Kamis, 05 Maret 2020

Memupuk Toleransi dengan Wisata Keliling Jakarta Utara (3)

Menurut beberapa sumber, pembangunan Masjid ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah ketika berada di Sunda Kelapa untuk menghadang kekuatan Penjajah Portugis.

Bentuk bangunan asli Masjid yang bersejarah ini, yang terletak di bagian dalam bangunan Pendopo baru, berbentuk bujur sangkar dengan pilar (soko guru) di tengah-tengahnya yang mengingatkan kita pada arsitektur masjid bergaya nusantara. Masjid ini telah menjadi cagar budaya Pemprov DKI karena tingginya nilai sejarahnya.

4. Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri Cilincing

Tempat peribadatan terakhir yang dikunjungi sekaligus sebagai penutup tour adalah Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri Cilincing. Lokasinya agak sedikit terpisah dengan ketiga rumah ibadat tadi, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan angkot atau transportasi online dari depan Vihara Lalitavistara untuk mencapai lokasinya.

Kunjungan di Pura ini terasa spesial karena bertepatan dengan perayaan Kuningan yang dipusatkan di Pura ini. Umat Hindu dari area Jabodetabek beribadat di Pura ini. Pengurus Pura yang menemani kami menjelaskan bahwa Kuningan adalah mengadakan janji bahwa dalam kehidupan akan selalu berusaha memenangkan dharma (kebaikan) dan mengalahkan adharma (angkara).

Di Pura ini kami diberikan kesempatan untuk menyaksikan prosesi Kuningan dengan dipandu oleh pengurus Pura, suasana doa yang khidmat terasa di semua bagian Pura ini ketika acara sudah dimulai. Selain menyaksikan prosesi Kuningan, pengurus Pura juga memandu kami untuk berkeliling kompleks Pura dan mengenalkan bagian-bagian Pura kepada kami.

Tour ke beberapa tempat Ibadat yang dimulai dari pukul 15.30WIB ini berakhir pada pukul 19.00WIB. Saya pribadi terkesan dengan acara tour ini karena selain menambah wawasan juga dapat memperdalam wawasan dan rasa toleransi antara umat beragama.

Negara kita Indonesia memiliki banyak sekali keberagaman. Kita dianugerahi rahmat keberagaman suku, agama, ras dan budaya dan kita sungguh bersyukur walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah panjang perjalanan negara dan bangsa kita telah membuktikan bahwa persatuan dan kesatuan telah menjadi kekuatan bagi bangsa ini yang tentunya harus kita jaga dan rawat bersama. Mari bersama membangun negeri yang besar ini.

Menurut beberapa sumber, dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai air kehidupan. Sebenarnya tanggal 5 Januari 2019 kemarin umat Hindu Jabodetabek sedang merayakan Hari Raya Kuningan namun semua kegiatan peribadatan dipusatkan di Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Cilincing

3. Masjid Al Alam Cilincing

Tempat peribadatan ketiga adalah sebuah Masjid yang bernama Masjid Al Alam Cilincing. Lokasinya tidak begitu jauh dari Pura Segara, setelah beberapa saat menyusuri perkampungan Nelayan, kami sampai di Masjid Al Alam Cilincing. Sebuah Masjid bersejarah di kota Jakarta.

Menurut informasi dari Pemandu wisata, Masjid Al Alam Cilincing merupakan masjid tertua yang ada di kota Jakarta bersama dengan Masjid Al Alam Marunda yang menurut informasi dibangun pada tanggal 22 Juni 1527 yang persis sama dengan HUT kota Jakarta.

Bangunan Masjid Al Alam Cilincing sudah diperluas dengan bagian bangunan baru berupa pendopo. Bagian bangunan asli Masjid Al Alam Cilincing berada di tengah-tengahnya. Bangunan asli Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk Kota Jakarta.

Memupuk Toleransi dengan Wisata Keliling Jakarta Utara (2)

Di bagian dalam Vihara ini terdapat bangunan Klenteng bersejarah yang menurut pengurus Vihara yang memandu kami dibangun pada sekitar abad ke-16 dan bangunan tersebut saat ini telah masuk ke dalam cagar budaya Pemprov DKI Jakarta.

Setiap Klenteng memiliki kisah dan sejarah pendiriannya masing-masing, dan biasanya kisah-kisah tersebut berkaitan dengan kehidupan tradisi dan spiritual masyarakat yang mendirikannya, termasuk Klenteng dan Vihara Lalitavistara ini, sebagai salah satu Klenteng dan Vihara bersejarah yang ada di kota Jakarta.

Selain Klenteng yang bersejarah, di kompleks Vihara Lalitavistara ini juga terdapat rumah abu, ratusan patung dan tempat-tempat sembahyang. Bagian lain yang menarik di kompleks Vihara ini adalah bangunan menara Pagoda bertingkat yang merupakan menara Pagoda satu-satunya dan tertua di Jakarta.

Dahulu Pagoda ini bisa dimasuki tetapi karena struktur bangunan yang mulai miring dan dirasa tidak aman serta untuk menjaga dari kerusakan maka saat ini Pagoda tersebut hanya bisa dilihat dan tidak bisa dimasuki oleh pengunjung.

Pengurus Vihara juga memberikan gambaran secara umum dan jelas tentang arti-arti ukiran, aliran-aliran dan patung-patung yang ada di ruang-ruang Vihara.

2. Pura Segara

Tempat peribadatan kedua yang dikunjungi adalah Pura Segara. Lokasinya tidak begitu jauh dari Vihara Lalitavistara, mengarah ke arah Krematorium Cilincing. Pura Segara berada dalam satu kompleks dengan Krematorium Cilincing. Menurut informasi pemandu wisata, Pura Segara adalah satu-satunya Pura di wilayah Jabodetabek yang berada di tepi pantai.

Pada bulan Maret tahun 2018 yang lalu, ribuan umat Hindu mengikuti prosesi Melasti di Pura Segara ini. Melasti merupakan hari khusus menjelang hari raya Nyepi. Upacara Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi dan digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.

Menurut beberapa sumber, dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai air kehidupan. Sebenarnya tanggal 5 Januari 2019 kemarin umat Hindu Jabodetabek sedang merayakan Hari Raya Kuningan namun semua kegiatan peribadatan dipusatkan di Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Cilincing

3. Masjid Al Alam Cilincing

Tempat peribadatan ketiga adalah sebuah Masjid yang bernama Masjid Al Alam Cilincing. Lokasinya tidak begitu jauh dari Pura Segara, setelah beberapa saat menyusuri perkampungan Nelayan, kami sampai di Masjid Al Alam Cilincing. Sebuah Masjid bersejarah di kota Jakarta.

Menurut informasi dari Pemandu wisata, Masjid Al Alam Cilincing merupakan masjid tertua yang ada di kota Jakarta bersama dengan Masjid Al Alam Marunda yang menurut informasi dibangun pada tanggal 22 Juni 1527 yang persis sama dengan HUT kota Jakarta.

Bangunan Masjid Al Alam Cilincing sudah diperluas dengan bagian bangunan baru berupa pendopo. Bagian bangunan asli Masjid Al Alam Cilincing berada di tengah-tengahnya. Bangunan asli Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk Kota Jakarta.