Minggu, 08 Maret 2020

Menembus Lebatnya Hutan, Petualangan ke Jantung Borneo

Tulisan ini mengisahkan tentang perjalanan menapaki pekatnya hutan hujan tropis dalam mencapai titik tertinggi Pulau Borneo. Perjalanannya selama tujuh hari tujuh malam.
Kesan mendalam, karena ternyata di salah satu sudut Asia masih tersimpan sebuah harapan. Yakni akan kokohnya sebuah adat, hijaunya alam, beningnya air sungai dan merdunya kicau burung-burung.

Malam itu, tepat pukul 20.00 WIB kami menyusuri tangga si burung besi yang telah mengantarkan kami ke Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Hawa dingin menerpa tubuh karena hujan baru saja berhenti. Kami segera bergegas ke pintu keluar setelah mengambil enam keril berisikan semua keperluan kami untuk menjelajahi hutan Kalimantan. Tepat sampai di pintu keluar, seorang pemuda dari desa di hulu sungai Kalimantan Tengah menyapa kami.

Tangannya erat menjabat seakan menjanjikan petualangan seru menuju Puncak Kakam, Gunung Bukit Raya. Setelah sekitar tujuh jam lamanya kami menempuh perjalanan darat, sampailah kami di Desa Tumbang Habangoi, sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan. Desa yang penduduknya mayoritas beragama Hindu ini merupakan desa terakhir sekaligus menjadi desa paling ujung yang terhubung dengan jalan darat. Mata pencaharian penduduk di desa kecil itu kebanyakan bekerja di perusahaan kayu yang telah mendapatkan izin dan pengawasan yang ketat dari pihak Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Malam itu kami diberi tumpangan menginap di rumah salah satu penduduk. Sebelum upacara adat dimulai, kami bernegosiasi untuk menyewa kapal dan jumlah porter yang akan mengantar kami menapaki pekatnya rimba Kalimantan. Beberapa perubahan jadwal terjadi tetapi dapat segera diselesaikan tanpa ada kendala berarti. Setelah semua beres, pihak kepala adat menyiapkan semua keperluan upacara sebagai tolak bala agar keselamatan kami senantiasa terjaga. Seekor ayam disiapkan untuk disembelih dan dijadikan persembahan.

Keesokan hari, kami menaiki tiga kapal kelotok yang telah merapat di pinggir sungai. Kapal-kapal akan dikemudikan oleh para porter yang akan menemani kami untuk beberapa hari ke depan. Dengan kapal itu juga kami mengarungi jeram sungai Samba selama tujuh jam lamanya. Rasanya seru sekali ketika kapal terdorong naik ke atas jeram dan berhasil menaklukkan riam demi riam yang menghadang. Badan kami basah oleh air yang pastinya terpercik atau bahkan terguyur masuk ke dalam kapal kecil yang kami tumpangi.

Saat porter sedang beristirahat untuk mengumpulkan napas, kami tak kuasa untuk tidak menceburkan diri ke dalam air sungai. Air yang jernih memantulkan bebatuan dari dasar sungai tempat ikan-ikan kecil tampak berenang kesana kemari seakan menggoda kami untuk menangkap mereka. Kami menggelar camp di Pos Pintu Rimba, sementara hutan hujan tropis Kalimantan yang rapat telah menanti kami di depan sana. Para porter tidur di bawah terpal plastik yang mereka bawa sendiri.

Malam itu kami beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan panjang yang telah menanti. Kami harus senantiasa fit. Keesokan pagi, kami sudah siap dengan kostum perang: celana legging yang mudah kering. Kami telah diinfokan agar mengenakan celana tersebut karena jalur yang akan kami lalui tidak selalu jalur darat, tetapi kami juga akan menyeberangi banyak sungai. Begitu juga dengan pacet yang akan kami jumpai.

Legging akan memudahkan kami mengontrol aktifitas pacet-pacet yang menempel di badan. Pak Boman, guide kami, telah mewanti-wanti akan banyaknya pacet yang akan kami temui sepanjang perjalanan. Apalagi ini musim penghujan, pacet yang keluar dari sarangnya akan bertambah banyak, demikian ujarnya. Kami mulai menyusuri hutan, keluar masuk sungai dan lumpur yang membuat kedua sepatu kami basah kuyup.

Satu persatu kawanan pacet hinggap di kaki kami. Kami berusaha membuang mereka, tetapi nanti kawan-kawannya akan kembali loncat masuk ke dalam sepatu. Usaha kami sia-sia belaka. Beberapa porter menggunakan air tembakau yang nampaknya cukup ampuh untuk membuat mahluk-mahluk penghisap darah itu pingsan sejenak.

