Rabu, 15 April 2020

Sumbang 15 Miliar, Bos Google Bantu Keluarga Miskin Imbas Corona

 Google dilaporkan tengah mengumpulkan dana untuk diberikan kepada 5.000 keluarga miskin yang terdampak virus Corona tepatnya untuk di wilayah Teluk San Fransisco, Amerika serikat.

Dilansir detikINET dari CNBC pengumpulan ini memiliki target sebesar USD 5 juta atau sekitar Rp 78 miliar (USD 1 = Rp 15 ribuan), sang CEO Google Sundar Pichai pun menyumbang sebesar USD 1 juta atau sebesar Rp 15,6 miliar.

Selain Sundar Pichai, Google.org yang merupakan organisasi nirlaba juga turut menyumbang senilai USD 1 juta.

Setelah dana terkumpul maka akan diberikan kepada lembaga amal GiveDirectly yang ditunjuk Google untuk memberikan langsung terhadap keluarga miskin yang sudah terdaftar untuk dapat menerima bantuan langsung. Masing-masing keluarga akan mendapatkan uang USD 1 ribu.

Hingga Senin (13/4/2020) Google telah berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 2,45 juta. Untuk memenuhi target, Google pun mengajak seluruh karyawannya dan orang-orang untuk turut menyumbang.

Google mengatakan donasi ini tidak akan sepenuhnya diberikan untuk wilayah Teluk San Fransisco karena tempat yang sangat besar dengan memiliki 8 juta penduduk. Namun donasi ini akan lebih langsung diberikan kepada keluarga penduduk lokal yang benar-benar membutuhkan.

Luka di Kaki Dicurigai Jadi Gejala Lain Virus Corona

Makin banyaknya kasus virus Corona COVID-19 yang tak bergejala membuat pada ilmuwan tertantang untuk mengungkap hal baru tentang penyakit ini. Terbaru, COVID-19 dikaitkan dengan lesi atau luka di kaki.
Para ilmuwan di Spanyol baru-baru ini melaporkan temuan baru bahwa COVID-19 mungkin bisa dideteksi lebih dini dari luka di kaki. Luka yang dimaksud digambarkan mirip pada campak dan cacar air.

Perhimpunan podiatri atau ahli kesehatan kaki di negara tersebut melaporkan sejumlah kasus virus Corona dengan keluhan luka di kaki. Secara khusus ditemukan pada remaja dan anak-anak, tetapi beberapa orang dewasa juga mengalaminya.

"Luka ungu, sangat mirip campak dan cacar air, yang biasanya muncul di jari kaki dan normalnya sembuh tanpa berbekas," tulis para ahli dalam sebuah pernyataan, dikutip dari news.com.au.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah fererasi podologis internasional merilis kasus yang diyakini sebagai yang pertama. Luka ditemukan pada kaki seorang remaja pria 13 tahun pada 8 Maret. Awalnya disangka gigitan lama-lama, tapi belakangan dinyatakan terinfeksi virus Corona.

Tak Hanya Virus Corona, Ini Bahayanya Jika Malas Cuci Tangan

Mencuci tangan merupakan salah satu bentuk pencegahan dari virus Corona COVID-19 yang paling mudah dilakukan. Saat cuci tangan, sangat disarankan dengan menggunakan air yang mengalir dan sabun.
Meski terdengar sepele, kegiatan ini sangat bermanfaat tak hanya untuk mencegah COVID-19 saja. Kalau malas melakukannya, bisa-bisa berbagai macam penyakit akan menyerang tubuh kamu.

Dikutip dari Reader's Digest, berikut ini 4 hal yang bisa kamu alami jika masih malas mencuci tangan, selain terinfeksi COVID-19.

1. Gangguan pernapasan
Saat malas mencuci tangan, penyakit dengan mudah akan mendekat ke tubuh kita. Penyakit pernapasan, seperti flu hingga pneumonia bisa saja muncul dari kebiasaan buruk tersebut. Jika kamu mencuci tangan dengan baik, ternyata bisa mengurangi risiko pilek dan penyakit pernapasan lainnya hingga 21 persen.

2. Diare
Diare juga termasuk penyakit yang mudah menyerang jika malas mencuci tangan, terutama setelah buang air. Hal ini karena bakteri dan virus dari feses, seperti salmonella, norovirus, bahkan E.coli bisa menginfeksi menyebabkan diare.

