Minggu, 15 Maret 2020

Ini Destinasi yang Ditawarkan Banyuwangi Untuk Wisman Malaysia

 Banyuwangi serius ingin membidik wisatawan Malaysia. Sejumlah destinasi, paket dan rute sudah disiapkan.

Sejumlah media asal Malaysia akan melakukan Fam Trip ke Kabupaten Banyuwangi pada 13-18 Januari 2019. Di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java, harapannya media Malaysia bisa menceritakan destinasi yang mau ditawarkan ke wisman dari Negeri Jiran ini.

Sebelum mengeksplorasi destinasi, rombongan dibawa ke pendopo untuk menghadiri acara makan malam bersama Bupati Banyuwangi dan jajaran. Makan malam ini sekaligus bentuk penyambutan atau ucapan selamat datang pada tamu. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani, mengatakan Banyuwangi adalah pilihan tepat untuk melakukan Fam Trip.

"Sebab, Banyuwangi memiliki banyak destinasi keren. Destinasi yang levelnya sudah mancanegara. Salah satunya Kawah Ijen. Kawah berwarna biru yang sangat indah memiliki blue fire. Siapapun akan dibuat takjub dengan keindahan Ijen," ujarnya dalam rilis yang diterima detikTravel, Kamis (10/1/2019).

Kemegahan Gunung Ijen yang memiliki blue fire, akan mengawali perjalanan para wisman Malaysia. Setelah dari Ijen,Rombongan yang juga diikuti blogger ini, bakal melakukan tur ke sejumlah destinasi. Antara lain menyambangi Pantai Boom, Taman Sritanjung, pasar tradisional Sritanjung, Masjid Baiturrrahman, dan Kampung Batik Singotrunan. Pada kesempatan itu, rombongan juga diajak mengenal situs sejarah bekas China Town. Termasuk tentang Desa Arab Banyuwangi dan Batik Banyuwangi.

Hari berikutnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju Pantai Bangsring. Selain menikmati keindahan pantai, rombongan juga berkesempatan melihat kehidupan bawah laut, di mana lokasi merupakan pusat konservasi ikan.

Perjalanan dilanjutkan ke Antaboga. Melewati beberapa kota kecil, rombongan dimanjakan dengan pemandangan sawah yang indah, suasana pedesaan yang asri, dan area perkebunan yang menghijau. Lokasi yang dituju kali ini adalah Rogojampi, Singojuruh, Genteng, dan Glenmore. Di Antaboga sendiri, rombongan bisa menyaksikan keberadaan pusat ibadah dari lima agama.

"Destinasi yang dimiliki Banyuwangi sangat lengkap. Saya jamin para wisatawan akan betah berada di Banyuwangi. Apalagi keindahan itu dibalut dengan keramahan penduduknya," jelas wanita yang akrab disapa Kiki itu.

Tak sampai di situ, perjalanan lanjut diarahkan ke barat menuju Kalibaru. Tujuannya Air Terjun Tirto Kemanten, Waduk Sumber Salak, dan Pabrik Kakao. Ke timur, rombongan bergerak menuju Jajag dan Pulau Merah. Di sini bisa menikmati matahari terbenam dengan langit berwarna oranye. Lebih asik karena semua itu bisa dilihat sambil menikmati kopi atau teh, serta makanan ringan.

Keesokan harinya, perjalanan menuju ke selatan. Tepatnya ke Sadengan untuk mengunjungi Pura Kawitan yang merupakan Kuil Hindu Kuno. Belum cukup dengan keindahan alamnya, rombongan masih diajak berkunjung ke Pantai Trianggulasri yang masih bersih dan terjaga. Semua akan berdecak kagum dengan pemandangan indah yang menampilkan Samudra Hindia dengan pantainya yang berpasir putih.

Sementara Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung, mengatakan Fam Trip akan memperlihatkan kesiapan Banyuwangi menyambut wisatawan.

