Senin, 13 April 2020

Pasien di Brunei Kembali Positif Corona Setelah 12 Hari Dinyatakan Sembuh

Brunei melaporkan tidak ada kasus baru pasien positif virus Corona COVID-19 pada hari Minggu (12/4/2020) kemarin. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Brunei melaporkan ada satu pasien yang dinyatakan kembali positif virus Corona setelah dipulangkan dari Pusat Isolasi Nasional.
Dikutip dari The Straits Times, pasien itu mengalami gejala kembali setelah 12 hari dinyatakan sembuh dari virus Corona.

Sehubungan dengan hal ini, Kemenkes Brunei mengimbau para pasien yang telah pulih dari virus Corona untuk mengisolasi diri selama 14 hari. Ini dilakukan untuk antisipasi bila pasien mengalami hal serupa dan nantinya akan dites kembali untuk mengetahui apakah masih ada virus atau tidak pada tubuh pasien.

Hingga kini Brunei telah melaporkan satu kematian akibat virus Corona dan sebanyak 29 pasien masih dirawat di Pusat Isolasi Nasional. Dua di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Kemenkes Brunei pun menambahkan bahwa 66 orang masih menjalani karantina dan 2.334 orang telah menyelesaikan karantina. Sebanyak 9.884 tes laboratorium untuk virus Corona telah dilakukan.

Apa Itu Reaktivasi Virus? Hal yang Kemungkinan Terjadi pada Pasien Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menginvestigasi laporan beberapa pasien Corona yang dinyatakan sembuh bisa kembali terdeteksi positif. Direktur Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), Jeong Eun-kyeong, mengatakan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah virus mengalami 'reaktivasi'.
"Karena COVID-19 ini penyakit baru, kami membutuhkan lebih banyak data epidemiologi untuk bisa mengambil kesimpulan terkait sifat penyebaran virus," ungkap WHO seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/3/2020).

Para peneliti dalam jurnal Future Virology 2011 mendeskripsikan reaktivasi sebagai proses saat virus yang 'tidur' menjadi aktif dan kembali berkembang di dalam tubuh. Hal ini yang biasanya mengakibatkan infeksi tampak bertahan lama.

"Infeksi virus bisa memiliki fase laten, yaitu saat virus diam tidak bereplikasi," tulis peneliti.

"Reaktivasi dapat dipicu oleh kombinasi rangsangan eksternal dan atau internal dari sel. Memahami mekanisme ini sangat penting dalam mengembangkan terapi untuk melawan virus dan penyakit-penyakit lainnya," lanjut peneliti.

Salah satu virus yang dikenal bisa mengalami reaktivasi adalah varicella-zoster. Virus ini bisa menyebabkan penyakit cacar air pada anak-anak dan penyakit cacar ular bila kembali aktif pada orang dewasa.

Benarkah Virus Corona Bisa Memicu Kerusakan Otak? Dokter Saraf Menjawabnya

Baru-baru ini sebuah studi di China mengungkap adanya kerusakan otak dan sistem saraf yang dialami pasien Corona di Wuhan. Dampaknya disebut bisa mengalami gangguan kesadaran hingga kejang.
Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr Mursyid Bustami, SpS (K) KIC MARS, membenarkan bahwa pasien Corona berisiko mengalami gangguan pada otak dan saraf. Hal ini disebut berkaitan dengan badai sitokin.

Menurutnya, virus Corona COVID-19 saat menyerang saluran pernapasan akan mendapatkan perlawanan dari reaksi imunitas tubuh. Namun reaksi imunitas tersebut bisa muncul secara berlebihan.

"Nah reaksi imunitas ini kadang-kadang berlebihan munculnya, jadi berlebihan produksi sitokin ini melawan kuman dari virus yang masuk ke dalam tubuh, tapi sitokin ini beraksi berlebihan seperti membabi buta yang disebut dengan badai sitokin," ujarnya saat dihubungi detikcom Senin (12/4/2020).

"Inilah yang jelek terhadap tubuh, nah salah satunya menyerang organ-organ penting di tubuh jadi bisa di jantung bisa di otak juga. Sehingga pada orang-orang dengan gejala virus Corona COVID-19 yang berat bisa jadi penurunan juga ke sana ya," lanjutnya.

Disebutnya, pasien Corona yang mengalami gangguan pada otak juga akan mengalami penurunan kemampuan fungsi otak.
"Kemampuan dari fungsi otak akan menurun misalkan penurunan kemampuan kesadaran. Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa COVID-19 sendiri juga ada berisiko timbulnya kejadian stroke, tapi ini butuh penelitian lebih dalam tentunya," tutupnya.

