Turis yang masuk ke Bali rencananya akan bayar USD 10 untuk biaya kontribusi. Apa kata turis tentang hal tersebut?
Rencana Pemerintah Provinsi Bali untuk menarik retribusi USD 10 (sekitar Rp 140 ribu) tak dipermasalahkan wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Namun, mereka berharap uang tersebut juga bisa digunakan untuk menjaga kebersihan obyek wisata Bali.
Salah satu pasangan asal India, Mohamad dan Mehara mendukung keputusan tersebut. Sebab, uang itu digunakan untuk pelestarian budaya yang menjadi daya tarik Bali.
"Saya pikir itu ide bagus. Saya mendukung untuk pelestarian budaya," kata Mohamad saat berbincang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Senin (21/1/2019) kemarin.
Hal senada juga disampaikan Nicholas. Turis asal Australia itu berencana menghabiskan waktu 7 hari di Bali untuk piknik.
"Saya pikir uang USD 10 itu nggak mahal, tiket ke Bali juga murah kok," cetus Nicholas tanpa menyebutkan harga tiketnya.
Sedangkan pasangan Ann dan Howard asal Melbourne, Australia juga menyebut retribusi sebesar USD 10 tak mahal. Hanya saja mereka berharap uang itu juga dipakai untuk menjaga kebersihan obyek wisata alam di Bali.
"Saya pikir USD 10 tak masalah bagi para turis yang datang ke Bali. Adat dan budaya Bali sangat kuat tapi masalah utama Bali dan Indonesia adalah sampah," ujar Ann.
Pasangan yang sering bolak-balik ke Bali untuk liburan ini meluapkan kekecewaannya dengan pemandangan sampah di Pantai Kuta. Mereka pun bertanya-tanya kenapa para pedagang dan pemilik bisnis di sepanjang Kuta tak mau turun tangan membersihkan sampah-sampah tersebut.
"Saya sudah ke sini sejak 38 tahun lalu. Sekitar 10 tahun lalu saya sempat optimistis melihat banyak gerakan anak-anak muda memungut sampah di tepi pantai dengan sukarela, saya tidak tahu kenapa sekarang ini gerakan itu berhenti," ujar Howard.
Menurutnya jika masalah sampah ini tak ditangani, dia yakin banyak turis yang meninggalkan Bali dan berkunjung ke daerah lain. Howard dan Ann juga menyinggung Turki yang sudah lebih maju mengelola sampah mereka dan sedang menata sebagai daerah tujuan wisata bagi masyarakat Eropa.
"Ingat sekitar tahun 1920-1930 banyak turis Eropa datang ke Bali, hampir seluruh wisatawan itu mengatakan Bali adalah pulau surga. Saat ini Turki berusaha lebih maju dalam pengelolaan sampah mereka, dan dari sisi geografis letaknya dekat dengan Eropa. Mereka juga menyasar turis Eropa, tak bisa kubilang (suasananya) lebih baik tapi berbeda," ucap Howard.
"Jika para turis yang datang dan tetap melihat sampah, suatu saat mereka akan marah. Apalagi mereka sudah membayar," imbuh Ann.
Wacana retribusi USD 10 ini tengah digodok pemerintah Provinsi Bali bersama DPRD Bali. Rencananya uang ini bakal ditambahkan melalui biaya tiket penerbangan internasional tujuan ke Bali.
Orang Labuan Bajo Menolak Rencana Penutupan Taman Nasional Komodo
Heboh pemberitaan Taman Nasional Komodo mau ditutup selama 1 tahun. Padahal, selama ini pariwisata dinilai tidak pernah menganggu habitat komodo.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat rencananya akan menutup Taman Nasional Komodo selama 1 tahun. Didasari oleh kondisi habitat komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores itu sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak dari berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo.
Namun hingga kini, baik dari pihak TN Komodo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai aktivitas di TN Komodo masih berlangsung normal. Serta penutupan itu pun masih sebatas wacana.
Ardi salah seorang warga Labuan Bajo menjelaskan, rencana penutupan TN Komodo mendapat pertentangan dari berbagai pihak di Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Menurutnya, selama ini pariwisata tidak pernah menganggu habitat komodo.
"Sejauh ini tidak pernah ada wisatawan yang menganggu habitat komodo, ya contohnya memberi makan komodo saja tidak pernah. Para ranger dan guide di Taman Nasional Komodo juga ikut menjaga menjaga lingkungan," terangnya kepada detikTravel, Selasa (22/1/2019).
Ardi justru mempertanyakan soal habitat rusa yang kabarnya menurun di TN Komodo. Memang benar, ada perburuan ilegal rusa di Pulau Komodo. Maka itu, baiknya keamanan lebih ditingkatkan.
"Sekarang kan alasan penutupannya karena perburuan rusa. Kalau begitu, lebih baik perketat keamanan di TN Komodo dari para pemburu rusa dibanding menutup taman nasionalnya," terang Ardi.