Minggu, 16 Februari 2020

Sudah Tahu? 2 Gua Cantik Ini Ada di Grobogan

Mau tempat wisata di Grobogan yang keren, mampir saja ke Gua Lawa dan Gua Macan. Dua gua ini tampak indah dan menarik dijelajahi.

Gua Lawa dan Gua Macan letaknya menjadi satu di Dusun Watusong, Desa Sidayu, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Gua ada di wilayah terpencil di antara kawasan pegunungan Kendeng. Objek wisata alam ini pun menyajikan pemandangan yang cantik.

detikTravel membuktikan keindahannya sendiri pada Senin (4/3/2019) lalu. Gua yang alami tersaji indah, membuat wisatawan ketagihan untuk kembali mengunjunginya. Mencapai gua ini juga tak sulit.

Dari jalan provinsi Jatipohon Grobogan-Sukolilo Pati, terpajang tulisan di atas gapura yang jadi akses menuju lokasi. Dari jalan utama, jarak ke objek wisata tersebut bisa sekitar 2 km. Dengan jalan desa menuju objek wisata, hampir sebagian besar sudah mulus atau telah dicor di sisi kanan dan kirinya.

Begitu tiba di lokasi, wisatawan bisa melihat luasnya area objek wisata. Di sebelah kiri pintu masuk tampak loket tiket. Terpampang di kaca loket, harga tiket masuk Rp 3.000 per orang.

"Harga tiket masuk Rp 3.000. Harga itu berlaku setiap hari. Baik hari biasa, atau akhir pekan, atau juga libur panjang," kata Denny Alviani, petugas loket Goa Lawa dan Goa Macan kepada detikcom.

Perempuan berambut sebahu ini menerangkan, wisata gua buka setiap hari. Mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Tempat ini menonjolkan dua gua, yaitu Gua Lawa dan Gua Macan.

"Gua Lawa memiliki kedalaman sekitar 200 meter, serta Gua Macan kedalaman sekitar 100 meter," beber Denny.

Gua Lawa dan Gua Macan dalam pengelolan Pemerintah Kabupaten Grobogan. Ada beberapa fasilitas pendukung yaitu, halaman parkir, kamar mandi, toilet, musala, pergola dan lainnya.

Dari pintu masuk, wisatawan harus menapaki jalan berbahan semen. Gua Lawa adalah destinasi pertama yang bisa ditemui. Dan selanjutnya adalah Gua Macan. Gua itu menawarkan keindahan batuan serta stalaktit di sisi atas. Untuk penerangannya pun sudah dilengkapi lampu berwarna-warni.

"Di dalam gua, dilengkapi lampu kecil berwarna biru, hijau, merah, dan lainnya. Jadi gua tidak gelap. Ada juga pegangan dan tangganya di dalam gua," jelas Denny.

Di dalam gua, lampu dengan cahaya remang membuat suasana dingin nan alami terasa. Sesekali ada tetesan air dari bebatuan di langit-langit.

Pada hari libur, biasanya kunjungan wisatawan ramai. "Kalau libur (hari libur) ramai. Saat hari libur bisa kurang dari 100 orang," sebutnya lebih lanjut.

Traveler yang datang kemari biasanya menikmati keindahan gua sambil foto-foto. Seorang wisatawan Khoiru dari Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan mengaku tahu objek wisata Gua Lawa dan Gua Macan dari media sosial Instagram. Ia pun datang buat berfoto.

"Saya tahunya dari Instagram. Saya senang karena tempatnya memang bagus. Saya foto-foto di sini. Buat undangan pernikahan kami nanti," kata Khoiru.

Gara-gara Mabuk, Niat Beli McD Malah Terbang ke Spanyol

Sepasang warga Inggris mendadak traveling ke Spanyol gara-gara mabuk alkohol. Padahal niat mereka cuma beli McDonalds.

Peristiwa nyeleneh dialami oleh sepasang traveler asal Inggris yang bernama Tara Hammersley (19) dan Jack Messer (19). Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (11/3/2019), mereka tersasar ke negara lain karena mabuk seperti diberitakan media The Sun.

Semuanya berawal ketika keduanya tengah minum-minum di sebuah klub di Sussex, Inggris. Dalam kondisi setengah mabuk, keduanya pun lapar dan berencana membeli makanan di gerai McD yang berada di Bandara Gatwick, London.

"Kami memutuskan, Tara ingin mencari makan. Jadi kami pergi ke Bandara Gatwick untuk membeli McD," ujar Jack.

Entah bagaimana, Jack malah memesan dua buah tiket pesawat ke Barcelona, Spanyol secara spontan. Ajaibnya, keduanya berhasil melewati imigrasi dan berhasil sampai Barcelona. Walau tidak sadar.

"Aku tidak ingat bagaimana, tapi Jack melakukan hal itu. Hal terakhir yang saya ingat adalah mabuk di toilet club," ujar Tara.

Tak sampai situ, Tara dan Jack tersasar ke Barcelona tanpa membawa uang banyak, kartu kredit atau pun pakaian selain yang mereka kenakan. Di Barcelona, mereka pun bertahan hidup sebisanya. Untuk Jack bawa kartu kredit.

