Minggu, 08 Maret 2020

Liburan ke Selandia Baru, Ada Taman Paling Instagramable di Hamilton

Liburan ke Selandia Baru bisa jadi impian baru para traveler. Ada banyak destinasi di sana, salah satunya Kota Hamilton dengan taman terbaik di Negeri Kiwi.

Hamilton adalah kota kecil yang berjarak 125 km dari Auckland. Ini sering jadi kota singgah untuk traveler yang mau berwisata ke Hobbiton dan Glowworm Caves karena kota ini terletak di antaranya.

Tapi bukan artinya Hamilton tidak punya destinasi keren. Spot terbaiknya adalah Hamilton Gardens. Gardens dengan huruf 'S' karena memang ada banyak taman yang berkumpul dalam area seluas 54 hektar.

detikTravel atas undangan maskapai Emirates berkunjung ke sana pada Minggu (20/1/2019). Masuknya gratis tanpa tiket masuk, tapi justru ini bukan destinasi murahan. Yang bikin keren, Hamilton Gardens memiliki 21 taman dengan tema-tema unik.

Yang mengejutkan saya adalah sebuah papan yang memberikan informasi kalau kawasan ini dulunya adalah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Kota Hamilton tahun 1960-an. Pada tahun 1971 baru dibuka sebagai taman kota dan sampai sekarang berkembang terus taman-taman kerennya.

Saking bagusnya, Hamilton Gardens pernah menang Garden of The Year sebagai taman terbaik sedunia tahun 2014. Ada apa saja di sana? Banyak banget taman keren. Traveler wajib bawa kamera kalau datang ke sini.

Yang paling sering muncul di Instagram adalah Italian Renaissance Garden yang bergaya abad ke-15 dan 16. Begitu melihat tamannya, wow! Turis berdecak kagum dengan taman bergaya Eropa bagaikan taman istana kerajaan.

Ada patung Romulus dan Remus, serigala yang menjadi simbol Kota Roma. Bunga-bunganya begitu ditata rapi, jenis bunga diatur berdasarkan warnanya dan menghasilkan perpaduan yang cantik.

Taman keren selanjutnya menurut saya adalah Indian Char Barh Garden. Ini adalah taman bergaya India abad ke-16 dan 17. Arsitektur khas Islam Mughal begitu detil dengan taman geometris dan bunga warna-warni. Rasanya ingin berjoget India di taman ini.

Kemudian ada Chinese Scholar's Garden bergaya abad ke-10 sampai 12 zaman Dinasti Sung. Lalu ada Japanese Garden of Contemplation bergaya zaman Muromachi abad 14-16. Namun menurut saya, sudah cukup banyak taman kota atau kebun raya di dunia yang punya taman Jepang dan China, jadi tidak terlalu istimewa lagi.

Ada juga taman yang bergaya sangat modern minimalis namanya Modernist Garden dengan gaya Amerika kekinian. Taman-taman keren lainnya ada di area taman fantasi yang pintu masuknya ada patung Alice in Wonderland.

Tudor Garden bergaya Inggris abad ke-16 juga keren untuk yang suka posting Instagram. Bergaya taman istana dan ada juga patung-patung hewan fantasi Inggris seperti Unicorn, Centaur, Naga, Phoenix dll.

Lalu yang unik adalah Concept Garden. Taman atau kebun ini memiliki dekorasi balon udara yang disebut Huddleston. Ada lagi Herb Garden yang isinya adalah aneka tanaman yang dipakai untuk makanan, kosmetik, parfum dan obat.

Bunga-bunga di Hamilton Gardens begitu cantik, tidak heran banyak wisatawan yang suka datang ke sini. Bukan hanya itu, taman ini sering dipakai untuk aneka event besar. Di sebelah Danau Turtle ada area lapangan besar yang bisa dipakai untuk acara festival. Hamilton Gardens cocok banget untuk jadi destinasi liburan di Selandia Baru.

Cara ke sana:

Ada bus namanya Busit dari Terminal Hamilton Transport Centre ke Hamilton Gardens. Cari bus nomor 6 jurusan Hamilton Gardens. Khusus akhir pekan pakai bus nomor 29 ke Hamilton Gardens. Tapi kalau repot, taksi online Uber bisa mengantar Anda dengan cepat.

