Sabtu, 04 April 2020

Jadi Tempat Inap Tenaga Medis, Ini Komentar Staf Hotel

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) kembali menggaet hotel untuk menampung tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan Corona. Hotel berikutnya yang ditunjuk adalah Swiss-Belhotel Pondok Indah.
Swiss-Belhotel akan digunakan sebagai akomodasi tenaga medis dari Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan COVID-19. Hotel ini telah menyiapkan 80 kamar yang dapat menampung 150 tenaga medis. Setiap kamar difasilitasi dengan makanan, laundry pakaian, dan kebutuhan lainnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama bersama para stafnya meninjau kesiapan hotel tersebut pada Kamis (2/4). Dalam kesempatan itu ia mengapresiasi pihak hotel yang mau berkontribusi untuk memerangi Corona.

"Saya tentunya sangat mengapresiasi dukungan dari industri. Dan melihat langsung semangat serta dukungan dari staf dan seluruh pekerja hotel. Saya mengucapkan terima kasih," kata Wishnutama sebagaimana dituliskan dalam rilis yang diterima detikcom.

Selain itu, Wishnutama juga mengharapkan pihak hotel dapat memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur kesehatan.

"Dengan demikian akan memberikan rasa nyaman dan aman tidak hanya bagi tenaga medis, tapi juga para staf dan karyawan hotel," ujar Wishnutama.

Menanggapi hal tersebut, pihak Swiss-BelHotel mengaku akan memberikan pelayanan terbaik untuk para tenaga medis.

"Kami tentunya merasa bangga karena bisa ikut berkontribusi dengan menyiapkan akomodasi bagi para tenaga medis. Dimana dalam melayani mereka, kami memberikan yang terbaik dengan tetap memperhatikan SOP (Standard Operational Procedure) kesehatan," kata Assistant Regional Director-Sales and Marketing Swiss-Belhotel Billy Tjandra.

Para staf hotel juga mengaku siap melayani tenaga medis. Bagi mereka, kerja sama antara pemerintah dan hotel ini seperti hubungan timbal balik, dimana mereka juga tetap bisa bekerja setelah sebelumnya Corona membuat bisnis hotel lesu.

"Dengan kehadiran tim medis menginap ini sangat berimbas, banyak teman-teman saya yang kerja di hotel sebagian sudah dirumahkan, tapi di sini kita masih bisa bekerja berjuang untuk anak istri dan keluarga di rumah. Mudah-mudahan cepat hilang virus Corona," kata salah satu staf housekeeping, Agustian.

Staf lainnya yaitu Dian Chairunnisa yang bekerja di bagian housekeeping laundry juga siap membantu mencuci pakaian tenaga medis.

"Mungkin dari pekerjaan saya ini terlihat kecil, hanya me-laundry pakaian dari paramedis tapi saya ikut merasa bangga bisa membantu mereka. Saya di sini bisa merasa bersama menjaga Indonesia,"katanya.

Kemudian dari segi makanan, Senior Chef Swiss-Belhotel Pondok Indah, Reuben juga mengatakan timnya siap bertanggung jawab menyiapkan menu makanan bagi para tenaga medis untuk tiga kali setiap harinya. Mereka akan menyiapkan menu makanan seimbang yang terdiri atas karbohidrat, protein, dan serat.

"Menu yang kita olah tentu berbeda, karena mereka (tenaga medis) harus memiliki imunitas yang baik dimana salah satunya ditunjang melalui makanan," ujar Reuben.

Dengan adanya kerja sama ini, kedua belah pihak berharap dapat membantu penanganan COVID-19. Hingga Kamis lalu tercatat ada 1.790 kasus positif dengan 170 orang meninggal dunia dan 112 sembuh di Indonesia.

Ketika Netizen Dibuat Bingung Boleh Mudik Lebaran atau Tidak

Pernyataan Istana Kepresidenan yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar namun kemudian mengizinkan mudik di tengah wabah virus Corona menjadi polemik. Warganet dibuat bingung.
Juru bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi), Fadjroel Rachman, dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2020) mengatakan warga diperbolehkan mudik pada Lebaran Idul Fitri tahun ini. Namun, Istana meminta para pemudik itu melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

"Mudik boleh tapi berstatus orang dalam pemantauan. Presiden Joko Widodo menegaskan tidak ada larangan resmi bagi pemudik Lebaran Idul Fitri 2020 M/1441 H. Namun, pemudik wajib isolasi mandiri selama 14 hari dan berstatus orang dalam pemantauan (ODP) sesuai protokol kesehatan (WHO) yang diawasi oleh pemerintah daerah masing-masing," kata Fadjroel.

Tapi, hanya jeda sebentar, Mensesneg Pratikno meluruskan pernyataan Fadjroel itu. Pratikno menegaskan pemerintah mengajak masyarakat untuk tak mudik.

"Yang benar adalah pemerintah mengajak dan berupaya keras agar masyarakat tidak perlu mudik," kata Pratikno.

Pernyataan itu pun menimbulkan kebingungan bagi netizen. Sebab, pemerintah sedang mengampanyekan pembatasan sosial berskala besar untuk mencegah meluasnya virus Corona.

Merujuk tradisi mudik lebaran yang sudah-sudah, periode tersebut menjadi ajang berkumpul keluarga besar. Biasanya, mereka akan sowan kepada sesepuh di dalam silsilah keluarga. Nah, berdasarkan data yang ada, orang-orang lanjut usia itulah yang memiliki risiko tinggi terjangkit virus Corona.

Pemilik akun Twitter Nadirsyan Hosen mengajukan pertanyaan balik atas keputusan Istana itu.

Ada yg bisa jelasin lebih jauh:

1. Ada pembatasan sosial berskala besar, tapi boleh mudik. Gimana? Emang mudik gak rame2?

2. Boeh mudik tapi isolasi mandiri 14 hari. Jadi gak ketemu orang dong?

3. Boleh mudik, tapi para tokoh diminta sosialisasi agar warga gak mudik. Lho kok?

Akun Twitter @KuntoAjiW juga turut berkomentar. Dia membandingkan dengan larangan salat Jumat yang bisa dilakukan di masjid dekat tempat tinggal, tak perlu pergi meninggalkan area rumah seperti salat Jumat.

"Udah nahan diri gak Jumatan, malah mudik dibolehin."

@pangeransiahaan juga dibuat bingung.

"Pemerintah menghimbau orang agar tidak mudik, tapi tidak melarang kalau ada yang mudik."

Lagipula, sejumlah transportasi umum telah dibatasi. PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah memangkas 28 kereta api jarak jauh keberangkatan dari Stasiun Gambir, Pasar Senen, dan Jakarta Kota. Memang sih, pembatalan itu digulirkan sebelum tanggal lebaran, yakni 1 April hingga 1 Mei 2020.

Begitu pula dengan Pelni yang cuma melayani 80persen kuota dibandingkan biasanya. Itu pun dengan prioritas tenaga medis dan logistik kesehatan dan pangan.

Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia juga telah mengkritik pernyataan tak tegas pemerintah itu.

"Katakanlah sekarang dianggap ODP, diisolasi. Bagaimana kemudian kita melakukan atau mengisolasikannya dan siapa yang kemudian akhirnya menjamin dalam 1 kurun waktu yang dia tidak akan keluar ke mana-mana, atau tidak akan kontak dengan keluarga dengan sekitar di lokasi daerah dia balik," ujar Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Mohammad Adib Khumaidi, saat dihubungi detikcom.

Kalau detikers, bagaimana pendapat kalian?