Jumat, 06 Maret 2020

Intip Cahaya Kota Bandung dari Bukit Moko Yuk!

Sebagai kota yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan, pemandangan Kota Bandung dapat terlihat jelas di beberapa tempat tinggi. Salah satu tempat terbaik untuk melihatnya adalah dari Bukit Moko. Tak hanya saat matahari terang, pemandangan kota pun bisa terlihat kala malam tiba.

Untuk dapat melihat cahaya Kota Bandung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, khususnya bagi yang belum pernah pergi ke Bukit Moko. Jangan sampai sudah jauh-jauh pergi ke Bukit Moko malah cahaya kotanya tidak kelihatan.

Yang pertama adalah cuaca. Berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl, tak jarang kawasan Bukit Moko diselimuti kabut tebal. Jika kabut sudah turun, jangankan cahaya kota, suasana sekitar pun bisa tak terlihat jelas.

Oleh sebab itu tak ada salahnya sebelum pergi ke Bukit Moko mengecek terlebih dahulu keadaan cuacanya, apakah di sana akan turun hujan atau berawan.

Traveler pun bisa memastikannya yakni melalui kawasan Caringin Tilu (Cartil). Kawasan ini akan terlewati sebelum sampai Bukit Moko jika menggunakan jalur dari Padasuka. Jika dari Cartil cahaya Kota Bandung sudah tampak jelas, maka kemungkinan besar setibanya di Bukit Moko, gemerlapnya Kota Bandung akan terlihat.

Namun begitu, jangan sia-siakan pemandangan dari Cartil juga, karena tak kalah bagusnya. Jadi bisa sebagai alternatif ya kalau seandainya cuaca di Bukit Moko sedang tidak mendukung.

Kemudian, sering-sering juga memperhatikan tanda-tanda di langit. Jika tampak bulan dan bintang cukup banyak, maka artinya cuaca cukup cerah. Sebaliknya jika tak tampak bulan dan bintang, bisa jadi cuaca malam itu sedang mendung.

Kalau cuacanya mendukung, traveler bisa menyaksikan pemandangan Kota Bandung yang berbeda dari Bukit Moko saat malam hari. Kerlap-kerlip cahaya kota bisa terlihat jelas dari sini. Pemandangan kotanya pun bisa diabadikan dengan smartphone yang mendukung foto malam hari seperti OPPO R17 Pro.

Asyiknya Pemenang d'Traveler of The Year 2018 Jelajahi Pattaya

 Para pemenang d'Traveler of The Year 2018 liburan seru di Thailand. Salah satu destinasinya adalah Pattaya.

Wilayah Pattaya merupakan kawasan wisata Thailand yang tidak jauh dari Ibukota, Bangkok. Kalau dari pusat Ibukota, dapat ditempuh selama kurang lebih 2 jam perjalanan.

Beberapa tempat yang telah d'Traveler of the Year 2018 jelajahi adalah daerah Pattaya dengan sejumlah destinasi seru. Seperti Laser Buddha, Kebun Anggur Silver Lake dan Pattaya View Point.

Fadhil, salah seorang peserta menuturkan bahwa Pattaya memiliki pesona wisata yang tidak terbayangkan. Ia mengatakan, ternyata tempat seindah itu sungguhan ada di Thailand.

"Nice bagus banget, beyond expectation. Dikira cuma pantai, ternyata ada taman mininya Thailand, ketemu banyak toko yang ramainya malam hari ketika pagi sepi, seru banget," ujar Fadhil, salah seorang pemenang.

Begitupun dengan Anni, yang mengatakan ternyata banyak destinasi wisata kuliner halal dan fasilitas untuk muslim traveler di Pattaya.

"Aku suka, makanannya variatif, enak-enak, halal food gampang. Tempat salat gampang, di hotel ada arah kiblatnya," ujar Anni.

Selain itu, ia juga terpesona dengan keindahan alam Pattaya. Wajar saja, di tengah pesisir laut, Pattaya masih memiliki keindahan kota yang cantik.

"Pantainya bagus banget. Apalagi Pattaya View Pointnya bagus, bisa lihat pantai dan kotanya sekaligus. Keren banget," tambah Anni.

6 perserta d'Traveler of The Year 2018, Anni, Annisa, Azizah, Fadhil, Teguh dan Eddy masih akan menyusuri Thailand hingga Sabtu, (26/1/2019) mendatang. Kota selanjutnya adalah Bangkok.

Di Bangkok, para d'Traveler akan mengunjungi aneka tempat menarik lainnya. Salah satu yang paling seru adalah wisata belanjanya!

Nah, kalau penasaran dengan kisah perjalanan d'Traveler, ikuti terus beritanya di detikTravel dan Instagram @detikTravel! 

Bukan Fatamorgana! Ini Benar-benar Mata Air di Tengah Gurun

 Mata air di tengah padang pasir beneran ada lho di China. Mata air ini sangat indah dan bikin takjub!