Menembus Lebatnya Hutan, Petualangan ke Jantung Borneo (2)

Keesokan hari, kami menaiki tiga kapal kelotok yang telah merapat di pinggir sungai. Kapal-kapal akan dikemudikan oleh para porter yang akan menemani kami untuk beberapa hari ke depan. Dengan kapal itu juga kami mengarungi jeram sungai Samba selama tujuh jam lamanya. Rasanya seru sekali ketika kapal terdorong naik ke atas jeram dan berhasil menaklukkan riam demi riam yang menghadang. Badan kami basah oleh air yang pastinya terpercik atau bahkan terguyur masuk ke dalam kapal kecil yang kami tumpangi.

Saat porter sedang beristirahat untuk mengumpulkan napas, kami tak kuasa untuk tidak menceburkan diri ke dalam air sungai. Air yang jernih memantulkan bebatuan dari dasar sungai tempat ikan-ikan kecil tampak berenang kesana kemari seakan menggoda kami untuk menangkap mereka. Kami menggelar camp di Pos Pintu Rimba, sementara hutan hujan tropis Kalimantan yang rapat telah menanti kami di depan sana. Para porter tidur di bawah terpal plastik yang mereka bawa sendiri.

Malam itu kami beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan panjang yang telah menanti. Kami harus senantiasa fit. Keesokan pagi, kami sudah siap dengan kostum perang: celana legging yang mudah kering. Kami telah diinfokan agar mengenakan celana tersebut karena jalur yang akan kami lalui tidak selalu jalur darat, tetapi kami juga akan menyeberangi banyak sungai. Begitu juga dengan pacet yang akan kami jumpai.

Legging akan memudahkan kami mengontrol aktifitas pacet-pacet yang menempel di badan. Pak Boman, guide kami, telah mewanti-wanti akan banyaknya pacet yang akan kami temui sepanjang perjalanan. Apalagi ini musim penghujan, pacet yang keluar dari sarangnya akan bertambah banyak, demikian ujarnya. Kami mulai menyusuri hutan, keluar masuk sungai dan lumpur yang membuat kedua sepatu kami basah kuyup.

Satu persatu kawanan pacet hinggap di kaki kami. Kami berusaha membuang mereka, tetapi nanti kawan-kawannya akan kembali loncat masuk ke dalam sepatu. Usaha kami sia-sia belaka. Beberapa porter menggunakan air tembakau yang nampaknya cukup ampuh untuk membuat mahluk-mahluk penghisap darah itu pingsan sejenak.

Saat jam makan siang, kami hanya beristirahat sebentar untuk kemudian kembali melangkah. Beraneka ragam pepohonan kami jumpai, terutama pohon meranti yang sudah berumur ratusan tahun. Batang pohon yang lingkarannya membutuhkan pelukan tiga hingga empat orang dewasa itu kerap kami jumpai di kanan kiri jalan setapak. Kami juga sempat menemukan seekor kalajengking seukuran telapak tangan orang dewasa yang bersembunyi di balik dedaunan. Untungnya salah satu porter melihat binatang beracun itu sehingga kami berhati-hati ketika melewatinya.

Pada hari kelima, kami berhasil mencapai Puncak Kakam di ketinggian 2.278 mdpl. Titik itu adalah titik tertinggi di tanah Borneo yang terletak tepat di perbatasan antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Dua pateho atau tempat meletakkan sesajen tampak di sana, biasanya digunakan para porter untuk memberi persembahan atas keberhasilan mereka. Beberapa ekor tupai berlarian ke sana kemari melangkahi piring-piring sesaji yang bertebaran.

Kami berfoto-foto dan tak lupa untuk mengisi perut yang kelaparan. Seorang porter menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Tak lama kami berada di puncak karena kami harus kembali ke camp dan meneruskan perjalanan kembali ke Desa Habangoi. Selama menjelajah hutan, Pak Boman dan kawan-kawan porter banyak mendapatkan ikan sapan di Sungai Samba. Ikan-ikan itu dibakar, digoreng atau direbus untuk dijadikan santapan kami.

Rasa dagingnya yang gurih dan segar membuat kami lahap menghabiskan beberapa ekor. Menurutnya, ikan-ikan itu terkadang dijual ke Malaysia dengan harga yang cukup mahal dikarenakan sulitnya medan yang ditempuh untuk mendapatkan. Pada saat di perjalanan, kami berjumpa sekelompok pemancing ikan dari ibu kota yang menyempatkan diri untuk mendatangi Sungai Samba.

Menurut para porter, sungai itu kerap dikunjungi para pemancing di waktu libur atau di hari Sabtu-Minggu. Biasanya mereka menyewa kapal kelotok untuk satu atau dua hari. Mereka akan membuka tenda di pinggir sungai sambil tak lupa menyantap hasil pancingan mereka di hari itu.