Senin, 13 April 2020

Apa Itu Reaktivasi Virus? Hal yang Kemungkinan Terjadi pada Pasien Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menginvestigasi laporan beberapa pasien Corona yang dinyatakan sembuh bisa kembali terdeteksi positif. Direktur Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), Jeong Eun-kyeong, mengatakan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah virus mengalami 'reaktivasi'.
"Karena COVID-19 ini penyakit baru, kami membutuhkan lebih banyak data epidemiologi untuk bisa mengambil kesimpulan terkait sifat penyebaran virus," ungkap WHO seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/3/2020).

Para peneliti dalam jurnal Future Virology 2011 mendeskripsikan reaktivasi sebagai proses saat virus yang 'tidur' menjadi aktif dan kembali berkembang di dalam tubuh. Hal ini yang biasanya mengakibatkan infeksi tampak bertahan lama.

"Infeksi virus bisa memiliki fase laten, yaitu saat virus diam tidak bereplikasi," tulis peneliti.

"Reaktivasi dapat dipicu oleh kombinasi rangsangan eksternal dan atau internal dari sel. Memahami mekanisme ini sangat penting dalam mengembangkan terapi untuk melawan virus dan penyakit-penyakit lainnya," lanjut peneliti.

Salah satu virus yang dikenal bisa mengalami reaktivasi adalah varicella-zoster. Virus ini bisa menyebabkan penyakit cacar air pada anak-anak dan penyakit cacar ular bila kembali aktif pada orang dewasa.

Benarkah Virus Corona Bisa Memicu Kerusakan Otak? Dokter Saraf Menjawabnya

Baru-baru ini sebuah studi di China mengungkap adanya kerusakan otak dan sistem saraf yang dialami pasien Corona di Wuhan. Dampaknya disebut bisa mengalami gangguan kesadaran hingga kejang.
Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr Mursyid Bustami, SpS (K) KIC MARS, membenarkan bahwa pasien Corona berisiko mengalami gangguan pada otak dan saraf. Hal ini disebut berkaitan dengan badai sitokin.

Menurutnya, virus Corona COVID-19 saat menyerang saluran pernapasan akan mendapatkan perlawanan dari reaksi imunitas tubuh. Namun reaksi imunitas tersebut bisa muncul secara berlebihan.

"Nah reaksi imunitas ini kadang-kadang berlebihan munculnya, jadi berlebihan produksi sitokin ini melawan kuman dari virus yang masuk ke dalam tubuh, tapi sitokin ini beraksi berlebihan seperti membabi buta yang disebut dengan badai sitokin," ujarnya saat dihubungi detikcom Senin (12/4/2020).

"Inilah yang jelek terhadap tubuh, nah salah satunya menyerang organ-organ penting di tubuh jadi bisa di jantung bisa di otak juga. Sehingga pada orang-orang dengan gejala virus Corona COVID-19 yang berat bisa jadi penurunan juga ke sana ya," lanjutnya.

Disebutnya, pasien Corona yang mengalami gangguan pada otak juga akan mengalami penurunan kemampuan fungsi otak.
"Kemampuan dari fungsi otak akan menurun misalkan penurunan kemampuan kesadaran. Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa COVID-19 sendiri juga ada berisiko timbulnya kejadian stroke, tapi ini butuh penelitian lebih dalam tentunya," tutupnya.

Daftar Wilayah yang Menerapkan PSBB dan Aturannya

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sudah menyetujui beberapa wilayah untuk menerapkan PSBB. Terbaru, Menkes sudah menandatangani surat pengajuan PSBB untuk wilayah Provinsi Banten dan Pekanbaru.
"Sudah (ditandatangani)," ujar Juru Bicara Pemerintah soal Penanganan Corona, dr Achmad Yurianto, saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2020)

Berikut daftar wilayah yang sudah menerapkan PSBB:
Provinsi Banten
Berlaku: Belum diketahui

Wilayah:
Kota Tangerang
Kabupaten Tangerang
Kota Tangerang Selatan

Provinsi DKI Jakarta
Berlaku: Jumat 10 April 2020
Seluruh wilayah DKI Jakarta

Provinsi Jawa Barat
Berlaku: Rabu 15 April 2020

Penerapan PSBB yang disamakan dengan PSBB di DKI Jakarta:
Wilayah:
Kota Depok
Kota Bogor
Kota Bekasi

Wilayah:
Bandung Raya
(Sedang diusulkan)

Wilayah:
Pekanbaru, Riau
Berlaku: Belum diketahui

Namun pemberlakuan PSBB di Jawa Barat dibedakan antara kota dengan kabupaten. Wilayah perkotaan akan diberlakukan PSBB maksimal, sedangkan di kabupaten memprioritaskan zona merah.

