Kamis, 13 Februari 2020

Yang Unik di Jepang, Masuk Museum Ada Lomba Ngepel

Jepang memang tak pernah kehabisan akal dalam menyediakan atraksi untuk para wisatawan. Salah satunya adalah lomba ngepel yang cuma ada di Ehime.

detikcom berkunjung ke Prefektur Ehime, Jepang bersama Japan Airlines (JAL) dan Japan National Tourism Organization (JNTO) beberapa waktu lalu. Selain menikmati keindahan alam dan budaya, ada tempat menarik yang dimiliki Ehime, Uwa Rice Museum.

Uwa Rice Museum berada di area Unomachi, Kota Uwa. Kota ini diberi nama uwa yang artinya padi. Karena area ini dikenal sebagai salah satu penghasil padi terbaik di Jepang.

Jauh sebelum menjadi museum, sekitar 91 tahun lalu bangunan ini adalah Taman Kanak-kanak (TK). Kemudian pemilik gedung merubah bangunan gedung menjadi lebih tinggi. Tak cuma gedungnya yang berubah, TK ini juga berganti menjadi Sekolah Dasar (SD).

Lucunya, bangunan sekolah diberi tanda terlebih dahulu sebelum dibongkar. Sehingga sistem bangunannya seperti disatukan kembali seperti sebelumnya. Tak ada yang berubah, hanya gedung yang tadinya ada dipinggir jalan, dibuat lebih tinggi.

Tepat tahun 1991, sekolah ini tidak lagi digunakan. Namun pemilik bangunan tetap ingin melestarikan bangunan ini. Pemerintah daerah memboleh pemilik bangunan untuk tidak merubah bangunan asalkan sekolah tersebut tetap dipergunakan.

Karena terkenal dengan berasnya, akhirnya sekolah di Kota Uwa ini dijadikan sebagai museum beras atau Uwa Rice Museum. Konsepnya, berbagai informasi tentang padi ada dibagi ke dalam berapa bekas ruang kelas.

"Tak semua dipakai jadi museum, beberapa ruang kelas disewakan sebagai kantor," ujar Yuzo Yoshino, International Affairs Division Economic and Labor Department Ehime Prefectural Goverment.

Tapi anehnya, museum ini bukan terkenal karena isinya. Tapi sebuah atraksi yang bernama Zouking Gake atau lomba ngepel. Lomba unik ini juga dikenal dengan nama Zouking Grand Prix.

Lomba ngepel atau Zouking Gake ini cukup sederhana. Peserta hanya perlu mengepel lantai kayu di depan kelas dan jadi yang tercepat.

Sebelum lomba, peserta akan diminta untuk mengisi biodata, karena semua peserta akan dicatat rekornya. Kemudian para peserta harus berganti sepatu dengan yang sudah disediakan. Juga pengaman lutut supaya tidak cedera.

Setelah siap, peserta akan diminta untuk berpasangan. Kemudian dengan posisi membungkuk tanpa lutut yang menempel di lantai. Peserta harus mengepel lantai depan kelas sepanjang 109 m sambil berlari.

Yang tercepat tentu saja jadi pemenangnya. Staff Uwa Rice Museum akan membantu mencatat waktu setiap peserta.

Posisi mengepel ini mungkin sudah biasa kita lihat dalam dorama atau bahkan anime. Tapi bagi orang Indonesia, posisi ini agak sulit. Sehingga jatuh saat mengepel adalah hal yang biasa.

Zouking Gake hanya ada di tempat ini. Banyak orang bahkan artis yang datang ke Uwa Rice Museum hanya untuk memenangkan Zouking Gake. Dari anak-anak sampai orang tua rela datang ke Ehime hanya untuk mengikuti lomba ini.

Untuk waktu tercepat dimenangkan oleh Nakagawa yang saat itu berumur 20 tahun. Ia memenangkan Zouking Gake dengan waktu 18 detik. Waw!

Wisatawan yang mau mencoba lomba ini hanya perlu membayar JYP 200 atau sekitar Rp 25.501 per orang. Tapi kalau hanya mau melihat museumnya saja gratis.

Uwa Rice Museum tutup setiap hari senin dan mulai beroperasi pukul 09.00-17.00 waktu setempat. Kamu tertarik untuk mencoba?

