Kamis, 05 Maret 2020

Maskapai AirAsia Akan Jadikan Lombok Sebagai 'Hub' Baru

Pasca gempa, pariwisata di Lombok mulai pulih perlahan. Maskapai AirAsia pun siap menjadikan Lombok sebagai 'Hub' baru.

Maskapai AirAsia memastikan komitmennya untuk mengembangkan 'hub' baru di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Jumlah kedatangan turis asing di Lombok diperkirakan akan meningkat seiring dengan realisasi komitmen tersebut.

AirAsia juga mewacanakan rencana percepatan pemulihan kondisi pasca gempa yang diharapkan dapat memacu jumlah kedatangan wisatawan asing, dan semakin menggeliatkan industri pariwisata setempat dalam rangka mendukung program pengembangan 10 Bali baru yang dicanangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

"AirAsia akan membantu mempercepat upaya pemulihan pasca gempa untuk mendukung komunitas masyarakat di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Lombok. Tahun lalu merupakan tahun yang penuh dengan cobaan dan tantangan bagi masyarakat Lombok, termasuk industri pariwisata lokal yang sangat terpukul dengan bencana gempa bumi. Oleh karenanya kami berharap langkah yang kami lakukan ini dapat membantu." ujar Tony Fernandes, CEO Grup AirAsia dalam keterangannya yang diterima detikTravel, Sabtu (26/1/2019).

Seperti diketahui, AirAsia punya rute Kuala Lumpur-Lombok sejak Oktober 2012. Saat ini, AirAsia sudah mengoperasikan tujuh penerbangan per minggu.

Maskapai afiliasi AirAsia di Indonesia berencana menempatkan dua pesawat Airbus A320 di Lombok, dan menambah frekuensi penerbangan Kuala Lumpur-Lombok menjadi dua kali sehari, dan membuka rute baru ke Perth, Yogyakarta, dan Bali pada pertengahan tahun ini.

"Lombok adalah salah satu destinasi berkelas di Asia Tenggara dan AirAsia siap untuk mengabarkan ke seluruh dunia bahwa Lombok sudah 'open for business'. Kami yakin dapat mengembangkan pasar yang ada sekaligus meningkatkan permintaan kunjungan ke Lombok," tutup Dendy Kurniawan, Direktur Utama AirAsia indonesia.

Sopir Taksi Konvensional di Aceh Bantah Sergap Wisatawan

 Video curhat dua wisatawan yang mengaku disergap gegara memesan taksi online viral di media sosial. Sopir taksi konvensional membantah melakukan penyergapan.

"Tidak benar pengakuan mereka itu. Waktu itu kami hanya mengarahkan mereka untuk keluar pelabuhan (seandainya memesan taksi online)," kata Syamsul, seorang sopir taksi konvensional yang mangkal di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, saat dimintai konfirmasinya, Sabtu (26/1/2019).

Syamsul mengaku melihat dari jauh saat kedua wisatawan itu didatangi sopir taksi konvensional. Para sopir itu mengarahkan kedua turis itu memesan taksi online di luar pelabuhan.

Memang sesuai kesepakatan taksi online tidak boleh mengambil penumpang di dalam pelabuhan. Di pagar masuk pelabuhan sebelumnya pernah dipasang spanduk larangan taksi online mengambil penumpang.

"Karena kesepakatannya memang begitu. Harus di luar memang ( jika memesan taksi online). Selama ini orang yang mau pesan juga mereka keluar untuk order," jelas Syamsul.

"Jadi kalau kami katanya (kami) menghadang itu tidak benar," ungkap Syamsul.

Menurut Syamsul, sopir taksi konvensional selama ini tidak pernah memaksa penumpang naik mobil mereka.

"Mungkin biasa rebutan sewa, tapi kalau penumpang tidak mau naik taksi biasa ya sudah. Selama ini kami tidak pernah paksa atau hadang-hadang," ujar Syamsul.

Sementara Kadisbudpar Kota Banda Aceh Rizha Idris mengaku terkejut saat mengetahui adanya wisatawan yang mengaku disergap. Disbudpar akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk membahas masalah ini.

