Kamis, 13 Februari 2020

Strategi Arief Yahya Bawa Kemenpar ke Digital Tourism 4.0

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, setiap perubahan selalu menyisakan pro dan kontra. Tapi ia berprinsip jangan ragu dengan perubahan. Menurutnya kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun akan peroleh sesuatu yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, selama 4 tahun ini, ia mengaku tidak melakukan revolusi besar-besaran di Kemenpar.

"Saya memilih evolusi dipercepat, dalam bertransformasi menuju Digital Tourism 4.0," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/3/2019).

Orang nomor satu di Kemenpar itu mengatakan proses transformasi birokrasi menuju ke professional memiliki konsep 3B yakni to build, to borrow dan to buy. Semua punya plus minus dan memiliki dampak pro dan kontra. Dia menjelaskan to build adalah untuk membangun dari nol, mendidik dari yang ada, menuju ke professional. Risikonya, kata dia, membutuhkan waktu panjang, kesabaran tinggi, dan 5 tahun tidak cukup.

Selanjutnya, to buy, atau mengganti semua pejabat dengan orang baru, yang lebih fresh, lebih akomodatif dengan perubahan. Arief menyebutnya sebagai revolusi dan akan membawa kontraksi yang besar di pegawai. Hal ini pula bukan pilihan Arief Yahya dalam bertransformasi untuk melambungkan pariwisata Indonesia.

Mantan Dirut PT Telkom ini memilih to borrow, atau menggunakan shadow management. Dia meminta tenaga professional yang ahli di bidangnya dan mempunyai reputasi untuk mendampingi pegawainya dalam bertransformasi.

"Ini cara yang paling smooth, tidak gaduh, tidak menimbulkan kontraksi yang berlebihan, tetap bisa bekerja dengan sentuhan korporasi dan menuju professional," ungkapnya.

Meski demikian dalam melangakah ke go-digital tetap ada saja yang 30 persennya belum beranjak alias belum move on. Sementara costumers atau travelers, kata dia, sudah 70% go-digital.

"Jadi memang yang masih ada 30% yang konvensional dan lebih nyaman dengan cara orang lama," kata Arief.

Dia melanjutkan, roadmap menuju go-digital di Kemenpar, sudah diawali sejak 2015, lalu diperkuat di Rakornas Go Digital Be The Best, September 2016. Presiden Jokowi pun, kata Arief, selalu menyampaikan tantangan ke depan, untuk memenangkan persaingan di level dunia, dan harus lebih cepat (speed).

Ia mengatakan kecepatan menjadi kunci. Yang cepat akan mengalahkan yang lambat, bukan yang kecil mengalahkan yang besar. Lalu solid, dari atas sampai ke bawah, harus punya tone yang sama. Inline dengan semacam 'corporate culture' yang sudah dibangun Menpar Arief Yahya di lingkungan Kemenpar dengan 3S, Solid, Speed, Smart.

Budaya kerja itu selanjutnya diimplementasikan oleh Menpar Arief Yahya dengan istilah: WinWay yang bisa diterjemahkan sebagai Wonderful Indonesia Way, atau The Way to Win!

"Budaya kerja untuk memenangkan persaingan global. Maka seluruh unsur pariwisata dikelola dengan spirit WinWay," ungkap pria yang lahir di Banyuwangi Jawa Timur ini.

Lantas muncul magic words 3 kalimat yang selalu dipopularkan di setiap momen sejak 2015. The more digital, the more personal. The more digital the more global. The more digital the more professional. Ia menjelaskan, implementasinya di dalam seluruh aktivitas Kemenpar menuju ke Digital Tourism 4.0 yang dijadikan tema besar Rakornas I Tahun 2019. "Transforming Tourism Human Resources, Winning The Global Competition in 4.0 Era."

"Tourism 4.0 lahir seiring dengan mulai tersedianya big data perilaku travelers yang mampu dikumpulkan via apps dan sensor yang kemudian diolah dan menciptakan seamless dan personalized travelling experience," sebutnya.

Seamless dan personalized experience itu, lanjut dia, bisa diwujudkan karena adanya peran teknologi-teknologi Revolusi Industri Keempat (4.0). Yaitu: artificial intelligence, internet of things (IoT), big data analytics, robotics, augmented reality, cloud computing, blockchain, dan sebagainya. "Inilah berbagai teknologi yang kini sering disebut sebagai Teknologi 4.0," kata Arief.

"Kita semua tahu, target besar Presiden Jokowi adalah 20 juta wisman tahun 2019. Itu artinya double, dari start awal 9,3 juta di 2014. Dan untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, hanya bisa ditempuh dengan cara yang tidak biasa! Cara yang tidak biasa itu adalah: Go Digital," ungkapnya.

