Selasa, 10 Maret 2020

Tradisi Kuda Menari dan Penunggang Cantik dari Polewali Mandar

Polewali Mandar di Sulawesi Barat punya sebuah tradisi menarik bernama Kuda Menari. Dalam tradisi ini, kuda akan ditunggangi oleh wanita cantik.

Tidak hanya terkenal dengan kekayaan wisata alamnya, Polewali Mandar juga dikenal dengan keragaman wisata tradisi. Salah satunya Kuda Menari.

Seperti yang digelar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, pada Rabu sore (16/01/19).

Ribuan warga berjejer di pinggir jalan untuk menyaksikan kemeriahan festival kuda menari khas Suku Mandar. Festival ini digelar secara rutin setiap tahun oleh warga di daerah ini.

Banyaknya warga yang antusias menyaksikan wisata tradisi ini, tak jarang menyebabkan kemacetan panjang arus lalu lintas.

Disebut kuda menari, karena setiap kuda terlatih yang ditunggangi dua wanita cantik berbusana adat daerah setempat, akan berjingkrak-jingkrak setiap kali mendapat instruksi dari sang pawang kuda layaknya sedang menari.

Tabuhan musik rebana menambah kemeriahan festival yang oleh warga setempat juga dikenal dengan istilah Sayyang Pattudu (Kuda Menari).

Saat melihat kuda yang ditunggangi dua wanita cantik berjingkrak tinggi, dijamin akan membuat penonton berdecak kagum. Bahkan setidaknya berteriak histeris lantaran takut wanita cantik yang menunggangi kuda akan terjatuh.

Tapi jangan khawatir, soalnya pada sisi kiri dan kanan kuda menari, terdapat masing-masing dua pria dewasa yang bertugas memegangi pundak wanita penunggang kuda. Oleh warga mereka biasa disebut dengan istilah Passarung.

Selama festival berlangsung, para peserta akan diarak berkeliling kampung. Tidak jarang ada saja warga khususnya kaum pria yang melantukan Kalindada atau pantun kepada wanita penunggang kuda menari.

Kalindada yang disampaikan dalam bahasa Mandar tersebut, biasanya berisi rayuan kepada wanita cantik penunggang kuda menari.

Dahulu kala kuda menari hanya ditunggangi keluarga kerajaan dan digelar pada acara tertentu saja khususnya acara kebangsawanan, dan kerap dijadikan simbol sosial warga keturunan bangsawan.

Namun di masa kini, pelaksanaan kuda menari kerap dilakukan sebagai bentuk penghargaan. Khususnya kepada anak-anak yang menyelesaikan bacaan Al Quran.

Selain untuk memeriahkan perayaan Maulid Nabi, Festival Kuda Menari ini juga kerap dilakukan untuk meramaikan acara pernikahan, dan penyambutan tamu-tamu pejabat.

Bahkan Festival Kuda Menari tidak hanya diikuti masyarakat lokal saja. Warga pendatang hingga yang berasal dari mancanegara juga ikutan.

Salah seorang warga bernama Saldy mengaku, tidak pernah melewatkan wisata tradisi yang menjadi kebanggaan warga di daerah ini

"Pokoknya setiap tahun saya selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan secara langsung kegiatan ini, kuda menari yang disertai tabuhan musik rebana, merupakan kebanggaan warga di daerah ini, yang patut diberi apresiasi dan dipertahankan keberadaannya," ungkapnya kepada wartawan, usai menyaksikan Festival Kuda Menari.

Penasaran merasakan sensasi keseruan menunggangi kuda menari? Anda bisa berkunjung langsung ke Polewali Mandar. Namun jika takut menunggangi kuda, menjadi penonton juga seru kok!

Minggu, 08 Maret 2020

Orang Labuan Bajo Menolak Rencana Penutupan Taman Nasional Komodo

Heboh pemberitaan Taman Nasional Komodo mau ditutup selama 1 tahun. Padahal, selama ini pariwisata dinilai tidak pernah menganggu habitat komodo.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat rencananya akan menutup Taman Nasional Komodo selama 1 tahun. Didasari oleh kondisi habitat komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores itu sudah semakin berkurang serta kondisi tubuh komodo yang kecil sebagai dampak dari berkurangnya rusa yang menjadi makanan utama komodo.

Namun hingga kini, baik dari pihak TN Komodo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai aktivitas di TN Komodo masih berlangsung normal. Serta penutupan itu pun masih sebatas wacana.

Ardi salah seorang warga Labuan Bajo menjelaskan, rencana penutupan TN Komodo mendapat pertentangan dari berbagai pihak di Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Menurutnya, selama ini pariwisata tidak pernah menganggu habitat komodo.

"Sejauh ini tidak pernah ada wisatawan yang menganggu habitat komodo, ya contohnya memberi makan komodo saja tidak pernah. Para ranger dan guide di Taman Nasional Komodo juga ikut menjaga menjaga lingkungan," terangnya kepada detikTravel, Selasa (22/1/2019).

Ardi justru mempertanyakan soal habitat rusa yang kabarnya menurun di TN Komodo. Memang benar, ada perburuan ilegal rusa di Pulau Komodo. Maka itu, baiknya keamanan lebih ditingkatkan.

"Sekarang kan alasan penutupannya karena perburuan rusa. Kalau begitu, lebih baik perketat keamanan di TN Komodo dari para pemburu rusa dibanding menutup taman nasionalnya," terang Ardi.

TN Komodo pun sudah menjadi destinasi wisata yang mendunia. Di sanalah masyarakat Pulau Komodo dan Labuan Bajo menggantungkan hidupnya, seperti menjual suvenir, menawarkan homestay, menyewakan kapal dan lainnya.

"Penduduk di Pulau Komodo saja tidak pernah menganggu habitat komodo. Penutupan taman nasional sampai 1 tahun tidak masuk akal karena mematikan perekonomian kita. Sekali lagi, kalau masalahnya perburan rusa ya maka harus meningkatkan keamanan," paparnya.

"Hampir semua masyarakat menolak penutupan Taman Nasional Komodo," tutup Ardi.

Apa yang Boleh & Tidak Boleh Dilakukan di Hotel Kapsul?

 Banyak traveler yang mungkin belum familiar dengan hotel kapsul. Sebenarnya, apa saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di hotel ini?

Hotel kapsul mulai banyak dibangun di Indonesia. Menggunakan teknologi dari Jepang, hotel ini jadi solusi bagi traveler yang butuh akomodasi praktis dengan harga yang terjangkau.

Hotel kapsul sedikit berbeda dengan hotel konvensional yang biasa kita inapi. Yang perlu traveler ingat, satu kapsul hotel hanya diperuntukkan untuk satu individu, tidak bisa untuk berdua. Meski datang berpasangan, traveler pria dan wanita harus tidur di kapsul yang terpisah, pria dan wanita.

"Satu kapsul untuk satu orang. Sementara ini, untuk suami istri tidak bisa satu kapsul. Yang satu kapsul cukup luas bisa untuk berdua, hanya diperuntukkan untuk wanita," jelas Rudy Josano, Direktur Capsule Indonesia kepada detikTravel, Senin (21/1/2019).

Untuk barang bawaan, hotel kapsul tidak membatasi. Traveler boleh membawa apapun dari mulai handbag, backpack, koper sampai carrier sekali pun. Itu karena hotel kapsul menyediakan loker untuk menyimpan barang traveler.