Jumat, 06 Maret 2020

Catatan KLHK di TN Komodo: Jumlah Rusa Lebih Banyak dari Komodo

 Salah satu alasan Gubernur NTT Viktor Laiskodat soal rencana penutupan Taman Nasional (TN) Komodo adalah berkurangnya populasi rusa. Tapi, KLHK punya fakta berbeda.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat rencananya akan menutup Taman Nasional Komodo selama 1 tahun. Menurutnya, ini didasari oleh kondisi habitat komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores itu sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak dari berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo. Soal berkurangnya rusa, salah satu sebabnya karena perburuan ilegal.

Dalam siaran pers dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seperti diterima detikTravel, Jumat (25/1/2019) mereka mengungkap data lain. Tercatat jumlah rusa lebih banyak daripada komodo. Itu didapat dari hasil monitoring Balai TN Komodo dan Komodo Survival Program pada tahun 2017.

"Jumlah populasi komodo sebanyak 2.762 individu, yang tersebar di Pulau Rinca (1.410), Pulau Komodo (1.226), Pulau Padar (2), Pulau Gili Motang (54) dan Pulau Nusa Kode (70). Sedangkan populasi rusa adalah sebanyak 3.900 individu, dan kerbau sebanyak 200 individu," tulis pernyataan KLHK.

Soal perburuan rusa di TN Komodo, KLHK mengakui bahwa itu merupakan ancaman pada populasi komodo. Namun, KLHK sudah mengambil langkah-langkah khusus.

"Ancaman terhadap komodo adalah masih ditemukannya perburuan rusa, yang pada umumnya dilakukan oleh oknum masyarakat Kabupaten Bima. Kejadian perburuan rusa pada tahun 2018 telah ditangani secara hukum oleh pihak Polres Bima," tulis pernyataan KLHK.

"Program breeding rusa telah dibangun di Kecamatan Sape Kabupaten Bima, dalam rangka untuk mengurangi tingkat perburuan rusa di TN Komodo," lanjut pernyataannya.

Sebelumnya pada kesempatan berbeda, Deni Purwandana, Koordinator Yayasan Komodo Survival Program juga menyatakan tidak ada penurunan jumlah rusa di TN Komodo. Lagipula, makanan komodo juga tidak bergantung pada rusa semata melainkan ada kerbau dan babi hutan.

"Kami tidak melihat penurunan populasi rusa di Pulau Komodo. Untuk di Pulau Rinca, ada sedikit kecenderungan penurunan populasi rusa, tapi makanan komodo juga tidak hanya bergantung pada rusa. Ada kerbau dan babi hutan," katanya kepada detikTravel, Rabu (23/1).

Bukan Fatamorgana! Ini Benar-benar Mata Air di Tengah Gurun

 Mata air di tengah padang pasir beneran ada lho di China. Mata air ini sangat indah dan bikin takjub!

Namanya Danau Bulan Sabit atau Crescent Lake. Orang China menyebutnya Yueyaquan. Disebut demikian karena bentuk danau seperti bulan sabit. Letaknya di Dunhuang, sekitar 6 km dari Kota Gansu, China bagian barat.

Berada di tengah-tengah gurun pasir di sepanjang jalur Sutera Kuno, danau ini menjadi salah satu area dengan pemandangan luar biasa. Usianya diperkirakan 2.000 tahun.

Di masa Dinasti Han, danau ini sangat luas dan memiliki kedalaman hingga 5 meter. Tapi semakin lama airnya semakin menyusut sehingga luas danau semakin mengecil pula. Hingga akhirnya pemerintah membuat langkah penyelamatan dengan cara mengisi danau ini. Menurut pemandu yang mengantar kami, pada tahun 2018 kedalamannya hanya mencapai 1,3 meter.

Sebagai sebuah oasis, gurun ini dulunya menjadi tempat pemberhentian para pedagang dari Asia Tengah maupun para biksu yang melintasinya. Mereka beristirahat usai melakukan perjalanan panjang melintasi jalur sutera.

Uniknya, danau ini tidak pernah tertutup oleh badai pasir. Bila badai datang, debu pasir berpindah ke gurun di sampingnya. Itulah sebabnya, danau ini selalu eksis. Sementara itu hembusan angin dari gurun menciptakan suara seperti siulan lembut. Itulah sebabnya gurun ini disebut sebagai gurun pasir bernyanyi (singing sand dessert).

Tepat di samping danau ini terdapat sebuah pagoda yang di dalam areanya terdapat toko souvenir. Bila malam menjelang, lampu neon berwarna biru mengelilingi danau akan menyala. Ditambah dengan lampu keemasan yang menerangi pagoda dan latar belakang gurun menciptakan pemandangan eksotik yang luar biasa.

Lompat dari Gedung Tertinggi di Selandia Baru, Berani!