Rabu, 12 Februari 2020

Ada Gelar Adat dan Rumah untuk Jokowi di Hutan Karet Belanda

Pepohonan karet menjulang tinggi, akar dan rantingnya tumbuh besar dan menjuntai bak beringin. Di bawahnya, rumah-rumah adat berderet.

Senin (4/3/2019) suasana hutan kota di Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara, ini basah karena hujan. Dedaunan jatuh dari pohon karet usia ratusan tahun.

Ini adalah kebun karet peninggalan perusahaan perkebunan Hindia Belanda bernama Batjan Archipel Maatschappij (BAM) yang dulu mengontrak lahan Kesultanan Bacan sejak 1881. Pohon-pohon karet ini bukan untuk disadap getahnya, melainkan untuk menjaga lingkungan kota.

Titian kayu menyambut langkah menuju Taman Budaya Saruma yang ada di dalamnya. Rumah adat Suku Bacan terlihat asri. Atap rumah panggung kayu ini melengkung seperti perahu. Halamannya bertahtakan batu-batu hijau mengarah ke teras dengan meja dan kursi yang tertata.

Di deretan seberang, berjejer rumah adat Minangkabau, Madura, Gorontalo, Bugis, dan banyak lagi jenis lainnya. Jalur pejalan kaki mengarah sampai pojok.

Ada rumah Joglo berhalaman luas. 10 Anak tangga berakhir di pagar teras berbahan kayu. Ukir-ukiran khas Jawa dengan detail dedaunan mendominasi arsitekturnya.

Di teras dalam yang bersih dan luas, ada meja marmer dikelilingi banyak kursi. Penataan seperti ini cocok untuk rapat orang-orang penting yang singgah. Di dindingnya, terpasang foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla lengkap dengan gambar Garuda Pancasila di tengah. Di bagian belakang terlihat tandon air dan instalasi penyejuk udara.

Sekretaris Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Helmi Surya Botutihe menjelaskan, ini adalah rumah yang disiapkan untuk Presiden Jokowi. Namanya adalah Rumah Solo.

"Rencananya Pak Presiden mau berkunjung ke sini pada 2017 untuk membuka Widi International Fishing Tournament," kata Helmi.

Turnamen memancing di kawasan wisata Halmahera Selatan itu sedianya dibuka Jokowi pada 25 Oktober 2017. Rumah Solo itu disiapkan sebagai tempat menginap Jokowi

"Tapi saat itu Pak Presiden berhalangan. Akhirnya Pak Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan yang membuka acara itu," kata Helmi. Rumah Solo di hutan karet Belanda Pulau Bacan tak jadi ditempati Jokowi.

Rumah-rumah adat termasuk Rumah Solo itu bisa disewa siapapun. Taman Budaya Saruma bisa menjadi tempat menginap wisatawan. Tarif sewa untuk satu rumah semalam adalah Rp 500 ribu. Fasilitasnya adalah AC, kamar mandi dalam, hingga televisi.

Gelar Adat

Jogogu (Perdana Menteri) Kesultanan Bacan, Datuk Alololong Harmain Iskandar Alam, berkelakar soal Rumah Solo itu. Dia khawatir bila Jokowi benar-benar datang maka Jokowi bisa bosan.

"Bagaimana ini orang Jawa disuruh tinggal lagi di rumah Jawa? Seharusnya disediakan lah rumah adat Bacan. Untung saja Pak Jokowi tidak jadi datang. Kalau Pak Jokowi datang dia bisa bosan di sana," kata Harmain sambil tertawa, di Keraton Kesultanan Bacan.

Pada dua tahun lalu itu, Kesultanan Bacan juga mempersiapkan upacara pemberian gelar kebangsawanan untuk Jokowi. Busana adat bahkan sudah dipersiapkan di Jakarta supaya ukurannya pas di badan Kepala Negara itu.

"Kemarin itu sudah kita persiapkan untuk pemberian gelar kebangsawanan Bacan," kata Harmain.

Namun karena Jokowi tak jadi datang, maka upacara pemberian gelar kebangsawanan Bacan tidak jadi digelar. Apa nama gelar yang hendak diberikan untuk Jokowi?

"Ya masih rahasia," kata Harmain sambil tertawa.

Bila saja Jokowi datang lagi dan gelar itu perlu diberikan, maka Kesultanan bakal mempersiapkan lagi upacaranya. "Sekarang kalau beliau datang dan perlu kita berikan, ya kita berikan," kata Harmain.