Selasa, 10 Maret 2020

Telaga Biru dan Sunrise di Gurun Pasir Pulau Bintan

 Liburan akhir pekan ayo bertualang ke Desa Busung di Pulau Bintan. Ada sunrise cantik di gurun pasir dan Telaga Biru yang indah.

Sudah lama saya merencanakan ingin mencoba datang sebelum mentari terbit ke Desa Busung, Bintan. Saya pun harus rela bangun pagi untuk bisa melihat nuansa pagi di gurun pasir Desa Busung yang terkenal dengan sebutan Telaga Biru. Saya penasaran dengan nuansa sebelum mentari terbit, apakah benar-benar berwarna biru. Itulah alasannya rela bangun pagi untuk mengejar mentari di Desa Busung Bintan, khususnya Telaga Biru.

Jam di smartphone memperingatkan waktu sudah menunjukan pulul 04.00 WIB pagi. Walaupun masih terasa mengantuk dan ogah-ogahan bangun pagi. Saya pun segera menuju kamar mandi dan menyegarkan badan, makan sedikit roti tawar dan air hangat. Saya sudah membayangkan dinginnya angin pagi dari Kota Tanjungpinang ke Desa Busung.

Bener saja, dinginnya udara pagi berasa menembus tubuh yang sudah menggunakan jaket. Motor pun segera melaju di jalan yang masih sepi dan hanya terdengar deru motor sendiri. Perjalanan memakan waktu sekitar sejam, karena saya dan teman saya mesti perlahan membawa sepeda motor. Sesekali terdengar suara motor lain dan terkadang membuat sedikit takut. Lantaran, jalan raya sepi karena lintas barat antara kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan yang harus melewati beberapa jembatan.

Meskipun ada rasa was-was, puji Tuhan, akhirnya kami tiba juga ke lokasi dalam keadaan selamat dan tentu saja sangat gelap. Lantaran juga mentari masih belum memunculkan sinarnya. Apakah menakutkan berada di bekas penambangan pasir di subuh hari? Jawabannya tentu saja dan motor pun harus perlahan-lahan turun dari lokasi pakir motor. Karena waktu saya pergi kesana memang bukan akhir pekan saja.

Rasa penasaran ingin melihat bentuk eh warna air Telaga Biru sebelum terkena sinar mentari. Secara perlahan dan pasti, mentari akhirnya menunjukan sinarnya juga. Air Telaga Biru yang biasanya membiru itu, ketika mentari mulai menampakan sinarnya berwarna bening dan sedikit keruh. Lantaran memang bekas galian tambang dan masih ada lumpur di sekeliling kolam. Meskipun demikian, mentari yang memperlihatkan sinarnya itu sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Jujur, lokasi ini memang bukan spot untuk mengejar sunrise alias matahari terbit tetapi lumayan untuk mengatasi rasa penasaran mengenai misteri Telaga Biru, Desa Busung, Pulau Bintan. Beberapa pakar mengatakan opini mereka bahwa air yang berwarna biru itu merupakan tampias sinar matahari. Sehingga warna air di dalam telaga itu berwarna biru.

Hal itu benar adanya, setiap ada teman yang bermain ke Pulau Bintan selalu minta diantarkan ke Telaga Biru dan warna telaganya ini beneran biru. Sampai pernah ada teman yang nyeletuk dan bilang kalau ada orang yang memasukan pewarna air agar air terlihat berwarna biru. Nah, rasa penasaran ini akhirnya sudah terjawab juga. Mengejar mentari di Desa Busung dan menjawab rasa penasaran ini membuat saya merasa senang dan juga berhasil mengabadikan moment foto selfie di spot-spot yang ada di Gurun Pasir, Desa Busung. Aktivitas pertualangan lancar jaya dan pulang dengan wajah penuh senyuman.

Banyuwangi yang Penuh Pesona Untuk Liburan Akhir Pekan (2)

Perjalanan menuju puncak adalah waw, naik terus selama kurang lebih 2,5 jam. Ada beberapa titik yang landai yang digunakan para pendaki untuk sekedar bernafas. Bagi para pendaki yang sudah tidak kuat untuk mendaki, bisa menyewa becak yang diangkut 2-3 warga lokal menuju puncak. Tarif yang dikenakan berkisar Rp 400 ribu untuk warga lokal dan Rp 600-800 ribu untuk warga asing. Semakin menuju puncak, udara semakin dipenuhi aroma belererang yang menyengat. Bisa dipastikan, kalau saya tidak menggunakan masker dengan filter khusus, sudah pingsan. Namun alhamdulillah, saya sampai ke puncak, yeay! Bersyukur bukan main karena nggak jadi pingsan, mulailah saya mengabadikan foto di puncak sambil menunggu matahari terbit. Namun sayangnya, Blue Fire tidak muncul pada hari tersebut dikarenakan cuaca kata seorang warga lokal. Di puncak, sobat bisa membawa oleh-oleh berupa kerajinan tangan dari belerang oleh warga lokal. Kami turun pada pukul 08.00 WIB dan sampai di Kota Banyuwangi pukul 12.00 WIB.

