Kamis, 13 Februari 2020

'Arc de Triomphe' Ternyata Ada Juga di.. Kalimantan

 Arc de Triomphe merupakan sebuah bangunan ikonik di Paris, Prancis. Ternyata, kembarannya ada lho di Kalimantan Selatan.
Setiap daerah di Indonesia memiliki bangunan khas yang menjadi ciri khas suatu daerah. Tidak terkecuali kota Martapura yang memiliki sebuah gerbang besar menyerupai Arc de Triomphe di Paris, namun dengan sentuhan kearifan lokal.

Jika di kota Paris memiliki Arc de Triomphe, maka di kota Martapura, Kalimantan Selatan memiliki bangunan yang serupa, namun lebih banyak memiliki berbagai sentuhan kearifan lokal budaya Banjar. Bangunan ini bernama Gerbang Bumi Selamat. Gerbang Bumi Selamat berlokasi tidak jauh dari alun-alun Ratu Zalecha dan pertokoan Bumi Cahaya Selamat.

Bentuk gerbang yang megah dan besar ini cukup mencuri perhatian setiap wisatawan yang datang ke Martapura. Jika dilihat lebih dekat, terdapat banyak ornamen yang menggambarkan kehidupan keseharian masyarakat Martapura dan terlukiskan di setiap bagian gerbang.

Seperti ornamen yang menggambarkan aktivitas masyarakat yang melakukan aktivitas jual beli di sungai Martapura, serta aktivitas penambangan intan secara tradisional terlukiskan pada ornamen yang ada di gerbang ini.

Di salah satu sisi gerbang, terdapat kalimat nasehat para orang tua terhadap anak-anak dalam Bahasa Banjar, yaitu Baiman, Bauntung dan Batuah. Suatu kalimat yang biasa diucapkan orangtua kepada anak yang akan merantau. Baiman memiliki arti agar selalu ingat Allah dan memiliki tingkah laku yang dicontohkan Nabi Muhammad dalam ajaran Islam. Jika sudah mengamalkan syariat agama maka akan mendapatkan keberuntungan atau Bauntung.

Sedangkan Batuah memiliki makna, agar kehadiran seseoran di masyarakat memiliki manfaat untuk orang lain. Gerbang Bumi Selamat, diresmikan pada tanggal 14 Agustus 2013, dalam penamaannya merujuk pada sejarah Keraton Banjar di masa lalu, dimana kawasan Keraton bernama Bumi Kencana, kemudian berganti dengan nama Bumi Selamat.

Mencari Ketenangan di Bukit Inspirasi, Sembalun

Sembalun, Lombok Timur, punya bukit cantik yang wajib dikunjung. Tenang, cocok untuk mencari inspirasi, sesuai namanya.

Lombok sudah bangkit. Begitupun pariwisatanya. Lokasi-lokasi wisata sudah aman untuk di kunjungi. Begitu pun Sembalun dengan gunung Rinjani sebagai ikon daerah ini. Untuk menikmati gunung Rinjani dan khasnya udara Sembalun yang dingin dan yang lebih penting lagi tidak terlalu capek-capek untuk mendaki, bukit Inspirasi menjadi pilihannya.

Bukit Inspirasi memang masih kalah pamor dengan bukit-bukit lain di daerah sembalun semisal bukit Pergasingan, bukit Anak Dare dan Bukit Nanggi. Tetapi bukit Inspirasi punya banyak kelebihan. Akses yang mudah menuju lokasi. hanya butuh kurang lebih 10 menit untuk mendaki bukit ini. Trek nya sangat bersahabat, apa lagi bagi wisatawan yang ingin ngecamp bareng keluargam disini sangat cocok. Untuk viewnya tidak kalah indah dari bukit yang lain.

Bukit Inpirasi ini tidak terlalu tinggi dan kelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi. Sebelah timurnya berdiri gagah penguasa gunung di Lombok, yakni gunung Rinjani. Diikuti barisan bukit-bukit yang lain mengelilingi bukit Inspirasi. Sebelah utaranya terlihat bukit Lincak yang menjulang tampak paling tinggi diantara bukit-bukit di sekitarnya. Sebelah selatan berjejer bukit Pergasingan yang masih belum terlihat aktifitas pendakian disana. View yang paling mencolok dari bukit Inspirasi adalah gunung Rinjani yang terlihat gagah dengan kokoh berdiri.

