Sabtu, 04 April 2020

Suhu di Antartika Kian Panas

Para ilmuwan kembali mencatat gelombang panas pertama di Antartika. Lokasi kejadiannya di sebuah pangkalan penelitian di Antartika Timur.
Diberitakan CNN, Jumat (3/4/2020), ilmuwan iklim memperingatkan bahwa suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti itu dapat berdampak pada hewan dan tumbuhan di wilayah tersebut.

Para peneliti dari Program Antartika Australia mencatat gelombang panas di Stasiun Penelitian Casey yang terletak di bagian utara Semenanjung Bailey di Pantai Budd. Pencatatan gelombang panas terjadi antara tanggal 23 dan 26 Januari, jatuh pada musim panas di kawasan itu.

Selama tiga hari, para ahli menemukan bahwa daerah itu mengalami suhu tertingginya. Memecahkan rekor, yakni bersuhu 9,2 derajat Celcius di Casey pada 24 Januari.

Selama tiga hari, suhu minimum naik di atas nol, dan suhu maksimum mencapai di atas 7,5 derajat Celcius.

"Gelombang panas terjadi selama tiga hari berturut-turut dengan suhu maksimum dan minimum ekstrem," kata ahli biologi, Dr Sharon Robinson dalam jurnal Global Change Biology.

Para ilmuwan mengatakan bahwa suhu di atas nol mempercepat pencairan es. Wilayah Antartika memanas dengan cepat karena polusi dan gas rumah kaca.

Pemanasan yang diamati di daerah tersebut juga memiliki konsekuensi global yang serius. Utamanya yakni bagi jutaan orang yang tinggal di pesisir, rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Ekolog Antartika, Dr Dana Bergstrom memperingatkan bahwa musim panas yang menghangat di sana dapat mengakibatkan gangguan jangka panjang pada populasi lokal, komunitas, dan menimbulkan ancaman bagi ekosistem yang lebih luas.

"Banjir lelehan air dari es memang dapat menyediakan air tambahan untuk ekosistem gurun di Antartika. Itu mengarah pada peningkatan pertumbuhan dan reproduksi lumut, mikroba, dan invertebrata," kata dia.

"Namun banjir lelehan es yang berlebihan dapat mematikan tanaman dan mengubah komposisi invertebrata dan mikrobanya," imbuh dia.

"Jika es mencair sepenuhnya di awal musim, maka ekosistem itu akan mengalami kekeringan selama sisa musim berikutnya," tegas Bergstrom memperingatkan.

Rekor suhu telah dicatat di seluruh daratan Antartika selama musim panas. Pada bulan Februari, para ilmuwan di stasiun penelitian Esperanza Argentina mencatat suhu hampir 18,3 derajat Celcius, itu di ujung utara Antartika dan itulah suhu terpanas yang pernah dicatat di Antartika.

Intip Fasilitas 4 Hotel untuk Tenaga Medis Corona

 Kemenparekraf bekerja sama dengan 4 hotel milik Accor Hotels untuk tampung tenaga medis yang menangani Corona. Seperti apa fasilitas hotel-hotel ini?
Setelah sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menetapkan 4 hotel BUMD dialihfungsikan untuk menampung tenaga medis Corona, kini giliran pemerintah pusat yang melakukan upaya serupa.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng perusahaan bisnis hotel, Accor Hotels, untuk menyediakan hunian yang layak bagi para tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan Corona.

Saat ini ada empat hotel yang siap digunakan yaitu Novotel Cikini, Mercure Cikini, Ibis Styles Jakarta Sunter, dan Ibis Senen.

Akhir pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama telah meninjau kesiapan salah satu hotel yakni Novotel Cikini. Hotel yang menampung tenaga medis itu akan dilengkapi dengan disinfection chamber, sistem pengukuran suhu tubuh, dan hand sanitizer di area lobi. Selain itu, tenaga medis juga akan mendapatkan makanan, layanan laundry, dan bantuan para staf terlatih sesuai anjuran WHO.

Selain sejumlah fasilitas itu, hotel-hotel ini juga punya beragam fasilitas lainnya. Dihimpun detikcom dari situs resmi hotel, inilah ulasannya.

