barang fesyen dengan tema 'street fashion'.

5. Melbourne CBD

Melbourne punya kawasan bisnis dan pusat kota yang keren. Inilah Melbourne CBD, jantung kota yang seru untuk dieksplor.

Gedung-gedung di sini tidak selamanya modern, banyak bangunan tua yang difungsikan sebagai pusat perbelanjaan ataupun perkantoran. Jika traveler berkunjung saat musim semi atau dingin, sangat asyik apabila dinikmati dengan berjalan kaki. Hanya jalan-jalan dan menikmati kota saja sudah menyenangkan. Bagi yang suka foto-foto, sempatkan untuk mengabadikan momen di Flinders Street dan kawasan Bourke, inilah jalanan ikonik di sana.

6. Federation Square

Ruang terbuka Melbourne patut diacungi jempol. Federation Square salah satu bukti nyatanya, ruang publik yang jadi destinasi wisata andalan.

Sebenarnya, inilah kawasan gedung modern dan industri kreatif. Di kawasan ini, berdiri gedung media SBS dan museum ACMI (Australia Centre for the Moving Images). Area Federation Square juga menjadi lahan untuk event-event menarik. Jika tidak ada, umumnya turis atau warga lokal menjadikan tempat ini sebagai kawasan nongkrong yang seru.