"Setelah memiliki direct flight internasional ke Malaysia, kesiapan Banyuwangi dalam menyambut wisatawan akan diuji. Dan Fam Trip ini akan menegaskan kesiapan Banyuwangi," katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, berkunjung ke Banyuwangi benar-benar penuh dengan kejutan. Rombongan bahkan bisa melihat binatang-bintang dari menara observasi. Melakukan tur trekking di Pancur untuk menjelajahi hutan, menikmati air terjun, dan menengok gua istana.

"Banyuwangi ini kaya. Wisatawan bisa menemukan paket lengkap di sini. Bukan hanya seni budaya, tapi ada juga wisata alam, wisata religi, dan sport. Semua itu tentunya juga didukung dengan sajian kuliner yang yang khas daerah Banyuwangi," jelasnya. 

Sudut Jakarta yang Bikin Kamu Makin Cinta Indonesia

Akhir pekan ini saatnya bikin kegiatan liburan yang bikin kamu makin cinta Indonesia. Yuk ke Taman Proklamasi di Jakarta, tempat negeri ini dilahirkan.

Ada dua tempat yang amat sangat ingin saya kunjungi saat berada di Ibukota alias Jakarta yaitu Museum Perumusahan Naskah Proklamasi dan Taman Proklamasi. Namun sayangnya saat kunjungan pertama saya ke Jakarta setahun yang lalu, saya tidak sempat mengunjungi dua tempat tersebut karena saya kehabisan waktu akibat kelamaan menunggu antrean untuk naik ke Puncak Monas.

Oleh karena itu, dalam kunjungan ke Jakarta kali ini saya pun bertekad untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Karena dua tempat tersebut merupakan saksi atas proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saksi atas lahirnya negara Indonesia.

Setelah selesai mengeksplor Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang ada di Jalan Imam Bonjol, saya pun segera menuju Taman Proklamasi yang berada di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat yang dulunya bernama Jalan Pegangsaan Timur No 56 yang juga merupakan rumah tinggal Bung Karno.

Taman Proklamasi adalah tempat dimana Bung Karno dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan atas merdekanya bangsa Indonesia.

Setelah meminta izin pada dua orang bapak-bapak yang berjaga di dekat gerbang masuk taman, saya pun segera menjelajahi taman bersejarah ini. Tempat dimana Bung Karno dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Saat ini di tempat Bung Karno dan Bung Hatta membacakan naskah proklamasi tersebut berdiri sebuah tugu peringatan yang diberi nama Tugu Petir. Disebut Tugu Petir karena di atas tugu ini terdapat lambang petir yang melambangkan kemerdekaan Indonesia yang cepat bagaikan petir. Di tugu tersebut pun tertulis, "Di Sinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Djam 10.00 Pagi Oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

Tak jauh dari tugu ini terdapat patung besar bapak bangsa Indonesia yaitu patung Sukarno dan Mohammad Hatta yang terbuat dari perunggu. Posisi dan gaya patung tersebut persis seperti yang terlihat di foto dokumentasi saat mereka membacakan naskah proklamasi. Di tengah-tengah dua patung proklamator tersebut terdapat  patung naskah proklamasi.

Di sisi lain taman terdapat pula satu monumen kecil berbentu obeliks. Monumen ini dibangun sebagai peringatan atas satu tahun kemerdekaan Indonesia. Sedangkan di sekeliling taman dihiasi berbagai macam bunga berwarna-warni yang membuat suasana taman menjadi asri.

Berada di taman ini membuat saya merasa mengenang perjuangan para pahlawan dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun sayangnya ada beberapa hal yang membuat taman ini terasa kurang memikat. Seperti lokasi patung Bung Karno dan Bung Hatta yang seharusnya di lokasi Tugu Petir, kemudian rumah Bung Karno yang sudah tidak ada lagi di lokasi ini.

Selain itu, taman ini pun seperti kurang mendapat perhatian penuh, karena seolah-olah hanya menjadi sebatas taman saja. Padahal tempat ini begitu bersejarah untuk republik ini. Sungguh sangat disayangkan.