Ekuador Kehilangan Air Terjun Terbesarnya

Air terjun terbesar di Ekuador akan lenyap. Sebab, ada sebuah lubang yang menelan sebagian sumber airnya. Adalah air terjun San Rafael namanya. Berada di Sungai Coca, destinasi wisata ini menjadi daya tarik utama bagi negara itu.
Menurut NASA, air terjun San Rafael mampu menarik puluhan ribu orang setiap tahun. Aliran airnya jatuh 45 meter ke lubang seperti kawah di sisi sebelahnya.

Sekarang, air terjun ikonik hilang, digantikan oleh tiga aliran, kata NASA. Semua perjalanan ke destinasi air terjun San Rafael telah ditutup dan sudah tidak lagi informasi di situs resmi pariwisata negara itu.

Para ahli di Kementerian Lingkungan Hidup (MOE) di Ekuador percaya peristiwa itu terjadi pada awal Februari. Mulai hilang di hulu, dan pola aliran sungai saat ini beralih menjadi di bawah tanah.

Tidak lama kemudian, para ahli di MOE mengatakan bahwa mereka telah memeriksa air terjun. Dalam laporannya, ada kemungkinan merusak aliran sungai dan mempertahankan air terjun.

Namun, mereka tidak dapat menentukan penyebab pasti hilangnya aliran sungai itu. Ada beberapa perbedaan mengenai apakah itu fenomena alam atau disebabkan oleh konstruksi hydroplant di sekitarnya.

Kementerian Pariwisata tidak berencana merekonstruksi ulang air terjun itu, kata NASA.

Suhu di Antartika Kian Panas

Para ilmuwan kembali mencatat gelombang panas pertama di Antartika. Lokasi kejadiannya di sebuah pangkalan penelitian di Antartika Timur.
Diberitakan CNN, Jumat (3/4/2020), ilmuwan iklim memperingatkan bahwa suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti itu dapat berdampak pada hewan dan tumbuhan di wilayah tersebut.

Para peneliti dari Program Antartika Australia mencatat gelombang panas di Stasiun Penelitian Casey yang terletak di bagian utara Semenanjung Bailey di Pantai Budd. Pencatatan gelombang panas terjadi antara tanggal 23 dan 26 Januari, jatuh pada musim panas di kawasan itu.

Selama tiga hari, para ahli menemukan bahwa daerah itu mengalami suhu tertingginya. Memecahkan rekor, yakni bersuhu 9,2 derajat Celcius di Casey pada 24 Januari.

Selama tiga hari, suhu minimum naik di atas nol, dan suhu maksimum mencapai di atas 7,5 derajat Celcius.

"Gelombang panas terjadi selama tiga hari berturut-turut dengan suhu maksimum dan minimum ekstrem," kata ahli biologi, Dr Sharon Robinson dalam jurnal Global Change Biology.

Para ilmuwan mengatakan bahwa suhu di atas nol mempercepat pencairan es. Wilayah Antartika memanas dengan cepat karena polusi dan gas rumah kaca.

Pemanasan yang diamati di daerah tersebut juga memiliki konsekuensi global yang serius. Utamanya yakni bagi jutaan orang yang tinggal di pesisir, rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Ekolog Antartika, Dr Dana Bergstrom memperingatkan bahwa musim panas yang menghangat di sana dapat mengakibatkan gangguan jangka panjang pada populasi lokal, komunitas, dan menimbulkan ancaman bagi ekosistem yang lebih luas.

"Banjir lelehan air dari es memang dapat menyediakan air tambahan untuk ekosistem gurun di Antartika. Itu mengarah pada peningkatan pertumbuhan dan reproduksi lumut, mikroba, dan invertebrata," kata dia.

"Namun banjir lelehan es yang berlebihan dapat mematikan tanaman dan mengubah komposisi invertebrata dan mikrobanya," imbuh dia.

"Jika es mencair sepenuhnya di awal musim, maka ekosistem itu akan mengalami kekeringan selama sisa musim berikutnya," tegas Bergstrom memperingatkan.

Rekor suhu telah dicatat di seluruh daratan Antartika selama musim panas. Pada bulan Februari, para ilmuwan di stasiun penelitian Esperanza Argentina mencatat suhu hampir 18,3 derajat Celcius, itu di ujung utara Antartika dan itulah suhu terpanas yang pernah dicatat di Antartika.