Rabu, 08 April 2020

Warga China Banjiri Tempat Wisata, Ahli Takut Ada Gelombang Ketiga Corona

Otoritas kesehatan setempat masih memberi peringatan bahaya penyebaran virus Corona selama libur akhir pekan itu. Pada pukul 07.48, pengelola wisata Gunung Huangshan, Provinsi Anhui telah menutup gerbangnya karena sudah ada 20.000 wisatawan di dalamnya di hari itu.
Di tempat lain, di Shanghai Bund juga dipenuhi turis setelah sepi selama berminggu-minggu. Restoran-restoran tutup lebih cepat dan beberapa di antaranya memerlukan reservasi.

Hal serupa juga terjadi di ibu kota Beijing. Warga lokal berbondong-bondong ke taman kota dan ruang terbuka setelah berdiam diri selama lebih tiga bulan di rumah.

Virus Corona telah menginfeksi lebih dari satu juta orang dari berbagai negara. Ribuan kasus baru menginfeksi orang China setiap hari, namun dalam beberapa minggu terkahir tingkat infeksi telah melambat secara signifikan.

Pada hari Senin, China melaporkan 39 kasus baru, satu di antaranya adalah kasus impor. Hingga saat ini, China telah mencatat 82.641 kasus dan 3.335 kematian.

Ketika pemerintah perlahan-lahan melonggarkan pembatasan, para ahli kesehatan China mendesak masyarakat untuk terus hati-hati. Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, mengatakan kepada Health Times pada hari Kamis bahwa China belum melihat akhir dari pandemi COVID-19.

"Corona di China tidak mendekati akhir, tapi telah memasuki tahap baru. Dengan pandemi global yang masih berkobar, China belum mencapai akhir," katanya.

Dengan jumlah infeksi baru menurun, pemerintah secara bertahap menghidupkan kembali industri manufaktur dan jasa. Dalam beberapa minggu terakhir, ada tanda-tanda bahwa pemerintah khawatir akan memicu gelombang kedua infeksi di negaranya jika membuka terlalu cepat.

Rencana untuk membuka kembali bioskop dibatalkan pada akhir Maret, kurang dari dua minggu setelah mereka diminta untuk membuka kembali. Banyak tempat wisata di Shanghai buka selama 10 hari sebelum ditutup kembali pada 31 Maret.

Foto-foto wisatawan yang berlibur ke Gunung Kuning menjadi sorotan dan mendapat sorotan dari Partai Komunis, diperingatkan agar jangan berkumpul. Setelah dikritik dari sana-sini, Huangshan mengumumkan menutup pintu gerbangnya.

Gelombang ketiga virus Corona
Kekhawatiran tentang cepatnya kelonggaran pembatasan di China telah menyebabkan para ahli dan otoritas Hong Kong memperingatkan kemungkinan gelombang ketiga infeksi Corona di kota itu.

Ahli epidemiologi Hong Kong, Yuen Kwok-yung, mengatakan bahwa mungkin ada gelombang baru infeksi Corona di China daratan. Itu di belakang infeksi impor dari Eropa dan AS.

"Jadi di Hong Kong, kita mungkin akan diserang gelombang ketiga yang datang dari daratan setelah gelombang kedua. Epidemi masih serius di masyarakat. Pada tahap ini, masih belum optimis. Yang paling mengkhawatirkan adalah pengujian yang tidak memadai pada pasien dengan gejala ringan, yang mencegah kita memutus rantai penularan," katanya.

Pusat keuangan global masih berusaha menahan gelombang kedua virus Corona yang berasal dari kasus impor. Itu berbarengan dengan kembali para ekspatriat dari Eropa dan Inggris yang menyebabkan wabah baru pada akhir Maret.

Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, jumlah infeksi lokal telah meningkat dari 317 menjadi hampir 900.

Dalam pertemuan Dewan Eksekutif Hong Kong, Bernard Chan, mengatakan bahwa pemerintah kota itu memiliki langkah-langkah yang lebih tegas untuk mengendalikan virus Corona. Jika diperlukan mereka akan meminta restoran hanya melayani take away atau lockdown kota meski berimbas pada kepanikan atau lebih buruk.

Wishnutama Alihkan Dana Kementerian Rp 500 Miliar untuk Hadang Corona

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) turut merealokasikan dana untuk mendukung pemulihan dari wabah virus Corona. Nilainya sebesar Rp 500 miliar, untuk apa saja?
Menraprekarf Wishnutama Kusubandio menentukan sejumlah kebijakan di saat wabah virus Corona dan disetujui oleh DPR RI. Salah satunya, dengan mengalihkan dana untuk menangani virus tersebut.

