Jumat, 10 April 2020

Cuti Bersama Lebaran Digeser ke Akhir Tahun

Pemerintah kembali merevisi Cuti Bersama 2020. Jika sebelumnya cuti bersama Lebaran 2020 ditambah, maka kini digeser ke akhir tahun.

Keputusan revisi cuti bersama 2020 ini diambil dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin Menko PMK Muhadjir Effendy. RTM yang dilakukan melalui video conference ini diikuti oleh: Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Menpan RB Tjahjo Kumolo, Menaker Ida Fauziyah, Menag Fachrur Razi, Menparekraf Wisnutama, Plt Sekjen Kemendagri Muhammad Hudori, Kapolri Idham Aziz, dan perwakilan kementerian/lembaga terkait lainnya.

Hasilnya, ada pergeseran cuti bersama. Berikut keputusan selengkapnya:

- Libur Hari Raya Idul Fitri tetap pada tanggal 24-25 Mei 2020.

- Tambahan Cuti Bersama Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 28 Oktober 2020.

- Tambahan Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri semula sejak tanggal 26-29 Mei 2020, dicabut dan digeser ke akhir tahun pada tanggal 28-31 Desember 2020.

Dengan demikian, kalender Libur dan Cuti Bersama 2020 menjadi sebagai berikut:

Libur Nasional

1. 1 Januari, Tahun Baru 2020 Masehi
2. 25 Januari, Tahun Baru Imlek 2571 Kongzili
3. 22 Maret, Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW
4. 25 Maret, Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1942
5. 10 April, Wafat Isa Al Masih
6. 1 Mei, Hari Buruh Internasional
7. 7 Mei, Hari Raya Waisak 2564
8. 21 Mei, Kenaikan Isa Al Masih
9. 24-25 Mei, Hari Raya Idul Fitri 1441 H
10. 1 Juni, Hari Lahir Pancasila
11. 31 Juli, Hari Raya Idul Adha 1441 H
12. 17 Agustus, Hari Kemerdekaan RI
13. 20 Agustus, Tahun Baru Islam 1442 H
14. 29 Oktober, Maulid Nabi Muhammad SAW
15. 25 Desember, Hari Raya Natal

Cuti Bersama

1. 22 Mei, Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri.
2. 21 Agustus, Cuti Bersama Tahun Baru Hijriah.
3. 28 dan 30 Oktober, Cuti Bersama Maulid Nabi.
4. 24 Desember, Cuti Bersama untuk Hari Raya Natal.
5. 28-31 Desember, Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri yang digeser.

Kisah Turis Terdampar di Samping Krematorium Saat Phuket Lockdown

Kawasan Phuket Thailand sudah dinyatakan lockdown dan semua hotel ditutup. Sayangnya ada 3 turis terdampar yang tinggal di samping krematorium.

Turis tersebut merupakan warga Rusia yang sedang liburan di Phuket waktu Phuket mengumumkan lockdown karena pandemi Corona.

Ada 20.000 turis Rusia yang buru-buru pulang. Namun 3 di antaranya ketinggalan karena gangguan perjalanan.

Karena tak ada hotel yang beroperasi, 3 turis ini akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam tenda di sebuah kuil, tepat di sebelah krematorium.

Krematorium adalah tempat pembakaran mayat. Mereka pasrah karena tak tahu lagi mau ke mana. Meski terdampar namun mereka meminta izin dari warga setempat.

Selama seminggu lebih, para turis terdampar ini dibantu oleh warga dan biksu. Mereka diberi makan dan diperingatkan untuk tidak keluar pada jam malam.

"Semua orang membantu sebanyak mungkin. Ada banyak makanan yang disumbangkan. Mereka juga mematuhi jam malam," ujar Winai Sae-lew, Kepala Desa Moo 4 dari Distrik Mia Khao.

РИА Новости
@rianru
Буддистские монахи накормили российских туристов, застрявших на таиландском острове Самуи из-за коронавируса

Lihat gambar di TwitterLihat gambar di Twitter
284
22.48 - 6 Apr 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
134 orang memperbincangkan tentang ini

Turis-turis itu akhirnya didatangi oleh petugas saat inspeksi. Mereka memberikan identitas mereka, Alexei Galiev, Nikolao SHarov dan Sofia Sharova.

Mereka harusnya pulang tanggal 25 Maret lalu. Namun penerbangan mereka dibatalkan karena pencegahan penyebaran Corona.

Sudah terdampar dan tak bisa pulang. Turis-turis ini sudah pasrah. Melihat ini, seorang pemilik resor di dekat situ menolong mereka.

"Kami hanya membantu mereka karena nilai-nilai dasar kemanusiaan," ujar sang pemilik resor.

Tak hanya itu, sang pemilik resor juga tak mau menyebutkan tempat usahanya. Ia tak mau menjadikan ini suatu kesempatan.

"Setidaknya tidur di sini (resor) lebih baik dari pada di sebelah tempat pembakaran mayat," ungkapnya.