Liburan ke Auckland di Selandia Baru, wisatawan bisa mencoba wisata adrenalin. Mereka bisa melompat dari gedung tertinggi di Negeri Kiwi.

Tempat itu adalah Auckland Sky Tower yang menjulang setinggi 328 meter. Ini adalah menara telekomunikasi dan observasi di Auckland yang diresmikan tahun 1997, sekaligus menjadi gedung tertinggi di Selandia Baru. Di menara ini juga punya Sky Cafe di lantai 50 (182 meter), lantai observasi utama di lantai 51 (186 meter), restoran berputar Orbit di lantai 52 (190 meter) dan Sky Deck di lantai 60 (220 meter)

Auckland Sky Tower menjadi landmark karena jauh lebih tinggi dari gedung lain di sana. Letaknya pun tepat di jantung kota. detikTravel atas undangan maskapai Emirates pun mencoba wisata adrenalin yang sana yang disebut Skyjump Auckland.

Operatornya adalah AJ Hackett Bungy New Zealand, yang 30 tahun mengelola beberapa destinasi wisata adrenalin di Selandia Baru, salah satunya ini. Ada dua kegiatan yang ditawarkan yaitu Skywalk, berjalan di atas Auckland Sky Tower dan Skyjump, melompat dari atas Auckland Sky Tower, keduanya dari lantai 53 di ketinggian 194 meter.

Kami memilih yang kedua, yang paling seru! Jadi kita menuju ke lantai dasar menara itu untuk melakukan persiapan. Masing-masing ditimbang badan dan mengisi formulir kesehatan. Traveler yang sakit atau ada masalah kesehatan tertentu kemungkinan tidak bisa mencobanya, jika dirasa berisiko.

Sebagai operator yang berpengalaman, AJ Hackett tidak main-main soal safety. Wisatawan yang mau Skyjump diberi baju khusus dan full body harness. Semua aksesoris yang melekat di badan mesti dilepas dan ditaruh di loker seperti dompet, ponsel, arloji, cincin dan kacamata.

Barulah dari situ kita naik ke atas menara. Dek lompatnya ada lantai 53, di ketinggian 192 meter berupa sebuah ruang kaca. Saya berjumpa dengan instruktur yang bernama Caleb. Dia sangat ramah dan menyemangati semua pelompat.

Caleb memasang tali pengaman ke body harness kita dan mengantar kita ke dek lompat di luar gedung, seperti papan loncat indah tapi semua dari logam.

Nah, di situlah saya baru menyadari tempat ini tinggi sekali! Pemandangan seluruh Auckland terlihat jelas. Caleb meminta saya melihat ke titik pendaratan. Ya ampun, kecil banget di bawah sana!

Leap of Faith, begitu Caleb dan timnya menyebut lompatan ini. Hanya tali yang ada di punggung inilah satu-satunya penghubung antara gedung tertinggi di Selandia Baru dan tempat mendarat di bawah sana.

Tangan kiri saya dipasangi action cam sementara di sisi kanan ada kamera gantung yang akan mengikuti saya terjun. Kaki saya menjejak di ujung platform. Tangan berpegangan di tali pengaman.

"Saya hitung sampai 3 lompat ya! Satu, dua, tiga!" teriak Caleb mendorong saya.

Wuuussshhhhh! Adrenalin mengalir deras ke ujung kepala. Woooohoooooooo! Saya berteriak sepuas-puasnya. Gilaaaaaa!

Tali pengaman ini juga bertindak sebagai rem. Saya melambat menjelang tiba di darat dan ditangkap instruktur di bawah menara. Sambil melepas peralatan saya bertanya seberapa cepat tadi jatuhnya.

"Sekitar 11 detik, kecepatannya 85 km/jam!" kata intruktur sambil tertawa.

Bersama detikTravel ada model dan presenter Aline Adita. Kepada detikTravel Aline bercerita, Ini pertama kali dia ke Selandia Baru dan pertama kali juga mencoba wisata adrenalin yang ekstrem.

"Sempet ragu-ragu lho. Tapi ternyata pas tadi coba, malah nggak takut pengen coba lagi," kata Aline.

Cara ke sana:

Auckland Sky Tower ada di pusat kota, di Victoria Street W, Auckland. Sebagai gedung paling tinggi, ia sangat mudah ditemukan. Jika naik bus tinggal turun di Auckland Central Business District dan jalan kaki ke lokasi.

Tiket Sky Tower tanpa melompat hanya NZD 22 (Rp 211 ribu), tapi tiket untuk mencoba Skyjump adalah NZD 225 (Rp 2,1 juta), kalau Skywalk NZD 150 (Rp 1,4 juta). Harga termasuk sertifikat, T Shirt dan akses masuk ke lantai pandang di Sky Tower. Tapi harga Ini belum termasuk ongkos foto dan rekaman video NZD 95 (Rp 912 ribu). Lumayan mahal sih, tapi kapan lagi melompat dari gedung tertinggi di Selandia Baru!