Rabu, 12 Februari 2020

Pro-Kontra Tambang Emas Bukit Prabu di Sekitar Mandalika

Selain kawasan Mandalika Lombok, ada Bukit Prabu yang juga jadi sorotan. Di sini terdapat aktivitas penambangan emas yang belum mendapatkan izin. Duh!

Aktivitas penambangan emas di Bukit Prabu kembali mencuat di tengah gencarnya rencana pengembangan kawasan Mandalika Lombok.

Bukit Prabu adalah lokasi yang banyak dijadikan tempat penambangan emas dan diduga belum mengantongi izin resmi ini berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Aktivitas tambang di Bukit Prabu itu sudah berlangsung cukup lama. Selama hampir lebih 10 tahun, sebagian besar warga desa sekitar menggantungkan hidup mereka dari aktivitas menambang.

Pelarangan penambangan di Desa Prabu, jauh sedari tahun sebelumnya sudah dilakukan sejak 2010 silam. Waktu itu, Bupati Lombok Tengah HL Wiratmaja mengeluarkan maklumat, jika di Pendaus Jaran, Desa Prabu aktivitas tambangnya dilarang.

Alasannya, selain tak tak berizin juga dikhawatirkan dengan adanya penambangan liar itu dapat mengganggu keseimbangan lingkungangan yang ada di sekitarnya. Di akhir tahun 2018 lalu, Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT juga sempat mewacanakan agar lokasi galian tambang emas di Desa Prabu ditutup.

Lokasi Bukit Prabu berada dekat dengan lingkar kawasan KEK Mandalika. Sempat mencuat pihak ITDC meminta kepada Pemkab Lombok Tengah dan Pemprov NTB agar penambangan di Bukit Prabu bisa ditertibkan.

"Tentu kalau kita melihat masalah, ada masalah. Tapi kita lihat juga walau bagaimanapun kita sudah tidak memperbolehkan tambang ilegal," ucap Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Senin (25/3/2019).

"Nanti saya akan mengingatkan kembali Kepala Dinas Pertambangan juga pimpinan daerah di Lombok Tengah untuk mulai cukup serius menutup dan mengatasi penambangan emas," sambungnya.

Meskipun demikian, Zul memberi catatan sebelum penambangan liar itu betul-betul ditutup mesti ada sosialisasi dan solusi yang saling menguntungkan para pihak.

"Tentu kan kita nggak mungkin menutup mata pencaharian orang tanpa memberikan sosialisasi, penjelasan dan solusi yang lebih bagus buat semua," ujarnya.

Dia juga menuturkan sudah melihat langsung proses pengolahan batu emas di Desa Prabu. Dengan proses teknologi yang sederhana dan dengan biaya yang tak terlalu besar, kata dia, warga bisa memperoleh keuntungan yang nilainya lumayan besar.

"Saya sudah tanyakan apakah ada merkurinya, ternyata mereka tidak gunakan merkuri," kata Zul.

Belajar dari Singapura, Inilah Aturan Naik MRT di Sana

Mass Rapid Transit (MRT) merupakan moda transportasi baru di Jakarta. Supaya tetap nyaman dan terawat, mari belajar aturan naik MRT di Singapura

Presiden Jokowi telah meresmikan MRT Jakarta pada Minggu (24/3) kemarin. Sekarang naiknya masih gratis, untuk pengoperasian MRT secara komersial akan dimulai pada 1 April 2019 mendatang.

MRT Jakarta diharapkan menjadi peradaban baru wajah transportasi Indonesia. Tak hanya transportasinya saja yang keren, diharapkan sikap penumpangnya juga makin keren untuk jadi lebih tertib, rapi dan bersih.

Sebab tak dipungkiri, akhir-akhir ini di media sosial ramai soal para penumpang MRT yang jadi persoalan. Gara-garanya seperti, buang sampah sembarangan dan egois naik eskalator.

Mari, kita belajar dari aturan naik MRT Singapura. Dilihat detikTravel dari laman resmi SMRT pada Senin (25/3/2019) terdapat banyak aturan tegas bagi penumpang MRT di sana. Bahkan, denda yang tidak sedikit menanti jika ada yang berani melanggar aturannya.

Ambil contoh, pihak MRT Singapura melarang penumpang makan dan minum di dalam MRT demi menjaga kebersihan. Jika kedapatan, siap-siap kena denda sebesar SGD 500 atau setara Rp 5,2 juta. Angka yang tidak sedikit bukan?

"Meminum air putih, atau minuman apa pun dalam hal ini, tidak diizinkan karena minuman tersebut dapat tumpah dan membasahi kursi, mengotori barang-barang penumpang lainnya atau membuat penumpang terpeleset," tulis pernyataan resminya.

Selasa, 11 Februari 2020

Akhir Pekan di Sabang, Yuk ke Festival Khanduri Laot

Sabang punya acara menarik akhir pekan ini. Festival Khanduri Laot 2019 akan digelar dan wisatawan yang datang bisa wisata kuliner gratis!