Saat ini, 3 turis tersebut tinggal gratis di resor. Kebaikan hati pemilik resor kiranya bisa menginspirasi detikers untuk saling membantu di tengah wabah Corona, ya.

Kecemasan WNI Setelah Virus Corona Mewabah di California (2)

Bahkan, lanjut dia, Departemen Kesehatan California telah mengimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah termasuk berbelanja pada satu hingga dua minggu kedepan. Jika terpaksa harus keluar rumah masyarakat diimbau untuk menggunakan masker. Hal ini pun menyusul meningkatnya angka COVID-19 di negara bagian California.

"Memang tidak banyak yang bisa kita perbuat selain tetap berdiam diri di rumah untuk membantu mengurangi tingkat penyebaran COVID-19. Hari ini adalah hari ke-15 saya berdiam diri di rumah. Selama seminggu setidaknya saya keluar hanya sekali-dua kali saja," ujar Andini.

"Saya keluar hanya untuk bekerja separuh waktu, hanya empat jam dan hanya masuk seminggu sekali, bergantian dengan teman-teman lainnya, dan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jika pun terpaksa harus keluar rumah sedemikian mungkin kita menggunakan masker dan juga menjaga jarak antar satu dengan yang lainnya setidaknya dua meter," dia menjelaskan.

"Perasaan bosan kerap kali menghampiri, inilah yang pada akhirnya memuat saya justru rajin saat berada di rumah. Dimulai dari membuat masakan Indonesia agar tetap terasa seperti di Tanah Air, video call bersama teman atau keluarga yang juga bosan di rumah mereka, bahkan saya pun mencoba kegiatan baru seperti melukis. Apapun saya lakukan untuk menghilangkan rasa bosan dan agar tetap tenang," dia menjelaskan.

Andini dan teman-temannya juga mulai mengerem hasrat untuk kongkow-kongkow di luar rumah. Dia berharap wabah virus Corona itu segera berakhir.

"Kini, saya dan teman-teman saya pun sudah mulai membiasakan diri di rumah. Yang sebelumnya hampir setiap akhir pekan keluar rumah mencicipi tempat makan baru atau setiap pulang kerja mencari hiburan di luar rumah, kini kita hanya bisa berdiam diri tempat masing-masing," ujar dia.

"Beruntung saya dan kedua teman saya tinggal di gedung yang sama. Jadi, sesekali kita janjian di rooftop untuk sekedar bercerita namun tetap menjaga jarak satu sama lain," ujar perempuan yang pernah bergabung dengan media online di ibu kota itu.

"Semoga pandemic COVID-19 ini adalah cara dunia untuk 'membersihkan tubuhnya', karena terlalu lama kita abai akan keseimbangan alam beserta isinya. Semoga kalian semua tetap sehat dimana pun kalian berada," ujar Andini.

"Siapa yang menyangka di timeline kehidupan ini kita bisa mengalami pademik yang luar biasa? Dulu saya selalu berpikir bahwa zombie apocalypse suatu hari nanti akan terjadi, dan saya aware akan hal ini. Tapi, konyolnya saya lengah dengan penyebaran virus yang lebih nyata akan terjadi," dia menambahkan.

Andini Safitri, salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) di California, berbagi pengalaman saat negara itu terkena wabah virus Corona. Seperti apa situasi di sana?
Andini tinggal di Koreatown, California. Dia bilang kawasan itu sepi kini. Tak ada lagi mobil lalu-lalang, bahkan barbeque yang menjadi salah satu aktivitas lazim di area itu tak lagi ada.

Ya, sejak virus Corona dinyatakan sebagai wabah oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), Gubernur California, Gavin Newsom, langsung mengimbau warga untuk tinggal di rumah. Dia menjadi gubernur pertama di antara pemimpin negara bagian lainnya di AS yang menyerukan imbauan itu.

"Itu menyusul keputusan Gubernur Gavin Newsom yang mengimbau warga agar tetap diam di rumah terkait perkembangan Coronavirus atau COVID-19 di Amerika Serikat," kata Andini.

"Sejak itu, pemerintah setempat mengimbau masyarakat di California untuk tidak keluar rumah, kecuali untuk memenuhi kebutuhan esensial seperti halnya ke rumah sakit dan membeli kebutuhan rumah tangga," dia menambahkan.

Berbagai tempat seperti bioskop, club malam dan gym ditutup, semua tempat makan hanya menyediakan drive thru, delivery dan take out. Selain itu, perkumpulan atau acara yang melibatkan lebih dari 10 orang pun dilarang oleh pemerintah. Tempat hiburan seperti Disneyland dan Universal Studio juga ditutup hingga keadaan membaik.

"Berbagai konser pun ditunda, padahal saya sudah membeli tiket konser band favorit, terpaksa saya refund tiketnya. Bahkan, kini pantai dan hiking trail pun kena imbas penutupan," kata perempuan berusia 27 tahun itu.

Andini mengakui beberapa hari pertama sejak imbauan pemerintah setempat, keadaan cukup mencemaskan. Utamanya bagi mereka yang memiliki kecemasan tiba-tiba.