Zona merah di Kabupaten Bogor:
Parung Panjang
Ciseeng
Kemang
Ciampea
Ciomas
Cibinong
Bojonggede
Cileungsi
Gunungputri
Citeureup
Jonggol

Zona merah di Kabupaten Bekasi:
Cikarang Selatan
Tambun Selatan
Cikarang Pusat
Cikarang Utara
Cibitung
Cikarang Barat

Pasien di Brunei Kembali Positif Corona Setelah 12 Hari Dinyatakan Sembuh

Brunei melaporkan tidak ada kasus baru pasien positif virus Corona COVID-19 pada hari Minggu (12/4/2020) kemarin. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Brunei melaporkan ada satu pasien yang dinyatakan kembali positif virus Corona setelah dipulangkan dari Pusat Isolasi Nasional.
Dikutip dari The Straits Times, pasien itu mengalami gejala kembali setelah 12 hari dinyatakan sembuh dari virus Corona.

Sehubungan dengan hal ini, Kemenkes Brunei mengimbau para pasien yang telah pulih dari virus Corona untuk mengisolasi diri selama 14 hari. Ini dilakukan untuk antisipasi bila pasien mengalami hal serupa dan nantinya akan dites kembali untuk mengetahui apakah masih ada virus atau tidak pada tubuh pasien.

Hingga kini Brunei telah melaporkan satu kematian akibat virus Corona dan sebanyak 29 pasien masih dirawat di Pusat Isolasi Nasional. Dua di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Kemenkes Brunei pun menambahkan bahwa 66 orang masih menjalani karantina dan 2.334 orang telah menyelesaikan karantina. Sebanyak 9.884 tes laboratorium untuk virus Corona telah dilakukan.

Apa Itu Reaktivasi Virus? Hal yang Kemungkinan Terjadi pada Pasien Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menginvestigasi laporan beberapa pasien Corona yang dinyatakan sembuh bisa kembali terdeteksi positif. Direktur Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), Jeong Eun-kyeong, mengatakan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah virus mengalami 'reaktivasi'.
"Karena COVID-19 ini penyakit baru, kami membutuhkan lebih banyak data epidemiologi untuk bisa mengambil kesimpulan terkait sifat penyebaran virus," ungkap WHO seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/3/2020).

Para peneliti dalam jurnal Future Virology 2011 mendeskripsikan reaktivasi sebagai proses saat virus yang 'tidur' menjadi aktif dan kembali berkembang di dalam tubuh. Hal ini yang biasanya mengakibatkan infeksi tampak bertahan lama.

"Infeksi virus bisa memiliki fase laten, yaitu saat virus diam tidak bereplikasi," tulis peneliti.

"Reaktivasi dapat dipicu oleh kombinasi rangsangan eksternal dan atau internal dari sel. Memahami mekanisme ini sangat penting dalam mengembangkan terapi untuk melawan virus dan penyakit-penyakit lainnya," lanjut peneliti.

Salah satu virus yang dikenal bisa mengalami reaktivasi adalah varicella-zoster. Virus ini bisa menyebabkan penyakit cacar air pada anak-anak dan penyakit cacar ular bila kembali aktif pada orang dewasa.

Benarkah Virus Corona Bisa Memicu Kerusakan Otak? Dokter Saraf Menjawabnya

Baru-baru ini sebuah studi di China mengungkap adanya kerusakan otak dan sistem saraf yang dialami pasien Corona di Wuhan. Dampaknya disebut bisa mengalami gangguan kesadaran hingga kejang.
Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr Mursyid Bustami, SpS (K) KIC MARS, membenarkan bahwa pasien Corona berisiko mengalami gangguan pada otak dan saraf. Hal ini disebut berkaitan dengan badai sitokin.

Menurutnya, virus Corona COVID-19 saat menyerang saluran pernapasan akan mendapatkan perlawanan dari reaksi imunitas tubuh. Namun reaksi imunitas tersebut bisa muncul secara berlebihan.

"Nah reaksi imunitas ini kadang-kadang berlebihan munculnya, jadi berlebihan produksi sitokin ini melawan kuman dari virus yang masuk ke dalam tubuh, tapi sitokin ini beraksi berlebihan seperti membabi buta yang disebut dengan badai sitokin," ujarnya saat dihubungi detikcom Senin (12/4/2020).

"Inilah yang jelek terhadap tubuh, nah salah satunya menyerang organ-organ penting di tubuh jadi bisa di jantung bisa di otak juga. Sehingga pada orang-orang dengan gejala virus Corona COVID-19 yang berat bisa jadi penurunan juga ke sana ya," lanjutnya.

Disebutnya, pasien Corona yang mengalami gangguan pada otak juga akan mengalami penurunan kemampuan fungsi otak.
"Kemampuan dari fungsi otak akan menurun misalkan penurunan kemampuan kesadaran. Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa COVID-19 sendiri juga ada berisiko timbulnya kejadian stroke, tapi ini butuh penelitian lebih dalam tentunya," tutupnya.