Traveler yang liburan ke Sabang akhir pekan ini bakal disuguhkan dengan festival Khanduri Laot 2019. Di sana, pelancong dapat menikmati sajian kuah beulangong (kari kambing) secara gratis.

Festival Khanduri Laot 2019 digelar di Sabang selama tiga hari mulai 30 Maret sampe 1 April. Sejumlah kegiatan disuguhkan untuk memanjakan traveler di antaranya lomba hias boat tet-tet, lomba masak kuah beulangong (aceh culinary contest) dan lomba kayuh perahu naga

Khusus untuk lomba masak kuah beulangong digelar pada 31 Maret. Rencananya, lomba dipusatkan di sepanjang jalan Diponegoro mulai dari depan Pendapa Wali Kota Sabang, Kantor KP2TSP hingga ke arah kawasan Taman Ria.

Beragam peralatan masak nanti dijejerkan sepanjang jalan. Traveler pun dapat melihat dari dekat proses memasak kuliner khas Tanah Rencong.

"Sebanyak 74 peserta dipastikan siap ikut ambil bagian dipesta lomba masak kuah beulangong. Kita perkirakan, tersedia 15.000 nasi yang sudah terbungkus daun pisang sebagai salah satu dari syarat perlombaan," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Faisal dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (27/3/2019).

Traveler yang melancong ke Sabang, nanti bebas memilih makanan sesuai selera. Soalnya, hasil yang diperlombakan itu memang untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat ataupun turis.

Menurutnya, kegiatan lomba masak kuah beulangong ini merupakan rangkaian dari acara Festival Khanduri Laot 2019.

Untuk pelaksanaan lomba tersebut, dibagi dalam dua kelompok perlombaan. Dari 74 peserta lomba, pada kelompok pertama diperlombakan untuk katagori lokal yang diikuti 58 peserta.

Dan untuk peserta lomba katagori open diikuti 16 peserta dari sejumlah catering pemasak handal asal Sabang dan juga berasal dari luar daerah.

Peserta yang ambil bagian dalam lomba ini tentu sudah teruji dan memiliki pengalaman masak yang tidak diragukan lagi.

"Jadi, 16 peserta open yang mengikuti lomba ini, sebagian dari mereka memang sudah memiliki pengalaman dan kelezatan masakannya selain sudah terkenal juga sudah diketahui masyarakat Aceh," jelas Faisal.

16 peserta yang ikut lomba itu berasal dari rumah makan terkenal di Banda Aceh dan Aceh Besar, di antaranya, dari rumah makan Lem Bakrie, rumah makan Hasan, rumah makan Bak Trieng, rumah makan Dek Gun, rumah makan Ayam Pramugari dan rumah makan Dek Gam 2. Lomba tersebut memperebutkan total hadiah Rp 72 juta.

"Lomba masak kuah beulangong yang diadakan pada kegiatan Festifal Khanduri Laot Kota Sabang tahun anggaran 2019 ini, selain untuk memeriahkan juga bertujuan menarik para wisatawan untuk datang ke Kota Sabang," ujar Faisal.

Wajah Eksotis Yogyakarta yang Selalu Mempesona

Yogyakarta begitu lekat dengan candi dan Malioboro. Jadi wajah dari Yogyakarta, mari lihat lagi keeksotisannya yang tak pernah pudar.

Kala itu hari Minggu, posisi matahari sudah tinggi. Kami sedang mencari parkiran kosong untuk kendaran kami. Akhirnya kami pun menemukan spot parkir yang tidak begitu teduh. Pengunjung cukup ramai dan para pedagang souvenir juga tidak mau kalah ramai.

Para pedangang membawa penuh dagangannya di kedua tangannya. Mulai dari ibu-ibu sampai bapak bapak berusaha menawarkan dagangannya kepada para pengunjung. Souvenir yang dijual adalah baju kaos dengan tulisan Borobudur, kerajinan tangan bangunan candi, gantungan kunci, kaca mata, topi dan lain lain.

Cara penjualannya juga cukup agresive tapi tidak sampai tahap mengganggu, masih wajarlah. Hanya saja kalau tidak bisa menawar harganya bisa bikin gondok. Saranku untuk para traveler bila baru mau masuk ke candi Borobudur sebaiknya tidak perlu membeli souvenir dahulu walaupun ada yang bilang di dalam tidak ada yang jualan makanan dan minuman dan souvenir.

Sebaiknya anda hanya perlu membawa minuman saja. Karena untuk sampai di candi perjalanan kaki cukup lumayan jauh. Bila traveler tidak mau jalan kaki juga ada disiapkan kendaraan untuk keliling kawasan candi di waktu tertentu.

Butuh sekitar 30 menit berjalan kaki dengan santai sampai di pelantaraan utama candi Borobudur. Setiba di pelantaran utama ada sebuah gerbang utama memasuki candi tersebut dari kejauhan nampak sebuah situasi yang sering aku lihat di media sebelum sebelumnya. Seperti dejavu walaupun aku belum pernah ke tempat ini.