Rabu, 12 Februari 2020

Mengintip Indahnya Vihara Dewi Kwan Im di Sukabumi

Weekend di Sukabumi, kunjungi Vihara Nam Hai Kwan Im Po Sat. Arsitekturnya yang keren, juga pemandangan di sekitar vihara yang menawan.

Vihara Nam Hai Kwan Im Po Sat atau yang sering disebut Vihara Dewi Kwan Im merupakan vihara di atas bukit di Kabupaten Sukabumi. Vihara ini mirip dengan vihara-vihara yang ada di Thailand karen lokasinya yang langsung menghadap ke Pesisir Pantai.

Sedikit share perjalanan saya menuju Pelabuhanratu yah guys. Jadi saya dari Bekasi menggunkan KRL Commuter Line dari Stasiun Tambun yang dekat dengan rumah. Setelah itu saya transit di Stasiun Manggarai dan pindah ke jalur 8 untuk naik KRL jurusan Bogor. Nah di Stasiun Bogor, saya lanjut perjalanan ke Terminal Baranangsiang menggunakan ojek online.

Dari Terminal Baranangsiang saya naik Bus MGI jurusan Bogor Pelabuhanratu AC. FYI yaa guys, bus ini ada Ekonomi dan AC. Harganya pun beda yah. Kalo AC kisaran Rp 40 ribu- Rp 50 ribu, sedangkan Ekonomi kisaran Rp 30 - 40 ribu. Jarak tempuhnya kurang lebih 3 - 4 jam yah, Bogor ke Pelabuhanratu.

Nah kali ini saya penasaran sama vihara yang ada di dekat Pelabuhanratu nih guys. Karena selain untuk tempat ibadah Umat Buddha, vihara ini juga di buka untuk umum juga alias siapapun boleh masuk ke sini. Nama viharanya adalah Vihara Nam Hai Kwan Im Po Sat.  

Vihara yang terletak di daerah Loji, atau alamat lengkapnya ada di Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Sukabumi, Jawa Barat ini memiliki pemandangan yang sangat indah bak vihara-vihara di Thailand.

Di pintu masuk kalian akan disambut dengan dua patung naga berkepala tujuh yang badanya akan mengiringi kita naik keatas dengan tangga-tangganya. Selajutnya kalian akan melihat patung yang cukup besar berselimutkan kain berwana orange. Naik ketas lagi kalian akan melihat beberapa bangunan yang di fungsikan sebagai penginapan. Nah penginapan ini bisa disewakan yah guys.

Oh iya, mungkin kalian akan menaiki ratusan anak tangga hingga ke paling atas yah. So harus kuat yah. Setelah kalian melewati penginapan, kalian akan menemukan bagunan yang di fungsikan sebagai kantin, toilet, dan musolah. Jadi jangan khawatir kalian bisa makan siang disini dan untuk yang muslim kalian bisa solat di sini. Setelah sejenak beristirahat kalian akan sampai di altar yang paling besar dengan view pantai di depanya.

Ini bisa dibilang altar paling besar yang ada di sini. Kalian boleh masuk dan berkeliling disekitaran sini. Tapi harus lepas alas kalian yah dibawah. Guys, ini kan sebenarnya vihara yah tempat ibadahnya Umat Buddha, jadi pasti disini banyak yang sedang beribadah dan berdoa. So kalian tolong hargai mereka yang beribadah yah. dengan cara jangan menggangu dan berisik.

Di altar pertama ini terdapat banyak patung, dan salah satunya adalah patung Sungokong dan Gurunya. Kalian juga akan melihat banyak sesajian yang ada disekitaran patung. Karena salah satu view pantai yang paling bagus ada di altar ini, jadi biasanya agak ramai.

Setelah dari sini kalian bisa naik dan menuju ke Pendopo Eyang Prabu Siliwangi yang berada disebelah kanan atau kalian bisa melanjutkan naik. Diatas sebelum akan melihat patung burung bermoncong buaya dan berwarna emas. Di patung ini juga terdapat batu berwarna agak kemerahan tepat berada di lehernya. saya sih kurang tau artinya apa, tapi sepertinya ini salah satu patung yang diagungkan, karena disekitaran sini juga banyak ditemukan sesajian.

Tepat disebelah kanan terdapat tangga naik keatas yang menuju ke Pendopo Nyi Roro Kidul. Sudah bisa terlihat dari luar ada lukisan Nyi Roro Kidul dengan ornamen yang serba hijau. Kalian bisa masuk kok. Pendopo Nyi Roro Kidul ini merupakan pendopo teratas yah, jadi tidak ada pendopo lagi diatasnya. Dari sini pun kalian bisa melihat view pantai yang sangat indah.

Guys, masuk vihara yang sering disebut Vihara Dewi Kwan Im ini gratis. Paling nanti kalian bayar parkir aja. Kalian cukup berperilaku sopan, tidak berlaku asusila dan juga menjaga ucapan. Yang tetap harus kita ingat adalah kita sedang berkunjung ke tempat ibadah, so kita harus saling menghargai.

Segitu dulu yah guys cerita saya tentang melihat indahnya vihara Dewi Kwan Im di Sukabumi ini. Mungkin bisa menjadi salah satu daftar kunjungan kalian ketika ada di Kabupaten Sukabumi, dan dekat dengan Pelabuhanratu. Selamat berlibur ya!

