Archipelago International melebarkan sayap ke Arab Saudi. Rencananya, Hotel Grand Aston akan dibuka di sana.
Selama beberapa tahun ke depan, perusahaan manajemen perhotelan Archipelago International akan membangun sekitar 22 hotel. Hotel tersebut tak hanya dibangun di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.
Salah satunya di Makkah, Arab Saudi. Pilihan hotel untuk jamaah haji dan umroh pun akan semakin banyak.
"Kemungkinan (selesainya pengembangan 22 hotel) tahun 2021 sampai 2022, itu termasuk Indonesia sama international expansion di Malaysia, satunya di Kuba, satunya lagi di Makkah," kata Erika Anggreini, Director of Marketing Archipelago International usai pembukaan Harper Palembang di Palembang , Kamis (24/1/2019) malam.
Hotel yang akan hadir di Makkah adalah Jabal Omar Grand Aston. Ini bakalan menjadi hotel pertama dari Archipelago International di Arab Saudi.
"Untuk nama brand-nya Grand Aston, bintang 5," ujarnya.
Hotel akan dibangun dengan jumlah kamar mencapai 560. Lokasinya pun strategis, cukup dekat dengan Masjidil Haram.
Dalam pembangunan hotel di Arab Saudi ini Archipelago International bekerjasama franchise jangka panjang dengan Warifat Hospitality Limited, anak perusahaan dari Jabal Omar Development Company (JODC).
Berapa Sih Pendapatan Taman Nasional Komodo Tiap Tahun?
Sebelum wacana penutupan TN Komodo setahun, Gubernur NTT Viktor Laiskodat juga menginginkan kenaikan tarif masuk. Berapa sih pendapatannya?
Polemik penutupan TN Komodo oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat terus bergulir. Wacana itu pun jadi dilema, mengingat besarnya pendapatan negara dari wisatawan yang berkunjung ke TN Komodo tiap tahunnya.
Berdasarkan siaran pers dari KLHK yang diterima detikTravel, Jumat (25/1/2019), pihaknya buka-bukaan seputar pendapatan TN Komodo selama setahun. Hitungan ini pun dilakukan dengan tolak ukur harga tarif biasa untuk masuk ke TN Komodo.
"Dengan tiket masuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 150.000 dan wisatawan Nusantara sebesar Rp 5.000, berdasarkan PP No 12 tahun 2014 tentang Penerimaaan Negara Bukan Pajak (PNBP), maka penerimaan pungutan yang disetor oleh Balai TN Komodo kepada kas negara adalah: tahun 2014 (Rp 5,4 miliar), tahun 2015 (Rp 19,20 miliar), tahun 2016 (Rp 22,80 miliar), tahun 2017 (Rp 29,10 miliar), dan tahun 2018 (Rp 33,16 miliar)," demikian pernyataan KLHK.
Seperti diketahui, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Lasikodat berwacana untuk menaikkan harga tiket masuk ke TN Komodo sebesar USD 100 untuk wisnus dan USD 500 untuk wisman. Namun, masih sebatas wacana.
Hanya perlu diketahui, TN Komodo tak sebatas reptil langka. Ada banyak spot diving dan snorkeling yang bisa disambangi, di luar komodo di Pulau Komodo atau Rinca.
"Selain Komodo sebagai salah satu daya tarik pengunjung yang sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara, saat ini terdapat 42 diving and snorkeling spot yang juga menjadi daya tarik kunjungan. Tren jumlah pengunjung terus meningkat, pada tahun 2014 (80.626 orang), tahun 2015 (95.410 orang), tahun 2016 (107.711 orang), tahun 2017 (125.069 orang) dan tahun 2018 (159.217 orang)," begitu bunyi pernyataan resmi KLHK.
Oleh sebab itu, wacana perubahan tarif masuk dan penutupan TN Komodo jadi kabar buruk bagi banyak orang. Khusunya para pelaku wisata.