"Kebetulan hari ini ada perubahan anggaran di seluruh kementerian untuk menghadapi COVID-19. Setelah kami sampaikan kepada DPR, dana yang dialihkan mencapai Rp 500 miliar," kata Wishnutama dalam konferensi pers virtual, Selasa (7/4/2020).

Dana tersebut dialokasikan antara lain untuk mendukung tenaga medis. Kemenparekraf menggandeng sejumlah hotel dan provider transportasi.

"Kemarin kami bersama deputi mengalokasikan dana Rp 500 miliar itu untuk wabah COVID-19 antara lain adalah pendukungan kerja sama hotel, transportasi bagi tenaga medis," ujar Sekretaris Menparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani.

Detail besaran dan pembagian kepada kebutuhan terkait virus Corona akan digodok lebih lanjut.

Sebelumnya, Kemenparekraf telah menyetujui kerja sama dengan Accor Group untuk menyediakan tempat istirahat bagi tenaga medis dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain itu, Kemenparekraf berkolaborasi dengan Bluebird, Panorama, Antavaya, dan Whitehorse sebagai penyedia transportasi.

Wishnutama bilang fasilitas itu bertujuan agar tenaga medis dan Gugus Tugas bisa lebih dekat dengan rumah sakit. Di tahap awal, ada 615 kamar yang disesuaikan dengan kebutuhan empat rumah sakit, yakni RSCM, RSPAD, RS Sulianto Saroso, dan RS Persahabatan.

Wishnutama menyebut potensi kerja sama dengan hotel lain cukup terbuka. Asalkan, prosedur dan persyaratan terpenuhi. Beberapa syarat itu, antara lain letak hotel di sekitar rumah sakit rujukan, serta hotel tidak melakukan PHK terhadap karyawan sebagai dampak pandemi Covid-19.

Warga China Banjiri Tempat Wisata, Ahli Takut Ada Gelombang Ketiga Corona

Otoritas kesehatan setempat masih memberi peringatan bahaya penyebaran virus Corona selama libur akhir pekan itu. Pada pukul 07.48, pengelola wisata Gunung Huangshan, Provinsi Anhui telah menutup gerbangnya karena sudah ada 20.000 wisatawan di dalamnya di hari itu.
Di tempat lain, di Shanghai Bund juga dipenuhi turis setelah sepi selama berminggu-minggu. Restoran-restoran tutup lebih cepat dan beberapa di antaranya memerlukan reservasi.

Hal serupa juga terjadi di ibu kota Beijing. Warga lokal berbondong-bondong ke taman kota dan ruang terbuka setelah berdiam diri selama lebih tiga bulan di rumah.

Virus Corona telah menginfeksi lebih dari satu juta orang dari berbagai negara. Ribuan kasus baru menginfeksi orang China setiap hari, namun dalam beberapa minggu terkahir tingkat infeksi telah melambat secara signifikan.

Pada hari Senin, China melaporkan 39 kasus baru, satu di antaranya adalah kasus impor. Hingga saat ini, China telah mencatat 82.641 kasus dan 3.335 kematian.

Ketika pemerintah perlahan-lahan melonggarkan pembatasan, para ahli kesehatan China mendesak masyarakat untuk terus hati-hati. Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, mengatakan kepada Health Times pada hari Kamis bahwa China belum melihat akhir dari pandemi COVID-19.

"Corona di China tidak mendekati akhir, tapi telah memasuki tahap baru. Dengan pandemi global yang masih berkobar, China belum mencapai akhir," katanya.

Dengan jumlah infeksi baru menurun, pemerintah secara bertahap menghidupkan kembali industri manufaktur dan jasa. Dalam beberapa minggu terakhir, ada tanda-tanda bahwa pemerintah khawatir akan memicu gelombang kedua infeksi di negaranya jika membuka terlalu cepat.

Rencana untuk membuka kembali bioskop dibatalkan pada akhir Maret, kurang dari dua minggu setelah mereka diminta untuk membuka kembali. Banyak tempat wisata di Shanghai buka selama 10 hari sebelum ditutup kembali pada 31 Maret.

Foto-foto wisatawan yang berlibur ke Gunung Kuning menjadi sorotan dan mendapat sorotan dari Partai Komunis, diperingatkan agar jangan berkumpul. Setelah dikritik dari sana-sini, Huangshan mengumumkan menutup pintu gerbangnya.