Cerita Semalam Bersama Baduy Dalam (2)

Di stasiun ini aku bertemu dengan peserta open trip yang lain dari berbagai kota. Pihak travel kemudian mengarahkan kita ke sebuah terminal kecil dan disitu sudah siap angkot yang akan mengantar kita ke Baduy. Perjalanan dari stasiun Rangkas Bitung menuju Ciboleger salah satu desa di Baduy sekitar 2 jam.

Desa Ciboleger menjadi pintu masuk apabila mau berkunjung ke Baduy Dalam. Setelah beristirahat sejenak untuk makan siang kami langsung memulai perjalanan yang amat panjang. Ternyata benar, disini jauh dari keramaian kota, tauh dari kata modern. Di setiap langkah rasanya ada saja yang selalu terkesan di hati tak jarang juga menjadi tamparan untuk intropeksi ke diri sendiri.

Setiap peristirahatan juga membawa banyak canda disana. Tak jarang juga ku menyapa warga-warga yang sedang bersantai menikmati hujan, ibu yang sedang menenun, anak kecil yang sedang berduduk disana, bapak yang memikul durian bahkan anak anak kecil yang juga memikul tak hanya satu dua buah durian. Hatiku rasanya teriris dan malu dengan diri sendiri.
Sewaktu istirahat, sempat bertanya ke anak kecil yang sebenarnya pertanyaan yang diluar akal tapi membuat penasaran. Waktu itu masih di Baduy Luar.

Ya, katanya perempuan di baduy diharuskan untuk bisa menenun, dan hasil tenunan dijual sebagai oleh oleh para wisatawan yang berkunjung ataupun untuk membuat pakaiannya sendiri. Masyarakat baduy dikenal dengan pakaian yang bewarna hitam dan putih dengan ikat kepala.

Tak terasa 20.000 lebih langkah kaki, sudah sekitar 6 jam lebih berjalan dengan medan yang berbatu dan licin karena hujan. Selama itu, ku menikamti suasana yang amat sangat damai, tenang dan dengan rasa gemira. Tak mudah untuk menuju ke Baduy Dalam, dengan tubuh yang sulit menyesuaikan suhu, pengalaman naik gunung tak terlalu banyak. Sampai juga disebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu (sama dengan baduy luar).
Kami disambut oleh tuan rumah dengan ramah. Lagi dan lagi aku lupa nama tetehnya. Sebelum gelap, aku langsung bersih diri di sungai yang tak jauh dari rumah, hanya di belakang rumah. Yaa di sini tidak ada yang namanya toilet bahkan gaada yang namanya sabun, shampo, pasta gigi dan sikat gigi, apalagi mengenal skincare.

Di sini bener bener memanfaatkan alam yang ada. Kalo mau buang hajat atau mandi ya di sungai. Disini aku ga merasa jijik atau geli, memang aku terlahir di desa.

Sembari menikmati teh hangat yang disajikan di gelas dari bamboe. Di Cibeo, desa tempat aku tinggal semalam, masih menganut leluhur nenek moyang, banyak larangan juga untuk wisatawan yang menginap di baduy dalam. Ga menyalakan elektronik terutama handphone, dan di baduy dalam wisatawan tidak diperbolehkan mengambil gambar.

Di rumah itu benar benar kami menikmati kebersamaan, banyak ngobrol sesama peserta trip lain jadi makin deket. Padahal baru ketemu sehari. Banyak certia di ruang yang hanya di terangi dengan lentera. Sembari menanti makan malam siap. Ada yang unik disini, ya alat makan yang kami gunakan benar benar memanfaatkan dari alam, sendok bambu, gelas bambu, mangkuk bambu.

Pemilik rumah banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan karena banyak hal yang membuat kami penasaran. Ternyata kami menjadi tamu wisatawan yang beruntung, pasalnya dikabarkan bahwa terhitung dari Januari-Maret di Baduy Dalam tidak menerima tamu karena ada acara adat/ kawalu. Namun karena satu dan lain hal Kawalu di undur hingga bulan Febuari-April.

Alnuna suara merdu kecapi yang dimainkan Kang Sapri (pemilik rumah) suara gemuruh sungai yang terdengar membuat suasana di ruangan itu tenang dan damai hingga kami tertidur lelap. Dan fajar pun tiba, membawa kesedihan karena waktu cepat merlalu dan mengharuskan kami berpisah untuk kembali ke kota.

Cuaca yang buruk kami memutuskan untuk mengambil jalur tercepat yaitu jalur menuju Desa Cijahe yang ditempuh hanya 1-2 jam saja. Karena itu, kami tidak melewati jembatan akar yang menjadi salah satu icon jika berkunjung ke Baduy.

Baduy, terimakasih banyak atas semua perjalanan dan pelajaran untuk hidup ini. Terjawab semua pertanyaan pertanyaan yang membut saya terkagum dengan Baduy. Mulai dari kesederhanan, kebersamaan, kebahagiaan. Begitu tidak pentingnya teknologi di sana membuat lebih damai, saling membantu semua aku dapat di Baduy.