3. Keracunan makanan
Mencuci tangan wajib dilakukan sebelum makan dan sesudah makan serta saat memasak. Jika tidak, tanpa disadari bahan mentah yang akan diolah seperti daging atau telur bisa saja mengandung bakteri.

Mencuci tangan sangat penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.

Bill Gates Beberkan Calon Vaksin Corona

 Salah satu pihak yang getol mengembangkan vaksin virus corona adalah Bill Gates, di mana dia mendanai berbagai perusahaan untuk menemukan obat COVID-19. Sang pendiri Microsoft pun membeberkan seperti apa kira-kira vaksin itu nantinya.
Dalam wawancara baru-baru ini Gates memprediksi perawatan terapi untuk penderita corona akan mulai tersedia dalam 6 bulan. Akan tetapi dibutuhkan waktu sedikitnya 18 bulan untuk mengembangkan vaksin aman dan efektif mencegah COVID-19.

"Ada pendekatan bernama vaksin RNA di mana pihak seperti Moderna, CureVac dan lainnya menggunakannya, yang pada tahun 2015 kami identifikasi sangat menjanjikan untuk pandemi ataupun aplikasi lainnya," cetusnya.

Moderna ataupun CureVac adalah nama perusahaan vaksin. Menyuntikkan 'messenger RNA' ke dalam jaringan manusia akan membuatnya tumbuh di dalam tubuh, sehingga akan memicu respons imun tanpa harus sepenuhnya menginfeksi seseorang dengan virus.

"Dan jika semuanya berjalan secara sempurna dengan pendekatan RNA, kita bisa mengalahkan waktu 18 bulan itu," lanjutnya. Dengan kata lain, tetap ada kemungkinan vaksin Corona sudah ada sebelum kurun waktu 1,5 tahun itu.

Namun demikian, Gates memperingatkan bahwa vaksin bukanlah solusi sempurna, tetap ada kelemahannya. Hal itu berlaku terutama bagi pasien yang berusia tua.

"Kami tidak ingin menciptakan harapan yang tidak realistis. Kemanjuran vaksin bagi orang lebih tua selalu merupakan tantangan besar," begitu papar dia, seperti dikutip detikINET dari CNBC.

"Vaksin flu saja tidak begitu efektif bagi orang tua. Kebanyakan manfaat datang dari orang-orang lebih muda yang tidak menyebarkannya karena mereka telah divaksin," tambahnya.

Sebelumnya, Gates menyatakan siap membangun pabrik untuk memproduksi vaksin Corona yang aman secara massal. Menurutnya, tidak akan efektif jika vaksin corona ditemukan tapi tidak tersedia secara luas.

Sumbang 15 Miliar, Bos Google Bantu Keluarga Miskin Imbas Corona

 Google dilaporkan tengah mengumpulkan dana untuk diberikan kepada 5.000 keluarga miskin yang terdampak virus Corona tepatnya untuk di wilayah Teluk San Fransisco, Amerika serikat.

Dilansir detikINET dari CNBC pengumpulan ini memiliki target sebesar USD 5 juta atau sekitar Rp 78 miliar (USD 1 = Rp 15 ribuan), sang CEO Google Sundar Pichai pun menyumbang sebesar USD 1 juta atau sebesar Rp 15,6 miliar.

Selain Sundar Pichai, Google.org yang merupakan organisasi nirlaba juga turut menyumbang senilai USD 1 juta.

Setelah dana terkumpul maka akan diberikan kepada lembaga amal GiveDirectly yang ditunjuk Google untuk memberikan langsung terhadap keluarga miskin yang sudah terdaftar untuk dapat menerima bantuan langsung. Masing-masing keluarga akan mendapatkan uang USD 1 ribu.

Hingga Senin (13/4/2020) Google telah berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 2,45 juta. Untuk memenuhi target, Google pun mengajak seluruh karyawannya dan orang-orang untuk turut menyumbang.

Google mengatakan donasi ini tidak akan sepenuhnya diberikan untuk wilayah Teluk San Fransisco karena tempat yang sangat besar dengan memiliki 8 juta penduduk. Namun donasi ini akan lebih langsung diberikan kepada keluarga penduduk lokal yang benar-benar membutuhkan.