Saat jam makan siang, kami hanya beristirahat sebentar untuk kemudian kembali melangkah. Beraneka ragam pepohonan kami jumpai, terutama pohon meranti yang sudah berumur ratusan tahun. Batang pohon yang lingkarannya membutuhkan pelukan tiga hingga empat orang dewasa itu kerap kami jumpai di kanan kiri jalan setapak. Kami juga sempat menemukan seekor kalajengking seukuran telapak tangan orang dewasa yang bersembunyi di balik dedaunan. Untungnya salah satu porter melihat binatang beracun itu sehingga kami berhati-hati ketika melewatinya.

6 Persiapan Jika Kamu Ingin Solo Traveling (2)

Waktu saya di Bangkok, malam-malam saya sendirian pergi jalan kaki ke toko-toko pinggir jalan dekat hotel saya yang menjual berbagai macam pakaian perempuan yang sedang hits di tahun ini. Sebenarnya saya merasa takut, karena jalan dari toko-toko tersebut menuju hotel saya sangat gelap dan sepi. Namun entah mengapa, karena suasana masih seperti di Indonesia, jadi saya berpikir pasti saya bisa sampai di hotel dengan selamat. Jadi tetap tenang, berpikir positif dan stay cool walaupun suasana hati sedang tidak karuan, ya!

4. Ketika akan membeli sesuatu perhatikan produk dan pintarlah dalam menawar

Thailand menjadi surganya para wisatawan yang suka berbelanja, terutama di Kota Bangkok. Kita bisa pergi ke pasar maupun mall-mall yang ada di Bangkok untuk mendapatkan barang-barang murah. Di Bangkok, saya banyak menghabiskan uang hanya untuk membeli baju dan souvenir oleh-oleh. Dengan harga murah, kita bisa mendapatkan banyak barang, apalagi jika kita pintar dalam hal tawar menawar kita bisa mendapatkan barang tersebut dengan membayar setengah harga.

5. Mengatur waktu untuk mengunjungi destinasi andalan negara tersebut

Kalau ke Thailand wajib hukumnya untuk berkeliling mengunjungi destinasi yang sangat terkenal di sana. Kita harus dan wajib pergi ke Wat Pho, Wat Arun dan Laser Buddha. Ini adalah destinasi utama di Thailand. Lalu kita bisa pergi mencicipi Thailand street food di Floating Market Pattaya, melihat pertunjukan gajah dan pertunjukan tradisional Thailand di Noongnooch Village dan melihat cantiknya para ladyboy berjalan berlenggak-lenggok diatas panggung di Tiffany's Ladyboy Cabaret Show.

Jika ingin pergi ke pantai, kalian bisa mengunjungi Phi-Phi Island yang menjadi tempat favorit liburan para turis mancanegara. Thailand memiliki destinasi, budaya, kuliner yang dapat kita pelajari dan menambah wawasan kita. Semua sudah menjadi satu paket.

6. Jangan lupa membawa obat-obatan

Traveling ke luar negeri sendirian merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk kita para perempuan. Untuk itu, persiapkan semua nya dengan matang dan jangan sampai ketika sampai di negara yang dituju ada barang atau perlengkapan yang tertinggal. Salah satunya adalah obat-obatan. Ini merupakan hal terpenting yang kadang kita acuhkan. Karena merasa kondisi tubuh sehat-sehat saja, bukan berarti kita tidak menyiapkan obat-obatan.

Setelah melakukan perjalanan yang lama, belum lagi kita akan mengunjungi banyak tempat dan kondisi cuaca yang berubah-ubah, bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi boomerang bagi tubuh kita. Dan kita juga tidak tahu harus membeli obat apa dan di mana yang cocok dengan tubuh kita di tempat asing. Sehingga ada baiknya ketika akan melakukan perjalanan jauh dan sudah pasti kita akan merasa lelah jangan lupa untuk membawa Tolak Angin.

Tolak angin sudah terbukti menjadi andalan para traveler untuk mengatasi masuk angin dan menghangatkan tubuh. Dengan kemasan yang minimalis dan tidak memakan tempat, tolak angin sangat praktis untuk dibawa kemana-mana. Ingat kutipan ini, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jadi, jaga kesehatan selama diperjalanan agar tidak merepotkan orang lain dan jangan takut sendirian. Selamat berlibur!