Ia sendiri mengakui kalau masih ada 30% yang masih menggunakan cara berpikir lama, konvensional, meskipun customers-nya, atau travelersnya sudah menuju ke digital. Karena itu, tidak heran, jika masih ada yang menggunakan pisau analisa 'orang lama' untuk menjawab tantangan kekinian dan masa depan yang semakin milenial, yang sudah digital, mobile dan interaktif.

"Ya, harus sabar, terus mendidik, dan menularkan pemahaman kepada SDM kita, yang sesuai dengan arah pergerakan customersnya. Era digital, creative industry atau cultural industry ini berjalan sangat cepat. Kita berpacu melawan kreativitas dan era milenial yang makin cepat," pungkas dia.

Berbagai Kegiatan Seru Malam Hari di Universal Studios Singapore

Universal Studios Singapore adalah taman rekreasi yang terkenal dan menjadi tujuan favorit wisatawan, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Tempat ini adalah taman hiburan bertema film pertama di Asia Tenggara, yang mana pengunjung bisa menemukan wahana dengan teknologi canggih seperti di Sci-Fi City dengan wahana Transformers yang terkenal.

Bukan hanya seru dinikmati pada siang hari, Universal Studios Singapore juga menakjubkan pada malam hari. Dilansir dari laman resmi Resorts World Sentosa pada Jumat (22/3/2019), ada beberapa aktivitas seru yang bisa jadi alternatif menikmati malam di Universal Studios Singapore, misalnya Hollywood Dreams Parade.

Seperti diketahui, Universal Studios Singapore adalah salah satu tempat terbaik bagi pencinta film-film Hollywood. Tidak hanya menonton film, di sini film-film Hollywood juga disajikan dalam bentuk parade, yaitu Hollywood Dreams Parade.

Film seperti Madagascar, Revenge of the Mummy, Jurassic Park, atau Shrek akan terlihat nyata dalam Hollywood Dreams Parade. Ada lebih dari 100 karakter film diiringi tata lampu yang menakjubkan. Parade ini digelar pada Jumat, Sabtu, dan hari libur nasional tertentu mulai pukul setengah 8 malam.

Usai menyaksikan parade, traveler bisa bersantai menikmati malam dengan menonton pertunjukan band yang digelar mulai pukul 8 malam. Puncaknya ada pesta kembang api spektakuler pada pukul 10 malam yang tentunya sangat sayang untuk dilewatkan.

Sambil menikmati aktivitas malam seru di Universal Studios Singapore traveler juga bisa mencoba berbagai kuliner yang ada, misalnya Golden Cheese Potato atau Popcorn Chicken Cone yang asik dinikmati sambil menyaksikan pesta kembang api.

Jangan lupa untuk memanfaatkan momen-momen langka tersebut untuk mendapatkan foto-foto yang menakjubkan. Agar hasil foto bisa maksimal pastikan perangkat foto mendukung, misalnya dengan menggunakan kamera OPPO F11 Pro.

Fitur Super Night Mode pada OPPO F11 Pro akan berpadu dengan AI Ultra-Clear Engine yang mengenali objek dan mengoptimalkan pengaturan. Fitur ini juga akan membantu dalam mengoptimalkan stabilisasi gambar selama long exposure dan low-light performance.

Selain itu dengan adanya Color Mapping ditambah lensa 48MP, OPPO seri F11 memiliki kombinasi peranti keras dan peranti lunak yang memungkinkan pengguna menangkap foto portrait malam hari yang tajam dan menakjubkan dengan mudah.

Strategi Arief Yahya Bawa Kemenpar ke Digital Tourism 4.0

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, setiap perubahan selalu menyisakan pro dan kontra. Tapi ia berprinsip jangan ragu dengan perubahan. Menurutnya kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun akan peroleh sesuatu yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, selama 4 tahun ini, ia mengaku tidak melakukan revolusi besar-besaran di Kemenpar.

"Saya memilih evolusi dipercepat, dalam bertransformasi menuju Digital Tourism 4.0," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/3/2019).

Orang nomor satu di Kemenpar itu mengatakan proses transformasi birokrasi menuju ke professional memiliki konsep 3B yakni to build, to borrow dan to buy. Semua punya plus minus dan memiliki dampak pro dan kontra. Dia menjelaskan to build adalah untuk membangun dari nol, mendidik dari yang ada, menuju ke professional. Risikonya, kata dia, membutuhkan waktu panjang, kesabaran tinggi, dan 5 tahun tidak cukup.

Selanjutnya, to buy, atau mengganti semua pejabat dengan orang baru, yang lebih fresh, lebih akomodatif dengan perubahan. Arief menyebutnya sebagai revolusi dan akan membawa kontraksi yang besar di pegawai. Hal ini pula bukan pilihan Arief Yahya dalam bertransformasi untuk melambungkan pariwisata Indonesia.