Namanya Danau Bulan Sabit atau Crescent Lake. Orang China menyebutnya Yueyaquan. Disebut demikian karena bentuk danau seperti bulan sabit. Letaknya di Dunhuang, sekitar 6 km dari Kota Gansu, China bagian barat.

Berada di tengah-tengah gurun pasir di sepanjang jalur Sutera Kuno, danau ini menjadi salah satu area dengan pemandangan luar biasa. Usianya diperkirakan 2.000 tahun.

Di masa Dinasti Han, danau ini sangat luas dan memiliki kedalaman hingga 5 meter. Tapi semakin lama airnya semakin menyusut sehingga luas danau semakin mengecil pula. Hingga akhirnya pemerintah membuat langkah penyelamatan dengan cara mengisi danau ini. Menurut pemandu yang mengantar kami, pada tahun 2018 kedalamannya hanya mencapai 1,3 meter.

Sebagai sebuah oasis, gurun ini dulunya menjadi tempat pemberhentian para pedagang dari Asia Tengah maupun para biksu yang melintasinya. Mereka beristirahat usai melakukan perjalanan panjang melintasi jalur sutera.

Uniknya, danau ini tidak pernah tertutup oleh badai pasir. Bila badai datang, debu pasir berpindah ke gurun di sampingnya. Itulah sebabnya, danau ini selalu eksis. Sementara itu hembusan angin dari gurun menciptakan suara seperti siulan lembut. Itulah sebabnya gurun ini disebut sebagai gurun pasir bernyanyi (singing sand dessert).

Tepat di samping danau ini terdapat sebuah pagoda yang di dalam areanya terdapat toko souvenir. Bila malam menjelang, lampu neon berwarna biru mengelilingi danau akan menyala. Ditambah dengan lampu keemasan yang menerangi pagoda dan latar belakang gurun menciptakan pemandangan eksotik yang luar biasa.

Beberapa kegiatan asik yang bisa dilakukan wisatawan di sini diantaranya menunggang unta, bermain papan seluncur pasir atau sekedar menimati matahari terbenam di puncak gurun. Tentu saja kita harus menaiki gurun terlebih dahulu. Untuk naik gurun setinggi kurang lebih 250 meter diperlukan waktu sekitar 20 menit. Terdapat anak tangga yang bisa digunakan untuk melintasi.

Sebelum memasuki gurun pasir, pengunjung diwajibkan menggunakan pelapis sepatu nyaris setinggi lutut yang terbuat dari kain. Tujuannya tidak lain untuk menjaga agar kaki tidak kemasukan pasir yang bisa melukai.

Intip Cahaya Kota Bandung dari Bukit Moko Yuk!

Sebagai kota yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan, pemandangan Kota Bandung dapat terlihat jelas di beberapa tempat tinggi. Salah satu tempat terbaik untuk melihatnya adalah dari Bukit Moko. Tak hanya saat matahari terang, pemandangan kota pun bisa terlihat kala malam tiba.

Untuk dapat melihat cahaya Kota Bandung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, khususnya bagi yang belum pernah pergi ke Bukit Moko. Jangan sampai sudah jauh-jauh pergi ke Bukit Moko malah cahaya kotanya tidak kelihatan.

Yang pertama adalah cuaca. Berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl, tak jarang kawasan Bukit Moko diselimuti kabut tebal. Jika kabut sudah turun, jangankan cahaya kota, suasana sekitar pun bisa tak terlihat jelas.

Oleh sebab itu tak ada salahnya sebelum pergi ke Bukit Moko mengecek terlebih dahulu keadaan cuacanya, apakah di sana akan turun hujan atau berawan.

Traveler pun bisa memastikannya yakni melalui kawasan Caringin Tilu (Cartil). Kawasan ini akan terlewati sebelum sampai Bukit Moko jika menggunakan jalur dari Padasuka. Jika dari Cartil cahaya Kota Bandung sudah tampak jelas, maka kemungkinan besar setibanya di Bukit Moko, gemerlapnya Kota Bandung akan terlihat.

Namun begitu, jangan sia-siakan pemandangan dari Cartil juga, karena tak kalah bagusnya. Jadi bisa sebagai alternatif ya kalau seandainya cuaca di Bukit Moko sedang tidak mendukung.

Kemudian, sering-sering juga memperhatikan tanda-tanda di langit. Jika tampak bulan dan bintang cukup banyak, maka artinya cuaca cukup cerah. Sebaliknya jika tak tampak bulan dan bintang, bisa jadi cuaca malam itu sedang mendung.

Kalau cuacanya mendukung, traveler bisa menyaksikan pemandangan Kota Bandung yang berbeda dari Bukit Moko saat malam hari. Kerlap-kerlip cahaya kota bisa terlihat jelas dari sini. Pemandangan kotanya pun bisa diabadikan dengan smartphone yang mendukung foto malam hari seperti OPPO R17 Pro.