Selasa, 10 Maret 2020

Dijual! Rumah dengan Panorama Indah di Italia Seharga Rp 16 ribu

Membeli rumah tidak selamanya mahal. Di Italia, ada rumah dengan pemandangan Laut Mediterania harganya cuma Rp 16 ribu lho. Penasaran?

Inilah kota Sambuca, letaknya berada di Sicila, sekitar 10 jam dari Ibukota Italia, Roma. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (17/1/2019) Sambuca berniat mencari penduduk untuk menghidupkan kembali kota yang sudah ditinggal banyak penghuninya, dengan menjual hunian super murah.

Sambuca memiliki suasana jadul khas Italia dengan pemandangan perbukitan hijau. Selain itu, daya tarik yang menarik adalah pemandangan yang menghadap laut Mediterania.

Namun, Sambuca ditinggal oleh para penduduk ke kota-kota maju. Hal ini, membuat pemerintah setempat ingin membuat Sambuca ramai kembali, dengan cara menjual rumah seharga EUR 1, atau setara dengan Rp 16 ribu.

"Berbeda dengan kota-kota lain yang hanya melakukan hal ini untuk propaganda, kota ini memiliki semua rumah € 1 yang dijual," kata Giuseppe Cacioppo, wakil walikota Sambuca dan dewan wisata seperti dikutip dari CNN.

Namun, bukan semata-mata hanya membeli saja. Pemilik yang membeli, harus berkomitmen untuk memperbarui tempat tinggal yang runtuh dengan luas 40-150 meter dalam waktu 3 tahun sejak pembelian. Biayanya, sekitar EUR 15 ribu (Rp 242 jutaan).

Selain itu, ada juga biaya keamanan senilai EUR 5.000 (Rp 80 juta) yang akan dikembalikan jika renovasi sudah selesai. Menurut Giuseppe, Sambuca dulunya dikenal sebagai Kota Kemegahan. Lahannya sangat subur, dengan pemandangan alam indah yang penuh sejarah. Selain itu, tempat ini sangat tenang dan sejuk.

Ia pun mengatakan, bahwa apabila Sambuca tidak cepat-cepat direnovasi, akan menghalami kehancuran. Hal ini yang sangat dihindari oleh pemerintah setempat.

Sambuca sebenarnya bisa jadi peluang pariwisata yang besar bagi Italia. Hal ini, karena aksen Yunani Kuno dan Arab yang melekat kuat. Bisa jadi keunikan dan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun internasional.

Sejauh ini, beberapa warga internasional sudah membeli sejumlah rumah di Sambuca. Tercatat, ada 10 rumah yang sudah resmi terjual. Rata-rata, orang Swiss, Prancis dan Spanyol yang tertarik dengan Sambuca.

Susanna Heinson, dari Jerman, telah membeli sebuah rumah dan menata ulang rumahnya di Sambuca.

"Saya tidak sabar untuk menghabiskan musim panas mendatang di Sambuca, itu tempat yang indah dan istimewa. Orang-orangnya sangat berpikiran terbuka dan ramah. Restoran yang bagus, kilang anggur yang luar biasa. Kami merasa di rumah sendiri," ujarnya.

Sambuca sempat dinominasikan dalam kontes Most Beautiful Towns Italia 2016. Bahkan, direncanakan akan membuka hotel untuk membantu para pendatang baru merasakan sensasi menyatu dengan kehidupan desa setempat dan bergaul dengan penduduk.

Keren! Jepang Uji Coba Bus Tanpa Sopir di Bandara Haneda

Untuk pertama kalinya, bus tanpa sopir akan diuji coba di Bandara Haneda, Tokyo. Rencananya teknologi ini akan bisa dinikmati wisatawan pada 2020 mendatang.

Soal inovasi, Jepang bisa dibilang juaranya. Yang terbaru, mereka akan meluncurkan bus tanpa sopir yang akan melayani wisatawan di Bandara Haneda, Tokyo. Bus ini akan melayani wisatawan yang ingin berpindah dari satu terminal ke terminal lainnya.

Dihimpun detikTravel dari beberapa sumber, Kamis (17/1/2019), maskapai ANA (All Nippon Airways) sudah mulai menguji coba bus tanpa sopir ini di beberapa area terbatas di Bandara Haneda.

Jika uji coba ini sukses, bus tanpa sopir ini akan siap melayani penumpang tahun depan, bertepatan pula dengan pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020.

