Salah satu alasan Gubernur NTT Viktor Laiskodat soal rencana penutupan Taman Nasional (TN) Komodo adalah berkurangnya populasi rusa. Tapi, KLHK punya fakta berbeda.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat rencananya akan menutup Taman Nasional Komodo selama 1 tahun. Menurutnya, ini didasari oleh kondisi habitat komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores itu sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak dari berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo. Soal berkurangnya rusa, salah satu sebabnya karena perburuan ilegal.
Dalam siaran pers dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seperti diterima detikTravel, Jumat (25/1/2019) mereka mengungkap data lain. Tercatat jumlah rusa lebih banyak daripada komodo. Itu didapat dari hasil monitoring Balai TN Komodo dan Komodo Survival Program pada tahun 2017.
"Jumlah populasi komodo sebanyak 2.762 individu, yang tersebar di Pulau Rinca (1.410), Pulau Komodo (1.226), Pulau Padar (2), Pulau Gili Motang (54) dan Pulau Nusa Kode (70). Sedangkan populasi rusa adalah sebanyak 3.900 individu, dan kerbau sebanyak 200 individu," tulis pernyataan KLHK.
Soal perburuan rusa di TN Komodo, KLHK mengakui bahwa itu merupakan ancaman pada populasi komodo. Namun, KLHK sudah mengambil langkah-langkah khusus.
"Ancaman terhadap komodo adalah masih ditemukannya perburuan rusa, yang pada umumnya dilakukan oleh oknum masyarakat Kabupaten Bima. Kejadian perburuan rusa pada tahun 2018 telah ditangani secara hukum oleh pihak Polres Bima," tulis pernyataan KLHK.
"Program breeding rusa telah dibangun di Kecamatan Sape Kabupaten Bima, dalam rangka untuk mengurangi tingkat perburuan rusa di TN Komodo," lanjut pernyataannya.
Sebelumnya pada kesempatan berbeda, Deni Purwandana, Koordinator Yayasan Komodo Survival Program juga menyatakan tidak ada penurunan jumlah rusa di TN Komodo. Lagipula, makanan komodo juga tidak bergantung pada rusa semata melainkan ada kerbau dan babi hutan.
"Kami tidak melihat penurunan populasi rusa di Pulau Komodo. Untuk di Pulau Rinca, ada sedikit kecenderungan penurunan populasi rusa, tapi makanan komodo juga tidak hanya bergantung pada rusa. Ada kerbau dan babi hutan," katanya kepada detikTravel, Rabu (23/1).
Bukan Fatamorgana! Ini Benar-benar Mata Air di Tengah Gurun
Mata air di tengah padang pasir beneran ada lho di China. Mata air ini sangat indah dan bikin takjub!
Namanya Danau Bulan Sabit atau Crescent Lake. Orang China menyebutnya Yueyaquan. Disebut demikian karena bentuk danau seperti bulan sabit. Letaknya di Dunhuang, sekitar 6 km dari Kota Gansu, China bagian barat.
Berada di tengah-tengah gurun pasir di sepanjang jalur Sutera Kuno, danau ini menjadi salah satu area dengan pemandangan luar biasa. Usianya diperkirakan 2.000 tahun.
Di masa Dinasti Han, danau ini sangat luas dan memiliki kedalaman hingga 5 meter. Tapi semakin lama airnya semakin menyusut sehingga luas danau semakin mengecil pula. Hingga akhirnya pemerintah membuat langkah penyelamatan dengan cara mengisi danau ini. Menurut pemandu yang mengantar kami, pada tahun 2018 kedalamannya hanya mencapai 1,3 meter.
Sebagai sebuah oasis, gurun ini dulunya menjadi tempat pemberhentian para pedagang dari Asia Tengah maupun para biksu yang melintasinya. Mereka beristirahat usai melakukan perjalanan panjang melintasi jalur sutera.
Uniknya, danau ini tidak pernah tertutup oleh badai pasir. Bila badai datang, debu pasir berpindah ke gurun di sampingnya. Itulah sebabnya, danau ini selalu eksis. Sementara itu hembusan angin dari gurun menciptakan suara seperti siulan lembut. Itulah sebabnya gurun ini disebut sebagai gurun pasir bernyanyi (singing sand dessert).
Tepat di samping danau ini terdapat sebuah pagoda yang di dalam areanya terdapat toko souvenir. Bila malam menjelang, lampu neon berwarna biru mengelilingi danau akan menyala. Ditambah dengan lampu keemasan yang menerangi pagoda dan latar belakang gurun menciptakan pemandangan eksotik yang luar biasa.