Pada akhirnya, mereka menghabiskan waktu sekitar 4 hari di Barcelona. Mereka pun hanya bersantai di pantai sambil minum-minum. Siapa sangka, dari mabuk malah mendadak jadi wisatawan.

"Kami mendapat liburan yang menyenangkan, walau pun saya berharap hal ini tidak terjadi lagi. Ibuku telah menyita pasporku sejak saat itu!" ujar Tara.

Viral dari Temanggung, Pasar Ini Ada di Kerimbunan Kebun Bambu

 Temanggung punya pasar yang unik. Kenapa, karena lokasinya ada di bawah pohon bambu yang rimbun.

Namanya Pasar Papringan Ngadiprono dan hanya buka di tiap Minggu Wage dan Pon. Sekalipun hanya pada hari tersebut, namun pengunjung yang datang jumlahnya banyak dan datang dari berbagai daerah.

Suasana pasar ini masih asri dan alami. Kondisi seperti ini hanya bisa ditemui di Pasar Papringan, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Sesuai namanya Pasar Papringan ini berada di bawah kerimbunan pohon bambu.

Jika Anda ingin datang ke lokasi ini, baru sampai di lokasi parkiran terlihat mobil-mobil parkir berjajar dari luar kota yang datang. Demikian halnya dengan lokasi parkiran sepeda motor begitu ramai dan parkir di mulut-mulut gang dusun setempat.

Traveler yang ingin ke Pasar Papringan, berkendaralah dari Kota Temanggung menuju Kecamatan Kedu. Setelah sampai Pasar Kedu belok kanan menyusuri jalan tersebut hingga sampai lokasi karena sudah dipasang papan penunjuk arah.

Dari lokasi parkiran Anda harus berjalan melewati perkampungan dan sampai di pintu masuk Pasar Papringan. Pengunjung yang datang di lokasi ini kali pertama harus menukarkan uang rupiah dengan uang keping dari bambu atau pring.

Para pengelola pasar ini akan melayani penukaran uang rupiah dengan uang keping bambu. Adapun satu uang keping nilainya sebesar Rp 2.000. Setelah menyodorkan uang rupiah, nantinya pengunjung akan mendapatkan uang keping pring yang bisa digunakan membeli di pasar yang buka mulai pukul 06.00-12.00 WIB.

Makanan yang dijual sangat beragam dan semuanya makanan tradisional. Makanan yang dijual di pasar ini antara lain, gethuk gulung, klenyem, bakwan jendal, puthu mayang, ketan bakar, persikan dan toklo. Kemudian ada pula gathot, tiwul, bandos, jenang koro, mendut, nagasari, sego abang, sego jagung, jenang dan lainnya.

Ada juga makanan jagung jali, apem pasung, kroket kentang, soto, bubur ayam dan lain-lainnya. Para pengunjung bisa langsung berinteraksi langsung dengan para penjual yang kebanyakan warga setempat. Keramahan orang pedesaan masih sangat kental di pasar ini.

"Saya tahu keberadaan Pasar Papringan ini dari medsos. Kebetulan orangtua dari Balikpapan datang terus jalan-jalan menuju sini. Pasar berada di bawah pohon bambu, terus makanannya tradisional khas Jawa," ujar Al Qadim (20), mahasiswa asal Balikpapan yang kuliah di Yogya saat ditemui detikcom, Minggu (10/3/2019).

Hal senada disampaikan pengunjung lainnya, Ida Sofianti (45), yang datang secara rombongan dari Purwokerto. "Kami tahu dari medsos. Awalnya penasaran terus datang ke sini. Lokasinya masih alami. Kami datang rombongan 3 mobi berangkat dari Purwokerto pukul 01.00 WIB," ujarnya.

Pengunjung datang di pasar ini untuk berwisata dan berbelanja. Ada juga yang datang untuk melakukan penelitian seperti dilakukan mahasiswi Kanazawa University Jepang, Dhientia Andani (20). Ia yang datang bersama temannya beberapa hari sebelum digelar pasar ini dan tinggal di homestay yang ada.

"Saya tahu dari Instagram teman-teman, kebetulan salah satu teman saya pengurus di sini. Suasana seru banget, maksudnya spirit pagi-pagi," ujar dia.

Sementara itu, Koordinator Pasar Papringan, Joko Waluyo mengatakan, pasar ini digelar setiap Minggu Wage dan Minggu Pon. Konsep awalnya untuk konservasi kebun bambu. Hal ini mengingat bambu merupakan material sangat bagus dan murah. Untuk pasar papringan ini menempati lahan seluas 2.500 meter persegi.

"Keberadaan pasar papringan ini dirintis sejak 2016. Kami menyebut pagelaran setiap Minggu Wage dan Minggu Pon. Antusias pengunjung setiap pagelaran berkisar 3.000-4.000 orang," ujarnya.

Setiap dilangsungkan pagelaran pasar ini, katanya, pengelola menyediakan sekitar 30.000-40.000 keping uang pring. Sedangkan diawal buka hanya berkisar 7.000 keping saja.

"Rata-rata kami sediakan 30.000-40.000 keping. Kemudian, kalau nanti lokasi penukaran uang habis, kami muter menuju lapak-lapak untuk menarik," katanya.

Menu makanan yang tersedia di pasar ini, katanya, ada 140 menu. Untuk para penjual kebanyakan warga sekitar dusun ini.