Deretan Pejabat yang Mengundurkan Diri saat Hadapi Pandemi Corona

Hadapi pandemi virus Corona COVID-19, korban yang terinfeksi semakin bertambah di seluruh dunia. Dilansir Worldometers, per Senin (13/4/2020) virus ini telah menjangkit 1.853.604 dengan 114.270 orang yang meninggal dan 427.801 orang yang dinyatakan sembuh.
Banyak pejabat dunia yang mengundurkan diri dengan alasan tidak bisa mengendalikan kasus yang terus bertambah di negara mereka. Berikut beberapa pejabat yang mengundurkan diri akibat virus Corona COVID-19 yang dirangkum detikcom dari berbagai sumber:

Menteri Kesehatan Belanda
Menteri Kesehatan Belanda, Bruno Bruins, mengundurkan diri dari jabatannya. Ia umumkan pengunduran dirinya pada Kamis (19/3/2020). Sehari sebelumnya ia mengalami kolaps akibat kelelahan bekerja memimpin penanganan virus Corona COVID-19. Pemerintah Belanda menunjuk Wakil Perdana Menteri Hugo De Jonge untuk sementara menggantikan tugas Bruno.

Menteri Kesehatan Rumania
Mengutip Bloomberg, Menteri Kesehatan Rumania Victor Costache, mengundurkan diri. Victor Costache akan digantikan oleh wakilnya Nelu Tataru. Saat ini Rumania berjuang menahan penyebaran virus Corona setelah ratusan dokter dan perawat dinyatakan positif di tengah kurangnya peralatan medis yang memadai.

Menteri Kesehatan Ekuador
Menteri Kesehatan Ekuador Catalina Andramuno, mengundurkan diri pada Sabtu (21/3/2020). Ia mengundurkan diri tepat setelah negara tersebut mengumumkan jumlah kasus virus Corona COVID-19 yang melonjak. Pemerintah telah menunjuk Juan Carlos Zevallos, seorang dokter sebagai pengganti Catalina, seperti dilansir Reuters.

Menteri Kesehatan Selandia Baru
Menteri Kesehatan Selandia Baru, Dr David Clark mengajukan pengunduran dirinya setelah melanggar aturan lockdown di negaranya dengan mengajak keluarganya ke pantai.

Perdana Menteri Jacinda Ardern menolak usulan mundur Clark selama pandemi Corona berlangsung. Ardern mengatakan akan memecatnya setelah pandemi Corona berakhir.

Menteri Dalam Negeri Turki
Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu, mengundurkan diri setelah kebijakan lockdown yang diumumkan tiba-tiba memicu kekacauan dan kepanikan warganya. Ia menilai dirinya bertanggung jawab atas kebijakan lockdown yang memicu kekacauan di negaranya.

Kepala Medis Skotlandia
Kepala Medis Skotlandia Catherine Calderwood mengundurkan diri pada Minggu (5/4/2020), setelah dia melanggar sendiri aturan #dirumahaja yang dibuatnya untuk mencegah penyebaran virus Corona.

"Dengan berat hati saya mengumumkan bahwa saya mengundurkan diri sebagai kepala petugas medis," ujar Catherine Calderwood seperti dikutip Asia One.

Pasien di Brunei Kembali Positif Corona Setelah 12 Hari Dinyatakan Sembuh

Brunei melaporkan tidak ada kasus baru pasien positif virus Corona COVID-19 pada hari Minggu (12/4/2020) kemarin. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Brunei melaporkan ada satu pasien yang dinyatakan kembali positif virus Corona setelah dipulangkan dari Pusat Isolasi Nasional.
Dikutip dari The Straits Times, pasien itu mengalami gejala kembali setelah 12 hari dinyatakan sembuh dari virus Corona.

Sehubungan dengan hal ini, Kemenkes Brunei mengimbau para pasien yang telah pulih dari virus Corona untuk mengisolasi diri selama 14 hari. Ini dilakukan untuk antisipasi bila pasien mengalami hal serupa dan nantinya akan dites kembali untuk mengetahui apakah masih ada virus atau tidak pada tubuh pasien.

Hingga kini Brunei telah melaporkan satu kematian akibat virus Corona dan sebanyak 29 pasien masih dirawat di Pusat Isolasi Nasional. Dua di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Kemenkes Brunei pun menambahkan bahwa 66 orang masih menjalani karantina dan 2.334 orang telah menyelesaikan karantina. Sebanyak 9.884 tes laboratorium untuk virus Corona telah dilakukan.