Rabu, 08 April 2020

Terungkap! 430 Ribu Orang Terbang dari China ke AS Sejak Kasus Pertama

 Mengapa ada banyak warga Amerika yang terkena COVID-19? Rupanya, sejak kasus positif Corona pertama di sana, ada 430 ribu orang yang terbang dari China ke AS.

Sebanyak 430 ribu orang tercatat terbang langsung dari China ke Amerika Serikat sejak China mengumumkan adanya kejadian outbreak virus Corona pertama di negaranya. Data tersebut didapat dari laporan Imigrasi yang dirilis pada Sabtu (4/4) kemarin.

Dikumpulkan detikTravel dari beberapa sumber, Selasa (7/4/2020), jumlah sebanyak itu belum termasuk mereka yang memakai penerbangan transit dari China ke negara lainnya. Saat itu bertepatan dengan momen Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek.

Presiden AS Donald Trump baru mengeluarkan larangan masuk bagi warga China pada tanggal 31 Januari silam, sehari setelah World Health Organization (WHO) menetapkan Corona sebagai pandemi global.

Meski Presiden Trump sudah memberlakukan travel ban, tetapi masih ada sekitar 40 ribu orang yang tiba di Amerika Serikat pada tanggal 2 Februari. Jumlah sebanyak itu datang dari 279 penerbangan dari China ke AS.

Orang-orang ini mendarat di kota-kota seperti Los Angeles, San Fransisco, New York, Chicago, Seattle, Newark hingga Detroit. Itulah sebabnya penyebaran virus Corona sangat merata hampir di semua wilayah Amerika Serikat.

Belum lagi, saat itu screening penumpang belum seketat sekarang, sehingga mereka bisa melenggang bebas di Amerika, tanpa perlu menjalani pemeriksaan suhu atau mengisi form kesehatan.

Sampai saat ini, Amerika Serikat masih menduduki peringkat pertama sebagai negara terbanyak yang penduduknya tertular virus Corona. Ada kurang lebih 367 ribu orang yang dinyatakan positif Corona di AS dengan jumlah korban jiwa mencapai hampir 11 ribuan orang.

Di Bali Hampir 20.000 Orang Dirumahkan, 480 Orang Kena PHK

Jumlah orang terjangkit virus Corona di Indonesia semakin bertambah setiap hari. Hal ini membuat sejumlah perusahaan terkena imbas, termasuk perusahaan di Bali yang terpaksa merumahkan hingga mem-PHK karyawan. Apalagi Bali sangat mengandalkan pariwisatanya.
Data yang diperoleh detikcom dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bali (Disnaker) sampai hari ini, Selasa (7/4/2020), ada 19.124 orang yang dirumahkan dan 480 orang di-PHK. Data ini masih terus bergerak atau terus bertambah.

"Datanya sedang bergerak sampai tadi pagi pekerja formal yg dirumahkan 19.124 orang datanya sedang bergerak sampai tadi pagi pekerja formal yang dirumahkan. Yang PHK 480 orang semua datanya masih bergerak sebagai sifatnya sementara," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sumber Daya Mineral Bali Ida Bagus Ngurah Arda saat dihubungi, Selasa (7/4/2020).

Bagi pekerja atau karyawan yang dirumahkan, menurut Arda, belum diketahui sampai kapan. Keputusan masih menunggu perkembangan virus Corona atau COVID-19.

"Tergantung kesepakatan mereka, perkembangan COVID-19," ungkapnya.

Sementara itu, karyawan yang dirumahkan ini merupakan pekerja formal. Termasuk karyawan hotel yang ada di Bali.

"Pekerja formal termasuk mereka yang bekerja di hotel," jelas Arda.