Cara kerja bus tanpa sopir ini yaitu dengan menggunakan bantuan sensor magnetik yang dipasang di bagian bawah bus. Nantinya bus ini akan mengikuti jalur bermagnet yang akan membantu bus untuk tetap berjalan sesuai dengan rutenya.

Meski tanpa pengemudi, bus ini tetap akan bisa dikontrol oleh operator lewat sistem kontrol yang disebut 'Dispatcher'. Kontrol ini bersifat real time, sehingga begitu ada masalah para operator sudah siap untuk mengatasinya.

"Bus otomatis ini akan membantu mengurangi arus lalu lintas di bandara dan juga membantu meningkatkan kenyamanan bagi para penumpang," ujar Shigeru Hattori, Senior Vice President ANA.

Selain di Bandara Haneda, bus tanpa sopir ini rencananya juga akan di uji coba di Bandara Narita, Bandara Sendai dan juga Bandara Nagoya. 

Tradisi Kuda Menari dan Penunggang Cantik dari Polewali Mandar

Polewali Mandar di Sulawesi Barat punya sebuah tradisi menarik bernama Kuda Menari. Dalam tradisi ini, kuda akan ditunggangi oleh wanita cantik.

Tidak hanya terkenal dengan kekayaan wisata alamnya, Polewali Mandar juga dikenal dengan keragaman wisata tradisi. Salah satunya Kuda Menari.

Seperti yang digelar di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, pada Rabu sore (16/01/19).

Ribuan warga berjejer di pinggir jalan untuk menyaksikan kemeriahan festival kuda menari khas Suku Mandar. Festival ini digelar secara rutin setiap tahun oleh warga di daerah ini.

Banyaknya warga yang antusias menyaksikan wisata tradisi ini, tak jarang menyebabkan kemacetan panjang arus lalu lintas.

Disebut kuda menari, karena setiap kuda terlatih yang ditunggangi dua wanita cantik berbusana adat daerah setempat, akan berjingkrak-jingkrak setiap kali mendapat instruksi dari sang pawang kuda layaknya sedang menari.

Tabuhan musik rebana menambah kemeriahan festival yang oleh warga setempat juga dikenal dengan istilah Sayyang Pattudu (Kuda Menari).

Saat melihat kuda yang ditunggangi dua wanita cantik berjingkrak tinggi, dijamin akan membuat penonton berdecak kagum. Bahkan setidaknya berteriak histeris lantaran takut wanita cantik yang menunggangi kuda akan terjatuh.

Tapi jangan khawatir, soalnya pada sisi kiri dan kanan kuda menari, terdapat masing-masing dua pria dewasa yang bertugas memegangi pundak wanita penunggang kuda. Oleh warga mereka biasa disebut dengan istilah Passarung.

Selama festival berlangsung, para peserta akan diarak berkeliling kampung. Tidak jarang ada saja warga khususnya kaum pria yang melantukan Kalindada atau pantun kepada wanita penunggang kuda menari.

Kalindada yang disampaikan dalam bahasa Mandar tersebut, biasanya berisi rayuan kepada wanita cantik penunggang kuda menari.

Dahulu kala kuda menari hanya ditunggangi keluarga kerajaan dan digelar pada acara tertentu saja khususnya acara kebangsawanan, dan kerap dijadikan simbol sosial warga keturunan bangsawan.

Namun di masa kini, pelaksanaan kuda menari kerap dilakukan sebagai bentuk penghargaan. Khususnya kepada anak-anak yang menyelesaikan bacaan Al Quran.

Selain untuk memeriahkan perayaan Maulid Nabi, Festival Kuda Menari ini juga kerap dilakukan untuk meramaikan acara pernikahan, dan penyambutan tamu-tamu pejabat.

Bahkan Festival Kuda Menari tidak hanya diikuti masyarakat lokal saja. Warga pendatang hingga yang berasal dari mancanegara juga ikutan.

Salah seorang warga bernama Saldy mengaku, tidak pernah melewatkan wisata tradisi yang menjadi kebanggaan warga di daerah ini

"Pokoknya setiap tahun saya selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan secara langsung kegiatan ini, kuda menari yang disertai tabuhan musik rebana, merupakan kebanggaan warga di daerah ini, yang patut diberi apresiasi dan dipertahankan keberadaannya," ungkapnya kepada wartawan, usai menyaksikan Festival Kuda Menari.

Penasaran merasakan sensasi keseruan menunggangi kuda menari? Anda bisa berkunjung langsung ke Polewali Mandar. Namun jika takut menunggangi kuda, menjadi penonton juga seru kok!