Kelebihan yang ditawarkan di bukit inspirasi ini adalah spot-spot untuk berfoto. Spot-spot foto tersebut sangat instagramable, dimana diera digital ini berfoto adalah sesuatu yang wajib untuk dilakukan untuk mengabadikan moment serta keindahan view dari bukit Inspirasi.

Yang Unik di Jepang, Masuk Museum Ada Lomba Ngepel

Jepang memang tak pernah kehabisan akal dalam menyediakan atraksi untuk para wisatawan. Salah satunya adalah lomba ngepel yang cuma ada di Ehime.

detikcom berkunjung ke Prefektur Ehime, Jepang bersama Japan Airlines (JAL) dan Japan National Tourism Organization (JNTO) beberapa waktu lalu. Selain menikmati keindahan alam dan budaya, ada tempat menarik yang dimiliki Ehime, Uwa Rice Museum.

Uwa Rice Museum berada di area Unomachi, Kota Uwa. Kota ini diberi nama uwa yang artinya padi. Karena area ini dikenal sebagai salah satu penghasil padi terbaik di Jepang.

Jauh sebelum menjadi museum, sekitar 91 tahun lalu bangunan ini adalah Taman Kanak-kanak (TK). Kemudian pemilik gedung merubah bangunan gedung menjadi lebih tinggi. Tak cuma gedungnya yang berubah, TK ini juga berganti menjadi Sekolah Dasar (SD).

Lucunya, bangunan sekolah diberi tanda terlebih dahulu sebelum dibongkar. Sehingga sistem bangunannya seperti disatukan kembali seperti sebelumnya. Tak ada yang berubah, hanya gedung yang tadinya ada dipinggir jalan, dibuat lebih tinggi.

Tepat tahun 1991, sekolah ini tidak lagi digunakan. Namun pemilik bangunan tetap ingin melestarikan bangunan ini. Pemerintah daerah memboleh pemilik bangunan untuk tidak merubah bangunan asalkan sekolah tersebut tetap dipergunakan.

Karena terkenal dengan berasnya, akhirnya sekolah di Kota Uwa ini dijadikan sebagai museum beras atau Uwa Rice Museum. Konsepnya, berbagai informasi tentang padi ada dibagi ke dalam berapa bekas ruang kelas.

"Tak semua dipakai jadi museum, beberapa ruang kelas disewakan sebagai kantor," ujar Yuzo Yoshino, International Affairs Division Economic and Labor Department Ehime Prefectural Goverment.

Tapi anehnya, museum ini bukan terkenal karena isinya. Tapi sebuah atraksi yang bernama Zouking Gake atau lomba ngepel. Lomba unik ini juga dikenal dengan nama Zouking Grand Prix.

Lomba ngepel atau Zouking Gake ini cukup sederhana. Peserta hanya perlu mengepel lantai kayu di depan kelas dan jadi yang tercepat.

Sebelum lomba, peserta akan diminta untuk mengisi biodata, karena semua peserta akan dicatat rekornya. Kemudian para peserta harus berganti sepatu dengan yang sudah disediakan. Juga pengaman lutut supaya tidak cedera.

Setelah siap, peserta akan diminta untuk berpasangan. Kemudian dengan posisi membungkuk tanpa lutut yang menempel di lantai. Peserta harus mengepel lantai depan kelas sepanjang 109 m sambil berlari.

Yang tercepat tentu saja jadi pemenangnya. Staff Uwa Rice Museum akan membantu mencatat waktu setiap peserta.

Posisi mengepel ini mungkin sudah biasa kita lihat dalam dorama atau bahkan anime. Tapi bagi orang Indonesia, posisi ini agak sulit. Sehingga jatuh saat mengepel adalah hal yang biasa.

Zouking Gake hanya ada di tempat ini. Banyak orang bahkan artis yang datang ke Uwa Rice Museum hanya untuk memenangkan Zouking Gake. Dari anak-anak sampai orang tua rela datang ke Ehime hanya untuk mengikuti lomba ini.

Untuk waktu tercepat dimenangkan oleh Nakagawa yang saat itu berumur 20 tahun. Ia memenangkan Zouking Gake dengan waktu 18 detik. Waw!

Wisatawan yang mau mencoba lomba ini hanya perlu membayar JYP 200 atau sekitar Rp 25.501 per orang. Tapi kalau hanya mau melihat museumnya saja gratis.

Uwa Rice Museum tutup setiap hari senin dan mulai beroperasi pukul 09.00-17.00 waktu setempat. Kamu tertarik untuk mencoba?