Hari Ketiga

Destinasi kedua yang saya kunjungi pada hari ketiga saya di Banyuwangi adalah Taman Nasional Baluran. Terletak di Kabupaten Situbondo yang bersebelahan dengan Banyuwangi, perjalanan dari Kota Banyuwangi menuju Taman Nasional Baluran memakan waktu kurang lebih 1,5 jam dengan kendaraan roda 4. Lokasinya mudah diakses, namun medan sepanjang perjalanan masuk cukup menyulitkan terutama untuk roda 2.

Mengangkat tema pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli, Taman Nasional Baluran menyuguhkan kombinasi keindahan alam berupa hutan Evergreen, padang savana Bekol yang luas dan bagus banget, dan wisata Pantai Bama yang lautnya berwarna biru cerah serta pasirnya yang putih. Sungguh sayang untuk dilewatkan apabila sobat nantinya akan berkunjung ke Banyuwangi. Kabar baik bagi kami, pada hari itu langit cerah berwarna biru sehingga membuat kami semakin bersemangat untuk menjelajahi Taman Nasional Baluran.

Setelah kami menjelajahi Taman Nasional Baluran, kami mampir ke Waduk Bajulmati yang lokasinya tidak jauh dari Taman Nasional Baluran, dan selanjutnya kembali ke Kota Banyuwangi untuk menyaksikan festival Banyuwangi Ethno Carnival 2018 yang kebetulan masih berlangsung.

Saya kembali ke Surabaya pada malam harinya via kereta Mutiara Timur. Bukan hal mudah tentunya untuk menempuh perjalanan 7 jam setelah beraktivitas penuh selama 3 hari.

Pengalaman menjelajahi Banyuwangi adalah salah satu wisata terbaik yang pernah saya dapatkan. Suguhan panorama, festival budaya, kuliner yang memanjakan lidah dan keramahan masyarakatnya sungguh adalah kombinasi yang apik untuk semakin meningkatkan sektor pariwisata di Indonesia.

Saya tiba di Stasiun Kalistail pukul 12.00 WIB siang. Berhubung siang itu terik, mulailah keroncongan perut saya. Sambil menunggu teman saya, saya makan di mie ayam depan stasiun. Ternyata tidak hanya orangnya yang ramah-ramah, Banyuwangi juga menyuguhkan harga makanan yang ramah di kantong sobat! Jadi, jangan lupa juga untuk mencicipi makanan khas Banyuwangi seperti rujak soto dan nasi sambal tempong yaa, biar dimanjakan lidahmu dengan cita rasa khas Jawa.

Hari pertama dan kedua

Destinasi yang pertama kali saya kunjungi adalah Kawah Ijen yang terkenal dengan keindahan kawah di atas awan dan Blue Fire-nya. Untuk mendapatkan momen melihat Kawah Ijen dan sunrise sensasional dari kota yang katanya Sunrise of Java, saya harus berangkat tengah malam. Jadilah saya bersama teman saya berangkat dari Kota Banyuwangi menuju Kawah Ijen pada pukul 00.00, dengan menggunakan motor. Sepanjang perjalanan, ada banyak sekali mobil yang menuju Kawah ijen. Jadi, meskipun berangkat malam-malam dengan suasana dingin, susana tidak terlalu mencekam akibat lalu lintas yang cukup ramai. Jalan menuju Kawah Ijen-pun sudah mulus dan beraspal, hanya saja ada beberapa tanjakan naik-turun.

Semakin mendekati pos pendakian, udara semakin pekat dan dingin. Pos pendakian sudah buka saat saya tiba di loket pada pukul 02.00 WIB dini hari. Sebelum medaki, pastikan sudah memiliki senter dan masker khusus untuk mencegah keracunan belerang saat mendekati puncak. Kami mulai mendaki pada pukul 02.15 WIB.