Warga China Banjiri Tempat Wisata, Ahli Takut Ada Gelombang Ketiga Corona

Otoritas kesehatan setempat masih memberi peringatan bahaya penyebaran virus Corona selama libur akhir pekan itu. Pada pukul 07.48, pengelola wisata Gunung Huangshan, Provinsi Anhui telah menutup gerbangnya karena sudah ada 20.000 wisatawan di dalamnya di hari itu.
Di tempat lain, di Shanghai Bund juga dipenuhi turis setelah sepi selama berminggu-minggu. Restoran-restoran tutup lebih cepat dan beberapa di antaranya memerlukan reservasi.

Hal serupa juga terjadi di ibu kota Beijing. Warga lokal berbondong-bondong ke taman kota dan ruang terbuka setelah berdiam diri selama lebih tiga bulan di rumah.

Virus Corona telah menginfeksi lebih dari satu juta orang dari berbagai negara. Ribuan kasus baru menginfeksi orang China setiap hari, namun dalam beberapa minggu terkahir tingkat infeksi telah melambat secara signifikan.

Pada hari Senin, China melaporkan 39 kasus baru, satu di antaranya adalah kasus impor. Hingga saat ini, China telah mencatat 82.641 kasus dan 3.335 kematian.

Ketika pemerintah perlahan-lahan melonggarkan pembatasan, para ahli kesehatan China mendesak masyarakat untuk terus hati-hati. Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, mengatakan kepada Health Times pada hari Kamis bahwa China belum melihat akhir dari pandemi COVID-19.

"Corona di China tidak mendekati akhir, tapi telah memasuki tahap baru. Dengan pandemi global yang masih berkobar, China belum mencapai akhir," katanya.

Dengan jumlah infeksi baru menurun, pemerintah secara bertahap menghidupkan kembali industri manufaktur dan jasa. Dalam beberapa minggu terakhir, ada tanda-tanda bahwa pemerintah khawatir akan memicu gelombang kedua infeksi di negaranya jika membuka terlalu cepat.

Rencana untuk membuka kembali bioskop dibatalkan pada akhir Maret, kurang dari dua minggu setelah mereka diminta untuk membuka kembali. Banyak tempat wisata di Shanghai buka selama 10 hari sebelum ditutup kembali pada 31 Maret.

Foto-foto wisatawan yang berlibur ke Gunung Kuning menjadi sorotan dan mendapat sorotan dari Partai Komunis, diperingatkan agar jangan berkumpul. Setelah dikritik dari sana-sini, Huangshan mengumumkan menutup pintu gerbangnya.

Gelombang ketiga virus Corona
Kekhawatiran tentang cepatnya kelonggaran pembatasan di China telah menyebabkan para ahli dan otoritas Hong Kong memperingatkan kemungkinan gelombang ketiga infeksi Corona di kota itu.

Ahli epidemiologi Hong Kong, Yuen Kwok-yung, mengatakan bahwa mungkin ada gelombang baru infeksi Corona di China daratan. Itu di belakang infeksi impor dari Eropa dan AS.

"Jadi di Hong Kong, kita mungkin akan diserang gelombang ketiga yang datang dari daratan setelah gelombang kedua. Epidemi masih serius di masyarakat. Pada tahap ini, masih belum optimis. Yang paling mengkhawatirkan adalah pengujian yang tidak memadai pada pasien dengan gejala ringan, yang mencegah kita memutus rantai penularan," katanya.

Pusat keuangan global masih berusaha menahan gelombang kedua virus Corona yang berasal dari kasus impor. Itu berbarengan dengan kembali para ekspatriat dari Eropa dan Inggris yang menyebabkan wabah baru pada akhir Maret.

Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, jumlah infeksi lokal telah meningkat dari 317 menjadi hampir 900.

Dalam pertemuan Dewan Eksekutif Hong Kong, Bernard Chan, mengatakan bahwa pemerintah kota itu memiliki langkah-langkah yang lebih tegas untuk mengendalikan virus Corona. Jika diperlukan mereka akan meminta restoran hanya melayani take away atau lockdown kota meski berimbas pada kepanikan atau lebih buruk.