"Selama ini wisatawan di Banda Aceh sangat aman. Tiba-tiba kok, saya juga terkejut tadi ada yang telepon saya kan. Terkejut juga saya apa-apaan ini," kata Kadisbudpar Kota Banda Aceh Rizha Idris saat dimintai konfirmasi wartawan, Jumat (25/1/2019).

Memupuk Toleransi dengan Wisata Keliling Jakarta Utara (3)

Menurut beberapa sumber, pembangunan Masjid ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah ketika berada di Sunda Kelapa untuk menghadang kekuatan Penjajah Portugis.

Bentuk bangunan asli Masjid yang bersejarah ini, yang terletak di bagian dalam bangunan Pendopo baru, berbentuk bujur sangkar dengan pilar (soko guru) di tengah-tengahnya yang mengingatkan kita pada arsitektur masjid bergaya nusantara. Masjid ini telah menjadi cagar budaya Pemprov DKI karena tingginya nilai sejarahnya.

4. Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri Cilincing

Tempat peribadatan terakhir yang dikunjungi sekaligus sebagai penutup tour adalah Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri Cilincing. Lokasinya agak sedikit terpisah dengan ketiga rumah ibadat tadi, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan angkot atau transportasi online dari depan Vihara Lalitavistara untuk mencapai lokasinya.

Kunjungan di Pura ini terasa spesial karena bertepatan dengan perayaan Kuningan yang dipusatkan di Pura ini. Umat Hindu dari area Jabodetabek beribadat di Pura ini. Pengurus Pura yang menemani kami menjelaskan bahwa Kuningan adalah mengadakan janji bahwa dalam kehidupan akan selalu berusaha memenangkan dharma (kebaikan) dan mengalahkan adharma (angkara).

Di Pura ini kami diberikan kesempatan untuk menyaksikan prosesi Kuningan dengan dipandu oleh pengurus Pura, suasana doa yang khidmat terasa di semua bagian Pura ini ketika acara sudah dimulai. Selain menyaksikan prosesi Kuningan, pengurus Pura juga memandu kami untuk berkeliling kompleks Pura dan mengenalkan bagian-bagian Pura kepada kami.

Tour ke beberapa tempat Ibadat yang dimulai dari pukul 15.30WIB ini berakhir pada pukul 19.00WIB. Saya pribadi terkesan dengan acara tour ini karena selain menambah wawasan juga dapat memperdalam wawasan dan rasa toleransi antara umat beragama.

Negara kita Indonesia memiliki banyak sekali keberagaman. Kita dianugerahi rahmat keberagaman suku, agama, ras dan budaya dan kita sungguh bersyukur walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah panjang perjalanan negara dan bangsa kita telah membuktikan bahwa persatuan dan kesatuan telah menjadi kekuatan bagi bangsa ini yang tentunya harus kita jaga dan rawat bersama. Mari bersama membangun negeri yang besar ini.

Menurut beberapa sumber, dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai air kehidupan. Sebenarnya tanggal 5 Januari 2019 kemarin umat Hindu Jabodetabek sedang merayakan Hari Raya Kuningan namun semua kegiatan peribadatan dipusatkan di Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Cilincing

3. Masjid Al Alam Cilincing

Tempat peribadatan ketiga adalah sebuah Masjid yang bernama Masjid Al Alam Cilincing. Lokasinya tidak begitu jauh dari Pura Segara, setelah beberapa saat menyusuri perkampungan Nelayan, kami sampai di Masjid Al Alam Cilincing. Sebuah Masjid bersejarah di kota Jakarta.

Menurut informasi dari Pemandu wisata, Masjid Al Alam Cilincing merupakan masjid tertua yang ada di kota Jakarta bersama dengan Masjid Al Alam Marunda yang menurut informasi dibangun pada tanggal 22 Juni 1527 yang persis sama dengan HUT kota Jakarta.

Bangunan Masjid Al Alam Cilincing sudah diperluas dengan bagian bangunan baru berupa pendopo. Bagian bangunan asli Masjid Al Alam Cilincing berada di tengah-tengahnya. Bangunan asli Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk Kota Jakarta.